Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #9

9.Pengorbanan Hamid

Yasir mengajak Zahra untuk memasuki perusahaannya tanpa rasa pamrih. Zahra menunjukkan senyumannya pada setiap orang yang bekerja di perusahaan tersebut di setiap langkahnya. Sikap ramah yang ditunjukkan oleh Zahra membuat Yasir semakin merasa bangga padanya. Ia juga semakin yakin bahwa menantunya itu dapat menjadi pemimpin perusahaan yang baik dan dapat disegani oleh semua karyawannya.

Yasir menunjukkan seluruh ruangan dalam perusahaannya tersebut. Selain itu, ia juga menjelaskan kepada menantunya itu tentang tugas-tugas yang harus ia laksanakan sebagai seorang pemimpin sebuah perusahaan. Setelah itu, tak lupa ia memperkenalkannya pada seluruh karyawannya.

Seluruh karyawannya terlihat sangat senang dengan kedatangan Zahra. Bahkan mereka dapat menerima Zahra dengan tangan terbuka untuk menjadi pemimpin mereka menggantikan Yasir. Walaupun Yasir tak mengenalkan Zahra sebagai menantunya. Namun hanya sebagian keponakannya dari saudara jauh.

Senyuman para karyawan yang ditujukan pada Zahra membuat Yasir merasa iri. Ia teringat pada masa mudanya yang cukup sulit membangun dan memimpin perusahaan. Namun, rasa bangga nampaknya tak pernah hilang dari dalam dirinya. Entah mengapa ia juga merasa sangat yakin bahwa Zahra akan memimpin perusahaannya dengan sangat baik seperti yang dipikirkan oleh para karyawannya.

“Ayah merasa sangat bangga padamu, Nak. Walau sebenarnya ayah merasa iri padamu karena semua karyawan ayah langsung dapat menerimamu sebagai pemimpin mereka. Tapi, entah mengapa ayah juga merasakan hal yang sama? Ayah merasa bahwa kamu dapat menjadi pemimpin yang lebih baik daripada ayah. Mungkin semua itu dikarenakan kepribadianmu yang penuh sopan santun juga prestasimu itu. Sudahlah, pokoknya ayah merasa sangat bangga karena dapat memiliki menantu sepertimu,” ucap Yasir pada Zahra.

Zahra tersenyum mendengar ucapan ayah mertuanya itu. Ia lalu menjawab, ”Terima kasih, Ayah. Tapi seharusnya Ayah tidak usah terlalu memujiku seperti itu. “

“Memangnya kenapa? Semua itu memang benar. Kalau tidak percaya kamu bisa menanyakannya pada setiap karyawan disini,” lanjut Yasir.

Sejak hari pertama memimpin perusahaan, Zahra telah menunjukkan bakat dan kemampuannya yang begitu membanggakan pada Yasir. Yasir pun semakin bersemangat untuk mengajari Zahra dengan materi lainnya. Dari hari ke hari, bakat dan kemampuan Zahra semakin nampak. Yasir pun semakin bangga padanya. Kini ia dapat menjalani masa tua dengan tenang setelah mendapatkan menantu dan pengganti dirinya di perusahaan seperti Zahra.

Sementara Zahra terus memfokuskan dirinya berlatih untuk menjadi pemimpin perusahaan, Hamid masih di rumah dan tak pergi kemana-mana .Walau ia telah mengorbankan seluruh uang tabungannya untuk memberi nafkah pada Zahra, namun pikirannya belum juga tenang. Ia terus termenung dalam kamarnya. Ia terus memikirkan tentang tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Hatinya tetap tidak tenang sebelum ia dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami kepada Zahra.

Setelah lama berpikir, akhirnya Hamid dapat menemukan sebuah solusi. Ia pun bergumam, ”Oh iya, aku kan masih mempunyai sepeda motor. Itu pun masih bagus. Pasti harganya masih mahal kalau dijual. Lagipula selama empat tahun ke depan pasti motor itu tidak terpakai. Jadi sayang jika dibiarkan begitu saja. Lebih baik aku jual. Hasilnya lumayan untuk kuberikan pada Kak Zahra.”

Zahra telah berusaha keras untuk dapat menerima setiap pelajaran dari Yasir. Apapun yang Yasir perintahkan untuknya selalu ia laksanakan dengan sangat baik. Hingga membuat Yasir merasa semakin bangga padanya. Segala usahanya untuk membuat Zahra agar dapat menjadi pemimpin perusahaan pengganti dirinya tidak sia-sia.

Setelah bekerja selama sehari penuh, tubuh Zahra nampak sangat lelah. Setiap tetes keringat yang menetes di tubuhnya menandakan bahwa ia harus mengistirahatkan tubuhnya. Yasir pun tak ingin memaksa menantunya itu untuk terus bekerja tanpa beristirahat. Dan malam pun telah semakin larut. Yasir mengajak Zahra untuk segera pulang.

Setelah sampai di rumah, Zahra menolak untuk menikmati makan malam yang telah tersaji di atas meja karena tubuhnya yang sudah sangat lelah. Yasir dan Mona sangat mengerti tentang keadaan Zahra. Namun mereka tetap memaksanya untuk mengisi perutnya terlebih dahulu demi kesehatannya. Dengan terpaksa, Zahra akhirnya memakan makanan tersebut bersama Yasir. Karena ingin segera beristirahat, makanan yang dimakan Zahra pun hanya sedikit. Setelah itu, ia langsung berpamitan pada Yasir dan Mona untuk pergi ke kamar. Mereka pun menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Mendengar pintu kamar yang terbuka, Hamid segera menghampirinya. Ia yakin bahwa yang membuka pintu adalah Zahra. Ia pun tiba tepat di depan mata Zahra. Melihat Hamid yang berada di depannya, membuat Zahra merasa ingin marah. Ia ingin sekali segera beristirahat, namun dihalangi oleh Hamid.

“Ada apa Hamid? Kenapa kamu menggangguku? Tolong jangan sekarang, ya! Aku merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Jadi, jangan menggangguku!” tanya Zahra heran.

Lihat selengkapnya