Malam telah semakin gelap dan nampaknya malam itu juga telah siap untuk berganti hari. Tubuh Zahra telah merasa sangat lelah. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor, ia ingin segera beristirahat. Ia harus mengumpulkan tenaga untuk kembali bekerja esok hari.
Rasa lelah yang teramat sangat telah terlihat dari raut wajah Zahra yang nampak sangat pucat. Wajah yang terlihat pucat pasi itu membuat Hamid merasa heran. Rasa khawatir dalam dirinya pun mulai muncul. Terlebih saat melihatnya yang seolah tak kuat lagi untuk berjalan.
“Ada apa denganmu, Kak? Wajah Kakak terlihat pucat sekali,” tanya Hamid.
“Aku tidak tahu, Hamid. Aku ingin langsung istirahat saja,” jawab Zahra dengan lirih.
“Sebentar Kak. Aku ingin membuat kakak menjadi ceria kembali. Sekarang, lihatlah di ponselku ini!” lanjut Hamid.
“Memangnya apa yang ada di ponselmu itu?”
“Lihat saja!”
Zahra mengalihkan pandangannya ke arah ponsel Hamid. Dalam sekejap ia melihat angka yang tertera dalam ponsel Hamid tersebut. Jumlah uang yang begitu banyak membuat ia bertanya-tanya tentangnya. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui apa yang ada di ponsel Hamid itu hingga rasa lelah di tubuhnya tak dirasanya lagi.
“Apa ini, Hamid? Kenapa uang tabunganmu bisa sebanyak ini? Padahal kamu sudah memberikan semuanya padaku kemarin. Lalu kenapa uangnya bisa bertambah banyak dalam waktu singkat?” tanya Zahra.
Hamid terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab, ”Aku melakukan semua ini untuk Kakak. Sebenarnya aku telah menjual sepeda motorku. Dan uangnya sudah ku tabung untuk menafkahi kakak selama empat tahun ke depan. Aku mohon Kakak terima ya."
“Apa? Kamu menjual sepeda motormu? Sepeda motor yang kamu gunakan untuk mengantarku tadi pagi?" tanya Zahra terkejut. Hamid hanya menganggukkan kepalanya. Zahra pun melanjutkan perkataannya, "Kenapa kamu melakukannya, Hamid? Seharusnya kamu tidak perlu melakukan hal sebesar itu,” tanya Zahra dengan mata terbelalak.
“Tidak apa-apa, Kak. Meski sebenarnya sepeda motor itu adalah hadiah ulang tahunku dari Ayah, dan aku baru menggunakannya beberapa kali saja, tapi aku ikhlas melakukannya demi Kakak. Lagipula sebentar lagi aku akan pergi ke Akademi Militer. Jadi selama itu aku tidak bisa menafkahi Kakak. Sepeda motorku juga tak akan terpakai selama aku belajar di sana. Jadi lebih baik aku menjualnya saja.