Zahra hanya diam karena tak mengerti tentang maksud Hamid yang melakukan hal seperti itu padanya. Hamid yang melihatnya masih berdiri, mengulangi perkataannya sehingga Zahra terkejut. Dengan segera ia melaksanakan apa yang menjadi perintah suaminya tersebut.
Setelah Zahra memasuki mobil, Hamid pun turut memasukinya. Segera setelah duduk di dalamnya, Hamid langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Zahra semakin heran dengan sikap yang Hamid tersebut. Ia pun langsung meminta suaminya itu untuk menurunkan kecepatannya. Namun Hamid tak menghiraukan perkataannya dan terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sama.
“Hamid, kamu ini kenapa? Kenapa kamu terlihat sangat marah? Hentikan mobilnya sekarang!” tanya Zahra.
Hamid langsung menghentikan mobilnya setelah mendengar perkataan Zahra. Setelah mobil berhenti, ia pun berkata, ”Bukannya aku marah, Mak. Tapi aku hanya sedih. Aku baru saja menikah. Dan usiaku masih sangat muda untuk melakukannya. Dan Kakak mengetahui hal itu. Dan sekarang apa? Aku dititipi oleh Allah seorang anak. Apa aku bisa melakukannya?
Kata- kata yang keluar dari mulut Hamid membuat hati Zahra bak tersayat sebuah pisau. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan mendengar kata-kata seperti itu dari mulut Hamid di hari yang seharusnya menjadi kebahagiaan baginya dan suaminya tersebut. Walau begitu, ia tak ingin membesarkan masalah tersebut. Ia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Hamid. Ia mencoba untuk tetap tegar dalam menanggapi perkataan suaminya itu.
Zahra mencoba menunjukkan senyumannya pada Hamid. Kemudian ia berkata, “Kamu pasti bisa melakukannya. Allah memberikan amanah ini karena kamu sudah melaksanakan amanah-Nya sebelum ini dengan sangat baik. Kamu sudah menjadi suami yang baik. Kamu rela melakukan segalanya untukku. Sekarang sudah waktunya kau menerima amanah selanjutnya. Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya. Aku yakin sekali.”
“Tapi, apakah itu benar? Aku merasa belum bisa untuk menerima semua ini,” tambah Hamid.
“Kalau Allah sudah memberikannya padamu, itu berarti kau sudah bisa melakukannya. Hanya saja kau tidak menyadari hal itu," lanjut Zahra.
Kata-kata Zahra benar-benar membuat Hamid tercengang. Ia terdiam sejenak dan memikirkan kebenaran dari ucapan istrinya tersebut. Setelah merasa bahwa apa yang diucapkan oleh Zahra adalah benar, ia pun menarik nafas panjang. Tangan kanannya mulai menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya.
Kemudian ia pun berkata, ”Baiklah. Aku akan mencoba untuk menerima semua ini. Aku akan mencoba melakukan yang terbaik untuk menjalankan amanah ini.”
Zahra tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Hamid. Kemudian Hamid memfokuskan dirinya untuk mengendarai mobilnya. Kemarahan dalam dirinya semakin lama semakin berkurang. Walau Hamid belum tersenyum lagi, namun berkurangnya amarah dalam diri Hamid telah terlihat dari raut wajahnya yang nampak lebih tenang. Melihat hal tersebut, Zahra pun merasa lega. Masalah yang sempat membuatnya merasakan kekhawatiran yang sangat kini telah selesai hanya dalam waktu singkat.
“Ya Allah... Dia memang seorang suami yang baik. Dia sangat memperhatikan tugas dan tanggung jawabnya. Terima kasih Ya Allah, karena Engkau telah menakdirkanku untuk menjadi bagian dari hidupnya. Mudahkanlah jalannya untuk mencapai segala impiannya. Dan bantulah ia agar ia bisa melewati segala rintangan dalam hidupnya dengan mudah,“ ucap Zahra dalaMona berdiri di depan pintu dengan penuh kecemasan. Ia tak pernah berhenti untuk memandangi gerbang. Hatinya sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui bagaimana kondisi Zahra. Mona terus menunggu hingga rasa khawatir dalam dirinya makin menjadi-jadi.
Tak lama kemudian, terlihat sebuah mobil yang tengah memasuki gerbang. Melihat mobil tersebut, Mona pun tersenyum. Orang yang ditunggu-tunggunya telah kembali ke rumah.
Setelah keluar dari mobil, Hamid dan Zahra segera menghampiri dan mencium tangan Mona. Melihat raut wajah Zahra yang pucat membuat Mona kembali cemas ketika dengan keadaan menantunya tersebut.
“Bagaimana Nak? Apa kata dokter? Zahra sakit apa?” tanya Mona.
Belum sempat Zahra menjawab pertanyaan dari Mona, Hamid langsung masuk ke dalam rumah begitu saja dengan memasang ekspresi kemarahannya. Melihat sikap aneh Hamid tersebut, Mona pun bertanya-tanya. Tapi Zahra yang telah mengerti perasaan Hamid membiarkan hal itu terjadi begitu saja.