Hamid terdiam sejenak. Pertanyaan dari Zahra membuat Hamid teringat akan masa kecilnya yang sungguh pahit. Tapi bagaimanapun juga, ia harus memberitahukannya pada Zahra. Ia tak ingin menutupi apapun dari sang istri.
Hamid menghela nafas pendek lalu berkata, “Waktu kecil aku sering sakit-sakitan. Jadi Ayah dan ibu melarangku untuk bermain di luar rumah. Sebenarnya aku merasa iri dengan mereka yang selalu bisa bermain dengan bebas. Hingga akhirnya Kak Sa’ad, putra sulung abi bercita-cita untuk menjadi seorang prajurit. Mendengar hal itu, aku pun ingin menjadi seornag prajurit juga. Kemudian aku berusaha keras untuk bisa melawan segala rasa sakitku. Aku diam-diam bermain dengan bebas bersama teman-temanku. Hingga membuat teman-temanku dan Bi Ningsih merasa khawatir setiap waktu. Tapi akhirnya aku bisa melakukannya. Hingga sekarang aku tidak sakit-sakitan lagi.”
Kepala Zahra tertunduk setelah mendengar kisah dari Hamid. Rasa bersalah muncul dalam hatinya yang paling dalam. Bukan sengaja ia meminta suaminya itu untuk menceritakan masa kecilnya yang menyedihkan.
“Maaf Hamid, pertanyaanku telah mengingatkanmu pada mas lalumu yang sangat pedih," ucap Zahra dengan kepala yang masih tertuduk.”
Hamid tersenyum lalu menjawab, "Tidak apa-apa. Aku juga ingin Kakak dekat dengan Abi dan keluarganya. Jangan menganggap mereka sebagai orang asing! Karena merekalah aku dapat menjadi seperti sekarang. Menjadi psnghafal Al-qur’an dan mempunyai cita-cita sebagai seorang prajurit. Aku tidak tahu bagaimana jika aku tidak menjadi bagian dari keluarga mereka. Mungkin aku bukan apa-apa.”
“Dan karena menjadi bagian dari keluarga mereka, aku dapat merasakan indahnya memiliki saudara yang tak pernah kudapatkan di rumah ini,” lanjut Hamid.
“Iya. Aku sangat mengerti betapa berharganya mereka dalam hiduDengan berjalan kaki, Hamid pergi ke rumah Ustadz Latif. Sambil berjalan, ia memperhatikan lingkungan sekitarnya. Betapa indahnya kotanya itu yang akan ia tinggal dalam waktu yang cukup lama. Walau hatinya sudah merasa tidak sabar untuk menempuh pendidikan di Akmil, namun ia sebenarnya merasa enggan meninggalkan tempat kelahirannya itu. Tempat dimana ia dilahirkan. Dan tempat dimana ia menghabiskan masa kecilnya yang penuh dengan keceriaan.
Pandangan mata Hamid tak pernah lepas dari alam sekitarnya. Hingga tak terasa ia telah berjalan cukup lama. Ia pun tak menyangka bahwa ia telah tiba di tempat tujuannya. Penjaga gerbang rumah itu langsung mempersilahkannya masuk ketika ia telah sampai disana.
Melihat kedatangan Hamid, Syarifah yang tengah bermain-main dengan Imran tersenyum gembira. Ia pun segera menghampirinya. Sedangkan Imran bergegas memasuki rumah untuk memanggil kedua orang tuanya.
Mengetahui bahwa Hamid tengah berkunjung ke rumahnya setelah sekian lama, hati Ustadz Latif yang terasa sepi kini menjadi bahagia kembali. Walau hanya tak berjumpa beberapa hari saja, Ustadz Latif merasa telah berpisah dengan murid kesayangannya itu selama bertahun-tahun. Kini setelah Hamid berada di rumahnya, kesedihan itu langsung pergi dari hatinya. Ia bersama sang istri segera menghampiri sang murid kesayangan yang sangat ia rindukan itu.
“Tumben Kak Hamid kemari. Ada apa?” tanya Syarifah.