Malam terasa panjang bagi Hamid yang tak sabar untuk berangkat ke tempat pendidikannya. Hingga penantian panjang itu pun berakhir. Pagi hari yang cerah telah tiba. Sang surya tengah memberinya semangat dan do’a melalui sinarnya yang menghangatkan tubuh.
Hamid telah siap dengan segala perlengkapan belajarnya. Ia juga telah siap untuk terbang kemudian mendarat di Akademi Militer yang telah lama ingin ia datangi itu. Seluruh anggota keluarga bersiap untuk melepas kepergiannya. Namun menjelang keberangkatannya, Hamid masih merasa sangat berat untuk meninggalkan keluarganya. Kakinya terasa berat untuk ia gerakkan. Ia terus berdiri di depan kedua orang tuanya dan terus memegang tangan ibunya.
“Kamu harus selalu semangat dalam belajar dan menggapai cita-citamu! Kamu juga harus selalu menjaga kesehatanmu! Kamu harus selalu mengingat nasihat ibu ini!” tutur Mona.
“Iya, Bu. Aku pasti akan mengingat semua nasihat ibu,” jawab Hamid lirih.
Hamid mulai melepas tangan sang ibu. Kemudian ia melangkahkan kaki ke samping kirinya untuk mendekati Zahra. Kepada sang istri, ia berkata, ”Kakak harus selalu menjaga kandungan Kakak! Setelah dia lahir nanti, didik dia dengan sebaik-baiknya. Dan jangan lupa ajarkan juga kepadanya tentang Al-qur’an! Wajibkan dia untuk menghafalnya juga! Karena aku sangat berharap bahwa putra kita nanti bisa menjadi penghafal Al-qur’an seperti kita.”
Kata-kata yang terucap dari mulut Hamid menembus hati Zahra hingga ke bagian terdalam. Air mata mulai menetes di pipinya. Zahra pun menjawab, ”Iya, kamu tenang saja. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untuknya. Kamu fokus saja pada belajarmu! Kejar cita-citamu itu!”
Hamid menganggukan kepalanya. Kemudian ia mencium tangan Mona dan Yasir. Tak lupa ia juga mencium tangan kedua mertuanya yang berdiri di samping Yasir. Lalu ia membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Kemudian melangkahkan kakinya untuk menghampiri pesawat yang telah menunggunya.
Belum sempat ia tiba di pesawat, Hamid kembali membalikkan tubuhnya. Kemudian ia berlari dan kembali pada keluarganya. Ia pun langsung memeluk Zahra dengan erat. Air mata kembali membasahi pipi Hamid. Zahra yang mendapat pelukan secara tiba-iba oleh Hamid merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Hamid padanya itu.
“Kakak, nanti siapa yang akan menasihatiku ketika aku berada dalam masalah?” tanya Hamid dalam pelukannya.
Zahra melepas pelukannya dari Hamid. Kemudian ia menjawab, “Kamu tidak usah khawatir! Allah selalu bersamamu. Dia yang akan memberimu bantuan dan petunjuk-petunjuk-Nya. Bukankah kamu seorang penghafal Al-qur’an? Ingatlah selalu pada firman-Nya. Itu adalah petunjuk dari Allah untuk seluruh umat manusia. Jangan pernah kamu lupakan itu!”
“Yang penting kamu fokus saja pada belajarmu! Kamu harus pulang dengan membawa kebanggaan," lanjut Zahra.
Salamah memalingkan wajahnya melihat apa yang sednag dilakukan Hamid. Ia pun bergumam, ”Apa yang sedang dia lakukan? Cengeng sekali! Menangis pada istri! Bagaimana dia akan menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang suami jika dia sendiri masih manja seperti itu?”