Hamid tak mengerti mengapa ia selalu tidak fokus dalam belajar. Padahal ia sudah berusaha untuk memfokuskan dirinya dan melupakan semua masalahnya di rumah. Tentang pernikahannya di usia muda. Juga segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Termasuk mempunyai seorang anak yang seharusnya belum dialaminya di usianya yang sangat muda. Akibat ketidakfokusannya itu, ia menjadi sering terkena hukuman dari sang pelatih. Dan di setiap malam, ia sering bermimpi buruk tentang pernikahannya di usia muda.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Minggu demi minggu juga telah berlalu. Berganti menjadi bulan. Dan bulan pun berganti menjadi tahun. Di setiap waktu yang terus berjalan, prestasi Hamid juga terus meningkat. Ia pun sudah bisa memfokuskan fikirannya dalam belajar. Hingga pada akhirnya, Hamid dapat lulus dari Akademi Angkatan Darat dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia menjadi salah satu siswa dengan nilai terbaik dalam angkatannya.
Hamid sangat bahagia karena hari ini ia dapat kembali ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Melihat wajah lembut mereka dan mendapatkan kembali kasih sayang dari keduanya. Malam sebelum hari kelulusannya tiba, ia telah membayangkan betapa bahagianya saat ia tiba di hadapan kedua orang tuanya dan memberi kabar gembira tentang kelulusannya.
Lapangan hari itu terasa sesak. Dipenuhi dengan orang-orang dari berbagai macam daerah. Seorang prajurit tampak tersenyum lebar setelah dapat kembali pada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya menggandeng tangannya untuk pulang. Kemudian seorang prajurit lainnya melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya.
Namun Hamid hanya dapat melihatnya. Matanya berjalan dari arah timur ke barat, utara ke selatan hanya untuk mencari keberadaan orang tuanya. Lama ia menunggu kehadiran mereka. Sementara sinar matahari sudah semakin memanas. Dan para prajurit lainnya pun sudah mulai tak terlihat karena telah kembali pada orang tua mereka masing-masing.
Hamid melirik jam tangannya. Dirinya mulai menyerah untuk menunggu. Nampaknya memang tak ada yang ingin menjemputnya. Entah karena usia orang tuanya yang sudah senja atau bagaimana. Ia tak tahu. Tubuhnya juga sudah basah dengan keringat. Maka kakinya yang sejak beberapa menit hanya terdiam saja, kini mulai merasa bosan. Kedua kakinya pun mulai bergerak untuk melepas rasa lelahnya.
Baru saja melangkah satu langkah, matanya menemukan Zahra yang tengah berjalan ke arah Hamid. Wajah murung Hamid kini telah pergi dan hanya tinggal senyuman di wajahnya. Hamid pun langsung berlari menghampiri Zahra. Kemudian memeluknya ostrinya itu dengan erat.
Setelah merasa cukup puas, Hamid melepas pelukannya tersebut dan berkata, ”Aku sudah sangat merindukan Kakak. Aku juga sangat merindukan Ibu dan Ayah."
"Oh ya, bagaimana kabar kalian?” lanjut Hamid.
Zahra terdiam. Sejenak ia menatap wajah Hamid dan menjawab dengan sedikit gugup, ”Iya, aku baik-baik saja. Kamu terlihat sangat gagah. Ayo kita pulang!”
“Tapi aku tidak melihat Ibu dan Ayah? Dimana mereka?” tanya Hamid lagi.
Zahra kembali terdiam mendengar pertanyaan drai Hamid. Ia pun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Sebaiknya kita pulang sekarang! Kamu tahu, sekarang Surya sudah tumbuh semakin besar.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab dulu pertanyaanku!” tegas Hamid.