Pandangan mata Zahra yang kosong, membuat Hamid menjadi semakin heran. Ia pun memanggil nama Zahra. Sontak Zahra langsung terbangun dari lamunannya setelah mendengar panggilan dari Hamid.
“Hmm ... Sebenarnya Hamid ....” ucap Zahra dengan penuh keraguan.
“Sebenarnya apa, Kak? Sepertinya Kakak menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan saja Kak, apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Ibu? Aku berhak untuk mengetahuinya karena aku adalah putra mereka," ucap Hamid dengan nada tinggi.
Zahra tertunduk mendengar ucapan Hamid. Dirinya sungguh tak ingin mengatakan hal yang begitu menyedihkan itu di saat yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk mereka. Terutama untuk Hamid yang baru saja lulus dari sekolah militernya.
Melihat raut wajah Zahra yang tertunduk dan hampir saja meneteskan air mata, rasa bersalah mulai menghampiri hati Hamid. Ia menghela nafas pendek lalu berkata dengan menurunkan nada bicaranya, ”Maaf Kak. Aku tidak bermaksud untuk membentak Kakak. Tapi aku hanya ingin mengetahui kabar tentang Ayah dan Ibu. Itu saja. Tidak ada maksud yang lain.
Zahra mulai mengangkat kepalanya dengan perlahan. Lalu ia menjawab, ”Sebenarnya Ibu dan Ayah sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Sebelum hari kelulusanmu tiba.”
Kedua belah mata Hamid terbelalak setelah mendengar jawaban dari Zahra. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian berkata, ”Apa? Meninggal? Kenapa mereka meninggal secepat itu? Dan kenapa aku tidak diberitahu sebelumnya?”
“Hamid, bukannya kami ingin merahasiakannya darimu. Tapi kami hanya ingin agar kamu ...."
Belum sempat Zahra menyelesaikan kata-katanya, Hamid bangkit dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan meja makan dengan penuh amarah. Hatinya sudah merasa sangat kecewa dengan sikap Zahra yang selama ini telah menyembunyikan kebenaran tersebut darinya. Mengetahui bahwa Hamid telah meninggalkan meja makan, Zahra segera bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah suaminya tersebut.
Setelah tiba di depan kamar, Hamid segera memasuki kamarnya tersebut. Kemudian ia menutup pintu dengan keras. Tanpa berfikir panjang lagi, Zahra membuka kembali pintu yang telah ditutup oleh suaminya tersebut. Lalu ia memasukinya dan menutupnya dengan rapat agar ia bisa berbicara dengan tenang dengan sang suami. Dan perbincangan di antara keduanya tak didengar oleh orang lain.
Zahra berjalan mendekati Hamid yang tengah duduk di atas ranjang menangis. Kemudian ia berkata dengan nada lembut, "Hamid, bukannya aku ingin menyembunyikan hal sebesar ini darimu. Tapi Ibu sendiri yang telah melarangku untuk memberitahumu sebelum kamu pulang. Mereka berharap dengan begitu, maka kau akan lebih fokus untuk belajar.”
“Tapi kenapa harus seperti itu caranya? Apa kalian harus menyembunyikannya dariku hanya untuk membuatku lulus dengan hasil yang memuaskan? Apa orang tuaku tidak penting sehingga aku harus mengorbankan mereka untuk menggapai cita-citaku?” jawab Hamid.
Zahra tak mampu berkata apa-apa untuk menjawab pertanyaan dari Hamid. Ia berdiri lalu berjalan mendekati sebuah meja yang berada di kamarnya itu. Kemudian ia membuka sebuah laci dan mengambil selembar kertas dari dalamnya. Ia pun langsung memberikan selembar kertas itu pada Hamid.