Hamid bangkit dari tempat duduknya. Kemudian ia berusaha berdiri dengan tubuhnya yang masih terasa lemas. Ia berjalan sambil terus memandangi makam kedua orang tuanya itu.
Hamid memarkirkan mobilnya di garasi setelah mengantar Zahra pulang. Kemudian ia mengganti pakaiannya dan bergegas pergi ke masjid. Sepanjang jalan, Hamid menyalami setiap orang yang ditemuinya. Kedatangannya kembali di tanah kelahirannya membawa kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat. Mereka seolah mendapatkan cahaya baru yang menggantikan cahaya yang telah hilang beberapa waktu terakhir.
Hadirnya Hamid membuat semua orang yang berada di masjid tak ingin ketinggalan untuk menyapanya. Satu persatu dari mereka bergantian untuk mengucapkan salam padanya. Yang perempuan merapatkan kedua tangannya sambil mengucapkan salam dengan lirih. Sementara yang laki-laki ada yang mengajaknya berbicara. Bahkan ada pula yang memeluknya untuk menunjukkan rasa rindunya pada Hamid.
“Hamid? Kamu sudah pulang, Nak?” tanya Ustadz Latif yang tiba-tiba datang.
Melihat Ustadz Latif berada di hadapan mereka, beberapa pemuda yang bersama Hamid dan merupakan murid-murid dari Ustadz Latif memohon izin untuk memasuki masjid. Mereka tak ingin mengganggu pembicaraannya dengan murid kesayangannya itu.
Hamid mencium tanga Ustadz Latif kemudian berkata, ”Alhamdulillah Abi, sekarang aku sudah lulus dan mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku mendapat nilai yang tinggi saat lulus.”
“MasyaAllah, memang murid kesayangan Abi ini sangat pantas untuk dibanggakan. Abi tahu bahwa kamu pasti bisa menggapai cita-citamu itu dan dapat membanggakan orang tua,” jawab Ustadz Latif dengan raut wajah bahagia.
Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ustadz Latif membuat duka di hati Hamid muncul kembali. Wajahnya pun tertunduk. Namun ia mencoba untuk tetap tersenyum di hadapan gurunya itu.
“Abi, besok aku akan pergi ke rumah Abi untuk melepaskan rasa rinduku pada Abi dan yang lainnya juga. Aku masih ingin bertilawah bersama Kak Imran,” ucap Hamid.
Ustadz Latif tersenyum kemudian menjawab, ”Iya, datanglah kapan saja yang kamu inginkan. Kami selalu menantikanmu untuk datang ke rumah kami. Kalau begitu, kita masuk sekarang saja.”
“Iya, Abi.”
Setelah mengerjakan sholat berjama’ah, Hamid memohon pamit pada Ustadz Latif untuk kembali ke rumah. Namun sebelum Hamid pulang, teman-teman sejawatnya yang masih merasa rindu padanya terus mendekatinya dan mengajaknya berbicara. Hamid pun memenuhi permintaan teman-temannya itu untuk berbicara sebentar hanya untuk melepas rindu.
Setibanya di rumah, suara merdu lantunan ayat suci Al-qur’an terdengar merdu di telinga Hamid. Hamid sudah bisa menebak siapa yang telah membacanya. Ia pun ingin bergabung dengannya untuk melanjutkan kebiasaannnya yang selalu membuka dan menutup hari dengan lantunan ayat suci Al-qur’an. Namun setelah tiba di tempat tujuannya, suara merdu yang didengarnya itu seketika berhenti. Seketika itu pula ia melihat Zahra yang tengah mengajari Surya untuk membaca Al-qur’an. Merasa kagum dengan apa yang dilakukan Zahra, Hamid segera duduk di sampingnya dan memperhatikan cara Zahra dalam mengajari putranya itu untuk membaca Al-qur’an.
“Hei Surya! Surya sedang mengaji? Coba Ayah lihat sampai dimana kau mengaji?” sapa Hamid.