Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #17

Siapa Wanita Itu?

Malam yang hari semakiṇ larut membuat semua orang tak kuasa untuk menahan kantuk. Namun keadaan seperti itu berbeda dengan Surya yang masih terjaga. Hamid membelai rambut putranya itu dan mencoba untuk menidurkannya dengan menyanyikannya sebuah lagu. Hingga akhirnya Surya dapat tertidur dalam pelukannya.

Sementara itu, Zahra masih terlihat sibuk merapikan tas Hamid. Ia mengeluarkan pakaian-pakaian kotor Hamid. Juga barang-barang lainnya untuk diletakkan sesuai tempatnya. Sesekali ia melihat ke arah Surya yang begitu dekat dengan sang ayah. Ia pun tersenyum bahagia melihat hubungan mereka yang terjalin baik dengan begitu cepatnya.

Tiba-tiba saja, Zahra menemukan sebuah benda yang tak dikenalnya berada dalam tas Hamid. Sebuah kotak kecil yang entah apa isinya benar-benar berada dalam tas tersebut. Zahra terus memandangi benda tersebut. Benda itu nampak tak asing lagi baginya. Namun yang menjadi pertanyaan sebenarnya adalah alasan mengapa Hamid menyimpan benda itu di dalam tasnya.

“Hamid, apa ini? Mengapa benda ini ada di dalam tasmu?” tanya Zahra sambil menunjukkan benda yang dipegangnya pada Hamid.

Hamid mengalihkan perhatiannya dan memperhatikan benda yang berada di tangan Zahra dengan seksama. Kemudian ia berjalan ke arah Zahra sambil berkata, ”Oh itu, aku sampai lupa. Kotak itu isinya gelang dan kalung emas untuk Kakak. Aku membelikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Kakak. Maafkan aku karena aku tidak memberikan hadiah ulang tahun untuk Kakak di tahun-tahun sebelumnya.”

Zahra tercengang. Dirinya sungguh tak menyangka jika Hamid akan melakukan hal seperti itu untuknya. Zahra kemudian membuka kotak yang dipegangnya itu. Matanya terbelalak melihat cahaya yang berkilau yang disebabkan oleh perhiasan-perhiasan yang ada di dalamnya. Ia terus memandanginya hingga beberapa saat. Setelah merasa puas memandangi perhiasan-perhiasan tersebut, ia kembali menutup kotak tersebut.

“Waahh.... Ini bagus sekali Hamid. Terima kasih banyak," ucap Zahra dengan senyuman indah di wajahnya.

"Tapi kenapa kamu selalu memberiku perhiasan? Mulai dari mahar pernikahan hingga hadiah ulang tahunku,” ucap Zahra.

“Kenapa? Apa Kakak tidak menyukainya? Aku tidak mengerti apapun tentang wanita. Jadi aku berikan perhiasan saja. Karena aku sering melihat para wanita yang selalu memprioritaskan penampilan mereka. Termasuk memperhatikan perhiasan yang mereka pakai. Tapi, kalau Kakak tidak menyukainya, tidak apa-apa. Apa yang kakak inginkan? Katakan saja padaku! Aku pasti akan memberikannya pada Kakak.”

“Tidak usah, Hamid. Ini semua sudah cukup. Sekali lagi terima kasih.”

Hamid dan Zahra saling memandang satu sama lain sambil terus memasang senyum di wajah mereka. Sesaat mereka melepaskan pandangan mereka. Hamid segera kembali menempatkan dirinya untuk beristirahat. Sementara Zahra masih harus melanjutkan pekerjaannya untuk merapikan barang-barang dalam tas Hamid.

Lihat selengkapnya