Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #18

Masa Muda yang Hilang

Hamid tertunduk mendengar pertanyaan dari Wisnu. Dalam hati kecilnya ia tak ingin mengatakan hal yang sebenarnya pada Wisnu. Namun ia juga tak tega untuk menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya yang sudah seperti saudaranya sendiri itu.

“Aku akan memberitahukanmu tentang wanita itu. Tapi kamu harus berjanji padaku untuk membantuku menutup rapat-rapat rahasia ini. Sebab jika rahasia ini terbongkar, maka karirku akan hancur,” jawab Hamid yang masih menundukkan kepalanya.

“Kenapa? Memangnya siapa dia? Kenapa harus menjadi rahasia?” tanya Wisnu heran.

“Dia adalah istriku. Dan jika kamu mendengar tangisan seorang anak di dapur itu, dia adalah putraku,” jawab Hamid yang kemudian memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.

Mata Wisnu terbuka lebar setelah mendengar jawaban dari Hamid. Jantungnya seolah telah ditembus oleh sebuah peluru sehingga kini tubuhnya sulit untuk digerakkan. Ia pun menjadi sulit untuk bernafas.

Kepala Wisnu menggeleng-geleng pelan. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Hamid. Ia pun berkata dengan mulut yang gemetar, “Apa? Kamu sudah mempunyai anak dan istri? Bagaimana mungkin? Kamu tidak melakukan hal yang terlarang, kan?”

“Kamu ini bicara apa? Kamu percaya padaku, kan? Ini cerita yang panjang dan cukup rumit. Aku akan menceritakannya lain kali saja. Sekarang, cukup tutup mulut saja! Jangan pernah katakan rahasia ini pada siapapun juga. Aku memberitahumu karena kamu adalah sahabatku dan sudah seperti saudaraku sendiri."

Wisnu kenggangguk pelan lalu menjawab, "Baiklah. Aku akan menjaga rahasiamu itu. Aku juga tidak mau karirmu hancur. Jika karirmu hancur, maka hidupmu juga akan hancur. Karena menjadi seorang prajurit adalah cita-citamu sejak kecil."

"Bagus. Sekarang katakan saja apa tujuanmu datang kemari!”

Tanpa sengaja, Zahra melewati ruang tamu dan mendengar seluruh perbincangan di antara yang terjadi Hamid dan Wisnu. Zahra menjadi iba dengan apa yang dialami oleh Hamid. Ia tak dapat membayangkan bagaimana sakitnya hati Hamid karena harus berkata jujur pada sahabatnya itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ia berada di posisi Hamid. Namun Hamid tampak tegar menghadapi masalah sebesar itu.

“Tadi malam aku bersama teman-teman yang lainnya merencanakan untuk mengadakan pertemuan di sebuah tempat. Untuk merayakan kelulusan kita sekaligus untuk menghabiskan waktu bersama. Tapi tadi malam kamu tidak bisa dihubungi. Jadi aku datang saja ke rumahmu," ucap Wisnu menjelaskan.

"Bagaimana, apa kamu mau ikut kami?” lanjut Wisnu.

Seketika raut wajah Hamid kembali ceria setelah mendengarkan pernyataan Wisnu. Ia pun menjawab, ”Tentu saja aku mau. Maaf, tadi malam memang ponselku kehabisan baterai dan aku belum mengisinya."

"Ya sudah, sekarang aku ingin bersiap-siap terlebih dahulu. Ku tunggu saja disini sambil menikmati makanan yang disajikan oleh Bi Ningsih,” lanjut Hamid yang lantas bangkit dari tempat duduknya.

Hamid bergegas mempersiapkan dirinya untuk pergi bersama Wisnu. Hatinya sudah merasa tak sabar lagi untuk bertemu dengan teman-temannya sewaktu masih menjalani pendidikan di Akademi Militer itu. Segera setelah Hamid siap untuk pergi, terlebih dahulu ia berpamitan pada Zahra. Tak lupa ia mencium kening Surya sebelum pergi.

Hamid dan Wisnu mulai berangkat ke tempat yang mereka tuju. Wisnu berjalan di depan untuk menunjukkan arah tentang lokasi yang sudah direncanakan olehnya dan teman-temannya semalam. Hamid mengikuti arah mobil Wisnu. Ia terus mengikuti setiap jalur yang diambil oleh sahabatnya itu. Jaraknya memang cukup jauh karena teman-teman Hamid berasal dari kota yang berbeda-beda. Akan tetapi, hal tersebut tak membuatnya merasa lelah. Justru itu menjadi kesenangan tersendiri bagi dirinya karena ia dapat menghirup udara segar setelah bebas dari kawah candradimuka yang telah menempanya menjadi seorang prajurit.

Lihat selengkapnya