Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #19

Akhiri Saja Hubunganmu dengan Zahra!

Hamid menggandeng tangan Wisnu. Kemudian ia mengajak sahabatnya itu untuk kembali kepada teman-teman mereka. Disana teman-teman mereka sudah menunggu apa yang ingin dikatakan olehnya. Mereka masih ingin meminta penjelasan padanya tentang maksud dari apa yang telah diucapkannya beberapa saat yang lalu. Terutama Kevin yang telah memaksanya secara halus untuk mengungkapkan siapakah wanita yang ia cintai.

“Teman-teman, kalian masih menungguku? Maaf, karena Si Wisnu yang memotong pembicaraanku. Sekarang aku ingin melanjutkan perkataanku tadi. Aku memang berpacaran sebelum menikah. Maksudnya, nanti kalau sudah waktunya menikah, aku memilih untuk dijodohkan saja. Setelah itu aku akan berpacaran dengan istriku itu,” ucap Hamid.

Pernyataan yang diucapkan dari mulut Hamid membuat Wisnu seolah tak percaya. Ia sungguh takjub dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Hamid akan menutupi rahasianya dengan cara seperti itu.

“Maklumlah dia kan anak alim.Kalian tahu sendiri kan kalau Hamid adalah seorang penghafal Al-qur’an? Jadi sangat tidak pantas jika dia melakukan hal seperti yang dilakukan Kevin,” sambung Wisnu.

“Oh iya, aku sampai lupa. Aku tidak tahu bagaimana rasanya melakukan hal semacam itu. Tapi intinya, aku percaya sekali jika istri Hamid nanti akan sangat betah berpacaran dengannya. Sekali dia melihat ketampanan wajah Hamid, maka ia tidak akan mau melepas pandangannya itu," ucap Kevin.

“Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang,” ajak Hamid.

Hamid dan teman-temannya saling merekatkan tubuh mereka. Kemudian mereka melepaskannya dan saling melambaikan tangan. Setelah itu mereka mencari jalan masing-masing untuk pulang. Hingga hanya menyisakan Hamid dan Wisnu saja.

Hamid dan Wisnu masih melambaikan tangan mereka pada teman-teman mereka yang telah menjalankan kendaraan mereka untuk pulang. Begitu pula mereka yang belum menurunkan tangan mereka sambil tersenyum pada kedua sahabat mereka yang masih berdiri di depan kafe tersebut. Setelah semua temannya telah jauh dari pandangan matanya, Hamid mengalihkan perhatiannya pada Wisnu. Kemudian ia memberikan sebuah senyumannya pada sahabatnya itu.

Hamid lalu berkata, ”Sekarang kamu mengerti kan apa yang kumaksud? Mana mungkin aku membongkar rahasiaku sendiri? Apakah masuk akal jika aku ingin menghancurkan masa depanku sendiri?”

Wisnu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia menjawab, "Iya Hamid. Maafkan aku. Aku sungguh bodoh telah berpikir seperti itu."

"Sekarang mari kita pulang! Karena aku sudah tahu dimana rumahmu, maka aku akan datang lagi ke rumahmu besok,” lanjutnya.

Lihat selengkapnya