Hamid tercengang mendengar dengan pernyataan kedua wanita yang berdiri di hadapannya. Belum sampai pemikiran seperti itu padanya.
"Tidak! Aku tidak akan menghakhiri hubunganku dengan Zahra. Pernikahan itu bukan sebuah permainan yang kapan saja bisa digentikan. Walaupun kedua orang tuaku sudah tiada, tapi hubunganku dengan Zahra masih belum berakhir. Dan tidak akan pernah berakhir," tegas Hamid.
"Tapi bukannya kamu tidak mencintainya? Kenapa kamu masih mempertahankannya?" sahut wanita itu lagi.
"Mungkin kalian berfikir kalau aku tidak mencintainya. Tidak apa-apa. Karena memang pernikahan kami tidak dibangun berdasarkan cinta. Tapi atas dasar perintah Tuhan Yang Maha Esa. Jadi hubungan kami tidak akan pernah berakhir sampai Tuhan Yang Maha Esa sendiri yang memerintahkannya," tegas Hamid lagi.
Kini berganti ketiga wanita tersebut yang dibuat tercengang dengan pernyataan Hamid. Salah seorang dari mereka pun berkata, "Tapi bagaimana dengan kebahagiaan hidupmu, Hamid?"
"Iya. Bagaimana dengan karirmu sebagai seorang prajurit yang sudah kau impikan sejak kecil itu?" sambung wanita lainnya.
"Perintah Tuhan tidak akan pernah membuat hamba-Nya menderita. Perintah Tuhan adalah jalan menuju kebahagiaan," tegas Hamid.
"Sudahlah, sebaiknya kalian pergi saja dari sini! Atau kalian mau dipercat sekarang juga?" lanjut Hamid.
Kata-kata yang terucap dari mulut Hamid membuat ketiga wanita tersebut merasa ketakutan. Ketiganya pun membalikkan tubuh mereka dan segera pergi meninggalkan Hamid. Ketiganya lari terbirit-birit. Mereka tak ingin mendapatkan akibat buruk yang akan Hamid berikan pada mereka karena kesalahan mereka itu. Maka setelah mereka menjauh dari hadapannya, Hamid pun bergegas untuk menghampiri Zahra yang tegah berdiri di bawah pohon di samping perusahaan. Nampak Zahra yang tengah menundukkan kepalanya karena telah mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut para karyawannya sendiri. Air mata mulai menetes di pipinya.