Kata-kata yang baru saja diucapkan Hamid membuat Zahra teringat akan apa yang baru saja terjadi di kantor. Masih terngiang di telinganya setiap kata yang diucapkan oleh masing-masing wanita dari ketiga wanita yang telah berbicara dengan Hamid masih ia saksikan perbincangan tersebut. Setiap kalimatnya masih diingatnya dengan jelas. Masih terasa sakit luka yang tercipta di dalam hati kecilnya karena kalimat-kalimat yang menyakitkan tersebut. Seperti sebuah paku yang apabila telah ditancapkan pada sebuah benda akan sulit untuk dicabut kembali. Dan apabila telah dicabut maka akan menyisakan sebuah lubang yang sulit untuk dihilangkan bekasnya.
"Hmm... Hamid, apa kamu serius dengan apa yang kamu katakan tadi? Atau kamu hanya berbohong pada mereka?" tanya Zahra dengan ragu-ragu.
Hamid menghentikan tangannya yang sedang menyuapkan es krim ke mulutnya. Lalu ia menelan es krim yang telah mendarat di mulutnya dan berkata, "Berbohong pada mereka? Maksudnya apa? Aku tidak mengerti sama sekali."
"Kamu berbohong pada ketiga karyawanku itu bahwa kamu akan tetap mempertahankan hubungan kita walaupun kedua orang tuamu sudah tiada. Karena memang kamu tidak mencintaiku. Ya kan?" ucap Zahra menjelaskan.
"Apa yang Kakak katakan? Kenapa Kakak malah membahas hal itu di saat kita sedang bersenang-senang seperti ini? Merusak suasana bahagia kita saja," jawab Hamid dengan nada acuh.
Hamid tak ingin menghiraukan apa yang telah menjadi pertanyaan Zahra untuk dirinya.
Ia kembali memakan es krim yang ada dalam genggamannya. Sikap Hamid yang tak segera menjawab pertanyaan darinya membuat Zahra harus mengulangi pertanyaannya, "Jawab dulu, Hamid! Kamu berbohong pada mereka, kan? Sebenarnya kamu ingin menceraikanku, kan? Berhubung kedua orang tuamu sudah meninggal."
"Kalau kamu mau menceraikanku, maka lakukan saja, Hamid! Jangan memaksakan hubungan kita! Aku siap menerima apapun yang kamu lakukan padaku. Asalkan itu demi kebahagiaanmu. Demi masa depanmu," lanjut Zahra.
Pernyataan yang keluar dari mulut Zahra membuat Hamid merasa tercengang. Ia tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut istrinya. Hamid pun kembali menghentikan kegiatan memakan es krim yang sebenarnya masih ingin dinikmatinya.
Hamid menghela nafas panjang. Kemudian ia menjawab dengan menaikkan nada bicaranya, "Kakak ini bicara apa sih? Kenapa Kakak harus membahas soal perceraian?"
"Memang hubungan kita tidak didasarkan atas cinta, kan? Jadi kenapa kita harus mengakhiri hubungan karena kita tidak saling mencintai? Biarkan saja hubungan kita terus berlanjut sampai akhir. Karena memang itu yang harus kita lakukan," lanjut Hamid.
Jawaban dari Hamid yang diucapkan dengan nada tinggi membuat hati Zahra bergetar. Walau begitu, ia tak akan pernah berhenti untuk membahas masalahnya tersebut. Ia pun berkata, "Tapi kamu tidak akan bahagia jika terus menjalin hubungan denganku, Hamid. Suatu saat nanti pasti ada yang mengetahui hubungan kita berdua. Dan karirmu pasti akan hancur. Aku tidak mau hal seperti itu terjadi padamu. Maka supaya hal itu tidak terjadi padamu, kamu harus segera menceraikanku. Karena memang hubungan kita ada karena permintaan kedua orang tuamu. Jadi jika mereka sudah tiada, hubungan kita seharusnya juga ikut tiada."
"Jadi Kakak terbujuk dengan apa yang diucapkan karyawan-karyawan Kakak itu?"
"Bukan begitu, Hamid. Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu saja. Aku tidak ingin kamu diberhentikan dari tugasmu. Aku tidak mau menghancurkan kehidupanmu yang sudah kamu impikan sejak kecil itu."
Hamid kembali menghela nafas panjang. Ia mencoba untuk bersabar dalam menanggapi semua yang diucapkan Zahra. Setelah hatinya merasa cukup tenang, ia pun berkata, "Kak, dengar ya. Memang hubungan kita dimulai karena keinginan dari kedua orang tuaku. Tapi bukan berarti hubungan kita harus berakhir karena kehidupan kedua orang tuaku telah berakhir. Pernikahan itu bukan sebuah permainan, Kak. Yang bisa kita akhiri kapanpun yang kita mau. Kita menikah atas perintah Tuhan. Karena Tuhan menakdirkan kita untuk menikah di waktu itu. Dan itu waktu yang tepat untuk kita. Jadi kita tidak bisa mengakhiri hubungan kita sampai Tuhan sendiri yang memerintahkannya."
"Tapi bagaimana dengan hatimu, Hamid? Aku takut jika suatu hari nanti semua orang mengetahui hubungan kita dan kamu akan diberhentikan dari tugasmu. Menjadi seorang prajurit adalah cita-citamu sejak kecil. Dan aku tidak mau menghancurkannya," tanya Zahra.Hamid memalingkan wajahnya dari Zahra. Sebenarnya ia juga merasa tak rela jika harus kehilangan karirnya. Karena seperti yang dikatakan oleh Zahra, menjadi seorang prajurit adalah impiannya sejak ia masih berusia belia. Tapi ia juga tak ingin menjadikan Zahra sebagai korban untuk menggapai impiannya. Terlebih dengan Surya yang masih sangat kecil. Jika ia dan Zahra berpisah maka kehidupan Zahra dan Surya akan hancur. Lebih hancur dari kehidupannya sendiri jika ia tetap mempertahankan hubungannya dengan Zahra.
Hamid kembali mengalihkan perhatiannya pada Zahra. Ia menatap Zahra dengan mata yang lembut. Kemudian ia berkata dengan nada yang lembut pula, "Kakak tidak perlu memikirkan karirku ya. Biarkan Tuhan saja yang mengaturnya! Yakinlah bahwa kehidupan kita akan baik-baik saja karena kita telah melaksanakan perintah-Nya."
"Aku juga tidak mau hidup Kakak menjadi hancur karena ingin memperjuangkan cita-citaku. Apalagi Surya yang tidka tahu apa-apa," lanjutnya.