Hamid memalingkan wajahnya dari Zahra. Sebenarnya ia juga merasa tak rela jika harus kehilangan karirnya. Karena seperti yang dikatakan oleh Zahra, menjadi seorang prajurit adalah impiannya sejak ia masih berusia belia. Tapi ia juga tak ingin menjadikan Zahra sebagai korban untuk menggapai impiannya. Terlebih dengan Surya yang masih sangat kecil. Jika ia dan Zahra berpisah maka kehidupan Zahra dan Surya akan hancur. Lebih hancur dari kehidupannya sendiri jika ia tetap mempertahankan hubungannya dengan Zahra.
Hamid kembali mengalihkan perhatiannya pada Zahra. Ia menatap Zahra dengan mata yang lembut. Kemudian ia berkata dengan nada yang lembut pula, "Kakak tidak perlu memikirkan kariku ya. Biarkan Tuhan saja yang mengaturnya! Yakinlah bahwa kehidupan kita akan baik-baik saja karena kita telah melaksankana perintah-Nya."
"Aku juga tidak mau hidup Kakak menjadi hancur karena ingin memperjuangkan cita-citqlaku. Apalagi Surya yang tidka tahu apa-apa," lanjunya.
Zahra terbungkam setelah mendengar kata Surya yang terucap dari mulut Hamid. Ia membenarkan apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Hati kecolnya mula merasa bersalah karena tak berfikir sejauh itu. Tak pernah terpikirkan olehnya jika Surya harus menjalani kehidupan sebagai anak yatim jika keduanya memang benar-benar berpisah. Atau mungkin Surya tak pernah mengenali siapa ayahnya karena dikorbankan untuk menggapai cita-cita sang ayah.
"Aku juga tidak mau kalau Surya harus menjalani kehidupan tanpa seorang ayah jika kita berpisah," keluh Zahra.
"Nah, makanya kita harus terus melanjutkan hubungan kita. Sekali lagi pernikahan itu bukanlah sebuah permainan. Jika kita mengakhiri hubungan kita sesuka hati kita, maka akan ada banyak korban di dalamnya," jawab Hamid
Zahra mengangguk lalu menanggapi perkataan Hamid dengan berkata, "Maafkan aku, Hamid. Aku telah berfikir salah."
Hamid tersenyum mendengar apa yang diucapkan Zahra. Ia pun menjawab, "Ya sudah, sekarang kita lanjutkan memakan es krimnya, ya. Lihat es kirimnya sudah meleleh karena kita terlalu lama berselisih."
"Iya Hamid."
Benar saja. Es krim yang digenggam oleh Hamid dan Zahra telah memcair hingga mengenai tangan keduanya. Hamid pun bergegas untuk menjilat es krim yang telah meleleh di tangannya tersebut. Sementara Zahra mengambil selembar tisu di depannya dan mengusapkannya pada tangannya yang terkena lelehan es krim tersebut.
Hamid kembali memakan es krim yang masih tersisa. Zahra meminta Hamid untuk segera menghabiskan es krim yang dipegangnya. Namun Hamid yang masih ingin menikmati waktunya dengan Zahra tak ingin menuruti perkataan istrinya tersebut. Ia lebih memilih untuk memakannya dengan perlahan supaya ia dapat lebih lama menikmati waktunya dengan sang istri.
Sikap Hamid tersebut membuat Zahra merasa kesal. Namun ia tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan hatinya membujukinya dengan kata-kata manis. Bahwa hal tersebut adalah kesempatan emas untuknya agar dapat menjalin hubungan dengan Hamid layaknya suami istri yang sesungguhnya. Maka ia pun tak dapat menolak bujukan tersebut.
Hamid mengulurkan tangannya yang sedang memegang es krim tepat di depan mulut Zahra. Zahra tak mengerti tentang apa yang dilakukan oleh Hamid tersebut. Hamid menganggukkan kepalanya sebagai sebuah isyarat pada Zahra. Zahra pun langsung mengerti apa yang diinginkan Hamid padanya. Ia pun membuka mulutnya dengan perlahan lalu menggigit es krim tersebut.