Surya terlihat bergembira berada di pangkuan Zahra. Ia nampak sangat lahap menelan makanan yang disuapkan ibunya kepadanya. Baru saja Zahra memasukkan nasi ke dalam sendok, mulut Surya sudah menghampirinya dan melahapnya dengan segera. Hal tersebut terus dilakukan Surya hingga beberapa kali. Zahra tertawa melihat tingkah laku putranya tersebut.
Melihat Surya yang memakan makanannya dengan sangat lahap, Zahra tersenyum bahagia. Terlebih dengan tubuhnya yang tak banyak bergerak seperti hari biasanya. Semakin membuat Zahra merasa senang karena dapat menyuapi putranya itu dengan mudahnya.
Di tengah kebahagiaannya itu, rasa khawatir rasa menghampiri dirinya. Rasa khawatir terhadap Hamid yang tak kunjung pulang. Adzan ashar telah lama berlalu. Tapi Hamid belum tiba di rumah. Ia tak tahu alasanapa yang membuat sang suami belum juga kembali. Ia sungguh mengkhawatirkannya jika suaminya itu terlambat untuk pulang.
Tangan Zahra tak pernah berhenti menyuapi Surya. Tak pernah berhenti pula dirinya menolehkan wajahnya pada pintu setelah makanan tersebut masuk ke dalam mulut Surya. Menunggu kepulangan Hamid. Tak lama setelah dirinya menolehkan wajahnya pintu, Hamid berjalan memasuki rumah. Hamid berjalan dengan cara yang sedikit berbeda. Tanpa mengeluarkan kata yang diutarakan pada Zahra, ia langsung menyandarkan tubuhnya di atas sofa.
Rasa khawatir dalam Zahra hati Zahra semakin besar ketika melihat keadaan kaki Hamid nampak terluka. Terlihat dari celana bagian bawahnya yang warnanya telah bercampur dengan darah. Ia pun mendudukkan Surya di atas sofa dan menghampiri Hamid yang duduk di sofa yang di samingnya.
“Hamid, kamu kenapa? Kenapa kamu berjalan dengan cara seperti itu?” tanya Zahra.
“Tidak apa-apa. Aku hanya jatuh dari sepeda motor saja. Itu bukan masalah yang besar,“ jawab Hamid.
“Apa?" ucap Zahra terkejut.
"Kamu ini! Pasti kamu kurang berhati-hati. Kamu selalu saja berkendara dengan kecepatan tinggi. Itu kan berbahaya. Sekarang kamu jaga Surya. Aku akan mengambilkan obat untukmu," lanjut Zahra.
Zahra meletakkan piring yang berada dalam genggamannya di atas meja. Kemudian ia beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kotak P3K dan yang akan ia pergunakan untuk mengobati kaki Hamid yang terluka. Sementara itu,Surya yang duduk di dekat Hamid meletakkan tangan di atas tangan Hamid. Kemudian ia menatap wajah Hamid dengan mata lembutnya.
“Ayah, makan!” pinta Surya dengan nada manja.