Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #24

Kebencian Salamah pada Hamid

Rahman menyambut kedatangan Hamid dan Zahra dengan penuh kehangatan. Hamid dan Zahra pun mencium tangan Ustadz Rahman dan Ustadzah Salamah. Ustadz Rahman lalu memeluk Hamid sebagai ungkapan rasa rindu terhadap menantunya yang baru bisa menjenguknya setelah sekian lama. Kemudian Hamid memberikan sebuah bingkisan untuk kedua mertuanya tersebut.

Namun berbeda dengan Ustadzah Salamah. Ketika ia mengarahkan pandangannya pada Hamid, kedua belah matanya nampak memerah. Rasa benci nampak sangat jelas dari kedua matanya. Kebencian yang sudah tertanam sejak awal Hamid menjadi menantunya. Ketika Hamid mencium tangannya, ia langsung menarik tangannya begitu saja. Melihat hal tersebut, Hamid mencoba untuk tidak menahanemoinya dalam dirinya. Ia berusaha untuk tetap tersenyum walau mendapatkan perlakuan yang tak menyenangkan dari ibu mertuanya itu.

”Subhanallah ... Ummi senang sekali kalian datang kemari. Sini, biar Ummi yang menggendong Surya,” ucap Ustadzah Salamah sambil tersenyum kepada Zahra.

“Abi juga senang sekali. Kalian juga membawa hadiah pula untuk kami. Seharusnya kalian tidak perlu melakukannya,” sambung Ustadz Rahman.

“Ah, tidak apa-apa Abi. Itu hanya sebuah hadiah kecil saja,” jawab Hamid.

Setelah menerima Surya dan meletakkannya dalam pelukannya, Ustadzah Salamah mencium kedua pipi cucunya tersebut. Kemudian ia duduk di sebuah sofa di belakangnya dan membuka bingkisan dari Hamid. Senyumannya langsung terhapuskan dengan melihat isi bingkisan tersebut. Ia langsung menyingkirkan hadiah tersebut dari pandangan matanya.

Ustadzah Salamah berkata dengan nada marah, “Apa-apaan semua ini? Mukena yang buruk? Kamu sengaja ya menghina kami?Ini sangat buruk. Ummi tidak suka!”

Hati Hamid bak tersayat belati saat mendengar ucapan dari sang ibu mertua. Walau begitu, ia tetap berusaha untuk tetap tenang. Ia pun menjawab, ”Maaf Ummi, lain kali saya akan membawakan mukena yang lebih indah lagi. Sekali lagi, maafkan saya.”

“Eh, sudah Ummi jangan bicara seperti itu! Seburuk apapun mukena itu, itu tetap hadiah dari anak-anak kita yang diberikan dengan sepenuh hati pada kita. Jangan pernah membuat hati mereka kecewa dengan menghinanya!” tutur Ustadz Rahman.

“Sekarang kalian duduk. Akan pebih nyaman jika berbicara sambil duduk,” lanjut Rahman.

Hamid mulai menempatkan dirinya di sebuah sofa di samping Ustadzah Salamah. Melihat sang ayah telah duduk, Surya berusaha untuk melepaskan dirinya dari pangkuan Ustadzah Salamah. Kemudian ia berjalan ke arah Hamid dan berdiri di sampingnya sambil menempelkan tangannya pada paha sang ayah. Salamah ingin mengambil Surya kembali, namun Ustadz Rahman memintanya untuk membiarkannya bermain di dekat Hamid.

Merasa tak nyaman karena Hamid berada di dekatnya, Ustadzah Salamah segera bangkit dari tempat duduknya. Kemudian ia memberi isyarat pada Zahra untuk ikut bersamanya. Zahra mengangguk dan segera mengikuti langkah sang ibu.

Setelah Ustadzah Salamah dan Zahra meninggalkan ruang tamu, Ustadz Rahman memulai perbincangannya dengan Hamid. Selain berbicara dengan santai dengannya, Ustadz Rahman menasihati Hamid tentang bagaimana menjadi seorang kepala keluarga yang sesungguhnya. Panjang lebar ia berbicara tentang tugas dan tanggung jawab seorang kepala keluarga pada memantunya tersebut.

Lihat selengkapnya