Setelah melanjutkan perbincangannya dengan Ustadz Rahman beberapa saat, Hamid kembali ke kamar Zahra. Sementara Ustadz Rahman bergegas ke kamarnya dan mempersiapkan diri untuk beribadah.
Suara pintu yang terbuka membuat tubuh Surya yang telah terbaring di atas tempat tidur bergerak-gerak dan hampir saja membuka matanya. Mengetahui hal tersebut, Zahra menolehkan wajahnya ke arah pintu. Lalu ia memberi isyarat pada Hamid yang akan memasuki kamar untuk melangkah dengan hati-hati dan tak menimbulkan suara saat memasuki kamar. Hamid mengangguk. Kemudian ia menggerakkan kakinya dengan sangat hati-hati sehingga tak dapat menimbulkan suara sedikitpun. Setelah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki kecil-kecil, tangannya yang masih memegang gagang pintu segera menutupnya dengan sangat pelan.
Saat melihat Surya yang telah tertidur lelap, senyumannya pun mulai mengembang. Ia pun berjalan mendekati Zahra yang masih duduk di samping Surya. Kemudian ia duduk tepat di depannya sambil menampakkan senyuman manisnya.
“Hei Surya sudah tidur? Berarti ini adalah kesempatan kita, Kak,” ucap Hamid mengawali pembicaraan.
“Kesempatan? Kesempatan apa?” tanya Zahra tak mengerti.
“Kakak masih belum mengerti juga? Ini adalah kesempatan kita untuk melanjutkan apa yang kita lakukan tadi siang,” lanjut Hamid
Zahra menggelengkan kepala sambil tersenyum. Kemudian ia berkata, ”Ternyata kamu masih belum puas juga Hamid. Besok saja ya. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Selain itu, siapa yang akan menjaga Surya?”
“Kan ada Ummi dan Abi. Kita minta tolong saja pada mereka. Sekali saja Kak. Aku mohon!" pinta Hamid sambil melipat kedua tangannya.
Zahra kembali menggelengkan kepalanya mendengar permintaan dari Hamid. Sebuah senyuman tergores di wajahnya. Senyum Hamid semakin melebar setelah melihat senyuman di wajah Zahra. Ia dapat mengetahui jawaban dari istrinya itu tanpa mendengar sebuah katapun yang keluar dari mulutnya.
Hamid mengepalkan kedua tangannya lalu menaikkannya ke atas. Kemudian ia menurunkan tangannya sambil berseru, ”Yess!!! Akhirnya. Aku yakin ini akan lebih menyenangkan.”
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Hamid langsung meraih tangan Zahra. Kemudian ia berdiri sambil menarik tangan istrinya tersebut. Lalu ia mulai berjalan dan mengajaknya untuk segera meminta izin pada kedua orang tuanya. Melihat Hamid yang telah menarik tangannya, Zahra segera bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah suaminya tersebut. Setelah Zahra berjalan di belakangnya, Hamid mempercepat langkahnya sambil terus menggenggam tangan Zahra.