Baru saja langkahnya tiba di depan kamar, adzan magrib berkumandang. Zahra bergegas masuk ke dalam kamarnya tersebut untuk melihat keadaan Surya. Hatinya bertanya-tanya, apakah putranya itu masih tertidur pulas atau sudah membuka matanya?
Sementara Zahra masuk ke dalam kamar, Hamid pergi ke masjid untuk mengikuti salat maghrib berjama’ah. Setelah Zahra tiba di kamarnya, ia melihat Surya yang telah bangun dari tidurnya berada dalam gendongan sang asisten rumah tangga ibunya. Yang mana pembantu tersebut memang telah mengetahui tentang hubungannya dengan Hamid melalui ibunya yang sejak dulu tak mau bekerja sama untuk menjaga rahasianya.
Zahra sudah tak mempermasalahkan lagi tentang rahasianya yang telah diketahui oleh seorang asisten rumah tangganya. Karena pertolongan dari ayahnya, mulut ibunya hanya dapat membuka rahasia itu pada seorang asisten rumah tangganya saja. Sementara pada penghuni pesantren yang lain utamanya para santri, mereka seolah tak memerdulikan tentang kehidupannya dikarenakan kesibukan mereka dalam belajar. Sedang yang merasa penasaran dengan kehidupannya merasa kebingungan karena ayahnya itu selalu menyangkal perkataan sang ibu ketika mengetahui bahwa sang ibu sedang membocorkan rahasianya kepada para santri. Akhirnya para santri tersebut tak lagi memerdulikan hal tersebut dan lebih memilih untuk fokus pada belajar mereka.
Setelah mengetahui bahwa Surya tengah bersama dengan pembantunya, hati Zahra menjadi tenang. Ia pun mendekati pembantu tersebut dan menitipkan putranya itu padanya. Setelah menitipkan putranya pada asisten rumah tangga ibunya itu, ia pun mengambil mukena dan menyusul Hamid ke masjid.
Zahra mempercepat langkahnya agar dapat tiba di masjid dengan cepat karena saat itu adzan telah selesai dikumandangkan. Setelah tiba di masjid, Zahra dikejutkan dengan suara amarah seseorang. Yang mana suara yang menggelegar bak petir menyambar itu sudah tak asing lagi bagi Zahra. Dan benar saja apa yang dikatakan hatinya. Di depan tempat wudhu, Ustadzah Salamah tengah berdiri dengan Hamid berada di hadapannya. Ibunya itu mengeluarkan suaranya yang keras dan kata-kata yang kasar untuk ditujukan pada Hamid. Sementara Hamid tak berkata apa-apa. Suaminya itu hanya dapat diam dengan kepala yang tertunduk dalam.
“Kamu itu sebagai seorang suami seharusnya mengajari istrinya untuk disiplin. Bukankah saya telah mengatakan kepadamu bahwa maghrib akan tiba? Tapi kamu tetap saja tidak mau mendengarkannya. Kamu tetap bersikeras untuk pergi bersama Zahra. Sekarang kamu melihat sendiri kan? Kamu dan Zahra hampir saja terlambat untuk melaksanakan sholat berjama’ah,” ucap Ustadzah Salamah dengan nada tinggi.
“Maaf Ummi. Ini semua memang salahku. Aku terlalu bernafsu untuk pergi bersama Kak Zahra. Sekali lagi maafkan aku, Ummi,” jawab Hamid dengan wajah yang masih tertunduk.
Ustadz Rahman yang baru saja selesai mengambil air wudhu tak kuasa menyaksikan Hamid yang tak pernah berhenti mendapat amarah dari Ustadzah Salamah. Ia pun bergegas untuk menghampiri istrinya itu. Setelah tiba di dekat sang istri, Ustad Rahman berkata, “Sudahlah Ummi! Malu dengan para santri! Sebaiknya kita masuk sekarang juga. Nanti rahasia kita jadi terbongkar."
"Biarkan saja terbongkar! Memang hubungan mereka tak seharusnya dirahasiakan."
Ustadz Rahman tak ingin melanjutkan percakapannya dengan Ustazah Salamah. Ia takut jika melanjutkannya, rahasia yang mereka jaga selama ini benar-benar akan terbongkar. Maka ia pun menggandeng tangan Hamid dan membawanya ke dalam masjid. Hamid memohon izin pada Salamah untuk masuk ke dalam masjid terlebih dahulu. Dengan raut wajah yang masih merah padam, Salamah terpaksa membiarkannya memasuki masjid bersama suaminya.
“Dibela terus. Menantu sepeti itu kok disayang-sayang. Seharusnya biarkan saja aku memarahinya terus. Sampai dia benar-benar kapok. Supaya semua santri mendengarnya dan menjadi contoh bagi mereka,” gumam Salamah.