Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #27

Hamid di Dunia Militer

Hamid memantapkan hatinya untuk memulai melaksanakan tugas pertamanya. Hatinya tak pernah berhenti untuk mengucapkan do'a-do'a terbaik agar ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan kembali dengan selamat. Cita-cita yang telah ditanamkannya sejak kecil menjadi penyemangatnya dalam berjuang. Rasa optimis dan keberanian selalu mendampinginya. Kini ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Tuhan padanya untuk menjalankan kehidupan seperti yang diinginkannya.


Dengan segala prestasi yang telah dibawanya dari Akademi Militer, Hamid dapat membuktikan bahwa dirinya memang mampu menggapai cita-cita sebagai seorang prajurit. Bahkan lebih dari yang ia bayangkan. Ia dapat melaksanakan tugas pertamanya dengan sangat baik. Tugas-tugas berikutnya juga dilaksanakannya dengan sangat baik pula. Hingga ia dapat meraih kenaikan pangkat dengan sangat cepat. Dirinya juga menjadi kebanggaan oleh para seniornya. Selain itu, ia juga sangat disegani di kesatuannya. Walau begitu, ia tetap berusaha untuk menjadi dekat dengan para pasukannya dan tidak bersikap sombong atas apa yang telah ia raih selama ini.


“Waah!!! Anda hebat sekali, Kapten! Saya sangat iri pada anda karena pangkat saya jauh lebih rendah dari yang anda miliki,” ucap Wisnu bernada menggoda.

“Ah, kamu ini. Aku sudah sering mengatakan padamu kan, jangan memanggilku dengan sebutan kapten di luar tugas! Panggil saja aku dengan nama! Di luar tugas kita ini adalah sahabat. Seperti dulu. Dan itu tidak akan pernah berubah,” jawab Hamid sambil tersenyum.

“Tapi, itu terdengar tidak sopan. Aku akan tetap memanggilmu seperti itu,” jawab Wisnu.

“Kalau begitu, terserah kamu saja! Tapi yang harus kamu ingat adalah kita akan tetap menjadi sahabat. Selamanya,” lanjut Hamid.

Hamid memeluk Wisnu dengan erat. Mereka pun bersama-sama duduk di depan maraks mereka tersebut. Selanjutnya, mereka pun melanjutkan perbincangan mereka. Cukup lama mereka berbicang. Semakin lama perbincangan di antara keduanya semakin menarik saja. Banyak hal yang mereka bicarakan. Tapi dari semua yang mereka perbincangkan itu, nampaknya mereka lebih senang membicarakan tentang karir mereka. Sehingga dunia militer memenuhi isi perbincangan keduanya.

Dalam perbincangan mereka, Hamid banyak mengingat kebersamaannya bersama Wisnu saat menjalani pendidikan di Akademi Militer. Sementara sahabatnya itu, malah membangga-banggakan prestasi yang dimilikinya. Hingga ia lupa untuk membicarakan tentang dirinya sendiri.

"Ah, kamu ini. Kenapa kamu hanya membicarakan tentang diriku saja? Kenapa kamu tidak pernah membicarakan dirimu sendiri?" ucap Hamid dengan heran.

Lihat selengkapnya