Setelah menunggu cukup lama, waktu itu telah tiba. Waktu untuk untuk menjemput Surya dari sekolah telah tiba. Hamid segera mengambil mobilnya. Kemudian ia pergi untuk menjemput putranya itu dari sekolah. Hatinya semakin tak sabar untuk bertemu kembali dengan putranya tersebut.
Setelah tiba di sebuah sekolah dasar tempat dimana Surya belajar, Hamid langsung turun dari mobilnya. Pandangan matanya mulai melihat tertuju ke segala arah. Satu persatu murid telah ia perhatikan. Namun ia belum menemukan keberadaan Surya. Ia mencoba untuk memperhatikannya sekali lagi. Tak berselang lama, senyumannya pun mengembang. Ia telah menemukan putranya yang tengah berdiri di bawah pohon menunggu seseorang menjemputnya.
“Selamat siang, Pangeranku! Saya sudah berada di depan Pangeran untuk menjemput Pangeran pulang. Ayo, silahkan pangeran menaiki kereta anda!” ucap Hamid sambil sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Surya.
Mendengar sebuah suara berada di dekatnya, Surya mulai mengangkat wajahnya dengan perlahan. Sungguh terkejutnya ia ketika melihat orang yang berdiri di sampingnya adalah Hamid.
“Ayah! Ini Ayah, kan? Aku tidak salah melihatnya, kan?” seru Surya.
Hamid membenarkan posisi berdirinya. Lalu ia menjawab, “Iya, Nak. Ini Ayah. Ayah sudah datang untukmu. Mari kita pulang sekarang!"
Setelah Hamid menyelesaikan kata-katanya, Surya langsung memeluk tubuh Hamid dengan erat. Begitu Surya memeluk tubuhnya, Hamid menggendong putranya itu. Tak lupa untuk mencium pipi kanan dan kirinya. Setelah itu, ia membawa putranya itu ke mobilnya dan mendudukkannya di dalam mobil tersebut.
Setelah mendudukkan Surya di dalam mobil serta memasang sabuk pengaman untuknya kini giliran Hamid yang memasuki mobil tersebut. Setelah tiba di dalamnya, Hamid bergegas untuk menjalankan mobil tersebut. Hatinya merasa sangat bersyukur karena dapat dipertemukan kembali dengan keluarganya. Rasa rindu yang sudah tak tertahankan untuk keluarganya kini telah terobati. Senyuman dan keceriaan Surya kini dapat ia nikmati kembali sebagai penghilang rasa lelahnya.
“Ayah kapan pulang?” tanya Surya dengan nada cepat.
“Apa? Kamu bicara apa? Ayah tidak bisa mendengarmu dengan baik. Cobalah berbicara pelan!" jawab Hamid dengan sedikit kesal.
Surya mengulangi perkataannya dengan perlahan, ”Kapan Ayah pulang?”
“Oh. Ayah baru saja sampai di rumah. Bagaimana kabarmu, Nak? Dan bagaimana kabar ibumu juga?"
“Kabalku baik-baik saja, Ayah. Kabal ibu juga baik,” jawab Surya dengan cadel.
Hamid menghela napas pendek mendengar jawaban dari Surya. Dengan nada tinggi, ia pun berkata pada putranya itu, “Kamu berpura-pura cadel lagi? Ayah kan sudah pernah katakan padamu untuk jangan pernah berpura-pura cadel di depan Ayah. Seharusnya anak seusiamu itu tidak cadel. Mengerti kamu?"
Rasa gembira dalam hati Surya seketika berubah menjadi ketakutan ketika mendengar amarah yang dilontarkan Hamid padanya. Ia pun menundukkan kepalanya sebagai wujud kesedihannya. Kemudian ia berkata dengan lirih, "Aku benal-benal cadel, Ayah. Aku tidak berpula-pula.”
“Diam kamu! Jangan banyak alasan!” ucap Hamid dengan nada kesal.
Jawaban dari Hamid telah menunjukkan bahwa betapa marahnya ia pada Surya. Diamnya Hamid membuat Surya merasa semakin takut padanya. Ia tak dapat berkata apa-apa lagi. Ia hanya terdiam membisu di hari yang ditunggu-tunggunya untuk dapat bertemu kembali dengan ayahnya itu.
Hari bahagia yang dinantikan Surya kini telah hilang. Telah berubah menjadi sebuah kesedihan. Hanya karena ia yang masih berbicara dengan cadel dirinya harus menerima amarah dari sang ayah. Yang seharusnya tak didapatkannya.
Hamid menghentikan mobilnya di depan sebuah toko es krim. Melihat sang ayah yang menghentikan mobilnya di sebuah toko es krim, sebuah senyuman tergores di wajahnya. Menghapuskan kesedihan dalam hatinya.