Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #29

Surya Si Cadel

Hamid tak lupa dengan kebiasaannya yang selalu melantunkan ayat suci Al-qur’an setelah melaksanakan sholat maghrib sebagai penutup hari. Di saay yang sama, Surya yang telah diwajibkan oleh ibunya untuk menerapkan kebiasaan tersebut mulai mengeluarkan suaranya. Ia mulai membaca Al-qur’annya. Suaranya bercampur menjadi satu dengan suara sang ayah belum selesai membacanya. Hamid yang mendengar Surya melantunkan ayat suci Al-qur’an merasa terganggu dengan suara putranya tersebut. Suaranya yang cadel telah membuat telinganya terasa kesakitan.

Merasa tak tahan mendengar suara Surya yang tak enak didengar telinga, Hamid langsung menghentikan bacaannya yang baru saja ia mulai beberapa detik yang lalu itu. Kemudian dengan sangat cekatan, ia menutup Al-qur’annya tersebut. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan langsung menutup Al-qur’an yang berada tengah dibaca Surya. Sikap Hamid tersebut membuat Zahra dan Surya terkejut juga heran.

Dalam hati kecilnya, Surya ingin menanyakan perihal perbuatan ayahnya itu. Namun mendadak ia merasa ketakutan ketika melihat raut wajah sang ayah yang memerah. Bahkan Surya tak berani untuk memandang wajah ayahnya itu. Maka dengan tubuh yang gemetaran, ia mendekati ibunya lalu menundukkan wajahnya.

“Surya! Harus berapa kali ayah memperingatkanmu agar kamu jangan berpura-pura berbicara cadel seperti itu! Terutama saat membaca Al-qur’an. Suaramu terdengar tidak enak!” bentak Hamid.

Surya hampir saja meneteskan air mata setelah mendengar amarah sang ayah. Zahra yang merasa iba melihat ketakutan di wajah Surya pun berkata pada Hamid, "Hamid!Apa yang kamu katakan? Kenapa kamu berbicara seperti itu padanya? Dia masih kecil. Tak pantas kamu berbicara seperti itu padanya.”

“Tapi dia itu pantas untuk dimarahi, Kak. Kalau tidak dimarahi, maka dia akan terus melakukan kesalahannya itu,” lanjut Hamid.

“Memangnya dimana letak kesalahannya?” tanya Zahra lagi.

Mendengar pertanyaan dari Zahra,amarah dalam diri Hamid memuncak. Dengan tegas, ia menjawab, “Kakak bertanya letak dimana letak kesalahannya? Haruskah aku jelaskan pada kakak dimana letak kesalahannya?”

Suara Hamid yang semakin tinggi membuat ketakutan Surya semakin meningkat. Air mata mulai menetes dari kedua kelopak matanya. Zahra merasa iba melihat kesedihan pada putranya itu. Ia pun menghapus setetes dua tetes air mata yang sempat menetes dan jatuh di pipi lembut Surya.

Setelah itu, Zahra kembali mengalihkan perhatiannya pada Hamid dan berkata, ”Sudahlah Hamid! Jangan berkata terlalu kasar pada anak! Kasihan dia.”

“Tapi dia memang bersalah, Kak. Dia sudah salah membaca Al-qur’an. Ini tidak bisa dibiarkan.”

Lihat selengkapnya