Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #30

Rasa Rindu yang Tetobati

Hamid memperhatikan betapa tekunannya Surya dalam belajar. Ia hanya bisa berdiri di belakang putranya itu dan terus memperhatikan rasa antusiasnya dalam belajar. Rasa bersalahnya yang sungguh besar membuatnya malu untuk menampakkan diri dan meminta maaf pada putra kecilnya itu.

Tak ingin terus merasa bersalah, Hamid memberanikan diri untuk menghamipiri Surya dan meminta maaf pada putranya tersebut. Ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati Surya. Kemudian ia duduk di samping putranya yang tengah serius dalam belajar itu. Mengetahui kedatangan sang ayah secara tiba-tiba, Surya langsung menghentikan kegiatan belajarnya. Ia langsung meletakkan pensil yang dipegangnya di atas meja. Tubuhnya kembali gemetaran. Dengan kepala yang tertunduk, ia pun mulai menggerak-gerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit untuk menjauh dari Hamid. Namun Hamid segera menghentikannya dengan menepuk pundaknya. Hal tersebut membuatnya semakin ketakutan.

“Surya, kamu sedang belajar apa, Nak?" tanya Hamid mengawali pembicaraan.

Surya tak menjawab pertanyaan dari sang ayah. Tubuhnya masih gemetaran. Melihat putranya yang terlihat sangat ketakutan, Hamid menghela nafas pendek. Lalu ia melanjutkan perkataannya, "Hmm... Maafkan ayah, ya. Ayah baru tahu kalau putra ayah ini memang cadel. Tapi walau begitu, ayah tetap sayang pada Surya. Malah semakin sayang. Walaupun Surya cadel dalam berbicara, tapi Surya sangat bersemangat dalam belajar dan menghafalkan Al-qur’an. Suara merdumu juga tidak berkurang walaupun kamu cadel.”

Rasa takut dalam diri Surya langsung menghilang setelah mendengar pernyataan Hamid. Bibirnya pun mulai bergeser membentuk sebuah senyuman. Ia mulai mengangkat kepalanya dengan perlahan dan menatap wajah Hamid yang tengah tersenyum padaya.

“Ayah benar-benar memaafkanku? Ayah benar-benar percaya kalau aku cadel? Ayah tetap menyayangiku walaupun aku cadel dalam berbicara?” tanya Surya meyakinkan.

Hamid tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian ia merentangkan kedua tangannya. Surya yang telah mengerti maksud dari apa yang tengah dilakukannya, langsung datang padanya. Setelah tiba di hadapannya, Hamid langsung merekatkan tubuh sang putra dengan tubuhnya. Kemudian ia mencium kening putranya itu.

“Oh ya, Ayah ingin menemani Surya belajar tapi dengan satu syarat,” ucap Hamid setelah melepas pelukannya.

“Syarat? Syarat apa itu, Ayah?” tanya Surya.

“Syaratnya adalah setelah sholat isya' nanti kamu harus membaca Al-qur’an untuk Ayah. Dan nadanya pun harus indah,” jelas Hamid.

Lihat selengkapnya