Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #31

Kekompakkan Hamid dan Surya

Pagi hari yang sungguh cerah. Sinar matahari pagi yang masuk kamar melalui jendela menjadikan suasana keluarga bertambah hangat. Di saat seperti itu, Surya terus menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengenakan seragam sekolahnya. Hal tersebut sudah merupakan kebiasaan Surya setiap paginya sebelum berangkat sekolah.

Zahra merasa sangat bangga mendengar Surya yang dengan sangat lancar menyanyikan lagu kebangsaan tersebut. Tiada sedikitpun kekurangan dalam memperdengarkan lagu tersebut. Baik dari segi lirik maupun iramanya. Semua dinyanyikannya dengan baik dan benar. Terlebih dengan jiwa nasionalisme yang telah tertanam sejak usia dini. Namun dibalik semua itu, ia juga merasa heran. Dalam hatinya, Zahra bertanya-tanya tentang alasan putranya melakukan hal tersebut.

Zahra berjalan mendekati Surya dengan membawa dasi di tangannya. Kemudian ia memasangkan dasi tersebut di kerah seragam Surya. Sambil memasangkan dasi, ia bertanya pada putranya itu,b“Surya, Ibu hanya heran saja padamu. Kenapa kamu selalu menyanyikan lagu itu setiap pagi?”

“Memangnya kenapa, Bu? Kata ayah, selain mengawali hari dengan membaca Al-qur’an kita juga harus mengawalinya dengan menyanyikan lagu kebangsaan kita, Bu,” jawab Surya.

Hamid yang baru memasuki kamar tersenyum bangga mendengar jawaban dari Surya. Ia pun menambahkan, ”Itu memang benar. Tanamkanlah jiwa nasionalisme padanya sejak kecil!”

Zahra menolehkan wajahnya pada Hamid yang masih berdiri di balik pintu. Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata, “Kalian ini. Selalu kompak dalam segala hal."

"Ya sudah kalau begitu, terserah kalian saja,” lanjutnya.

Hamid menutup pintu kamarnya. Kemudian tangannya mulai melepaskan diri dari gagang pintu dengan perlahan. Secara bersamaan, mulutnya mulai terbuka dan mengeluarkan suara yang berbentuk lagu Indonesia Raya. Mendengar sang ayah mulai bernyanyi, Surya pun mengikutinya dengan melanjutkan liriknya. Suara Hamid dan Surya memenuhi ruangan. Bahkan terdengar hingga bagian luarnya. Surya semakin bersemangat dalam menyanyikan lagu tersebut hingga ia meninggikan suaranya. Keduanya terus bernyanyi hingga lagu tersebut selesai. Sementara Zahra hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekompakan mereka.

Setelah menyelesaikan lagunya, Hamid tak sengaja melihat dasi yang terpasang di leher Surya dalam posisi miring. Hamid pun langsung berjalan mendekati Surya. Dengan cekatan, tangannya langsung membenahi dasi putranya itu. Surya yang mengetahui hal tersebut langsung memasang wajah muramnya. Bibirnya yang semula membentuk sebuah senyuman kini terlihat monyong.

“Ibu memang tidak apa-apa. Masa memasangkan dasi untukku saja masih miring?" ucap Surya dengan wajah marahnya.

“Eh, jangan berbicara seperti itu! Tidak baik berbicara hal buruk tentang orang tua," tegur Hamid.

Hamid berdiri lalu melirik pada Zahra. Kemudian ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Surya. Setelah itu ia pun melanjutkan perkataannya, "Sebenarnya ibu bisa memasangkan dasi untukmu dengan benar. Tapi sepertinya ibumu sedang tidak fokus. Jadi salah memasangnya.”

Surya menatap Zahra dengan wajah polosnya. Ia tak mengerti tentang apa yang diucapkan oleh Hamid. Hamid pun kembali berkata, “Tapi tenang! Supaya ibumu lebih fokus dalam melakukan sesuatu, Ayah berencana untuk mengajak kalian berbelanja nanti sore. Kalian mau, kan?”

Lihat selengkapnya