Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #32

Sahabat Kecil Hamid

Hari sudah semakin senja. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore. Di saat seperti itu, tiba-tiba Hamid terkenang dengan masa kecilnya yang selalu menghabiskan hari-harinya dengan melantunkan ayat suci Al-qur’an bersama anak-anak Ustadz Latif.

Kenangan itu menjadi sejarah terindah dalam hidupnya. Sebuah senyuman tergores di wajahnya. Rasanya ia ingin kembali ke masa itu lagi dan melakukan hal yang sama.

Hamid tak ingin membuang waktu lagi. Ia masih hafal jika di jam lima sore, biasanya Imran bersama Syarifah masih mengajar mengaji pada anak-anak di masjid. Maka ia pun segera bersiap untuk pergi menemui mereka. Ia juga sudah rindu untuk mengajar mengaji.

Setelah tiba di masjid Hamid segera membalikkan tubuhnya. Karena suara mengaji anak-anak tidak terdengar lagi. Ia malah melihat satu persatu dari mereka berhamburan untuk kembali ke rumah. Hamid menyesal karena telah kehilangan kesempatan untuk dapat membantu mengajar anak-anak mengaji sekaligus untuk mengobati rasa rindunya pada Syarifah dan Imran.

Saat Hamid hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang manggil-manggil namanya. Ia yang merasa terkejut langsung menurunkan kembali kakinya yang telah terangkat. Kemudian ia kembali membalikkan tubunya. Wajah murungnya seketika berubah menjadi sebuah senyuman ketika ia mengetahui bahwa orang yang memanggilnya adalah Syarifah.Syarifah berjalan perlahan menghampiri Hamid.

“Assalamu’alaikum, Kak Hamid. Bagaimana kabar Kakak sekarang?” ucap Syarifah sambil menundukkan wajahnya.

“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Syarifah? Aku sangat merindukanmu. Kabarku baik-baik saja. Lalu bagaimana kabarmu, Kak Imram, ummi , dan abi?” jawab Hamid.

“Alhamdulillah. Semua baik-baik saja. Kakak tidak berkunjung ke rumahku lagi? Abi dan ummi pasti akan sangat senang dengan kedatangan Kakak,” lanjut Syarifah.

“Iya, aku pasti akan datang ke rumahmu,” jawab Hamid singkat.

Hamid dan Syarifah melanjutkan perbincangan di antara mereka. Sementara itu, Surya yang berada beberapa langkah di belakang Syarifah terus berlari setelah mengetahui bahwa Hamid berada di masjid tersebut. Ia bergegas untuk menghampiri ayahnya itu. Ia tak mengerti mengapa sang ayah berada di masjid sore hari itu. Apakah ia ingin menjemputnya? Namun ia tak memperdulikannya..Ia tetap berlari untuk mendekati ayahnya tersebut.

Setelah tiba di hadapan Hamid, Surya langsung mencium tangan Hamid. Setelah itu ia beralih mencium tangan Syarifah. Hamid pun bertanya padanya, “Surya, bagaimana tadi mengajinya? Kamu bisa mengaji dengan baik dan benar, kan? Kamu juga tidak nakal, kan?”

Lihat selengkapnya