Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #33

Antara Hamid dan Syarifah

Setelah tiba di rumah, Hamid langsung melangkah memasuki kamar. Saat itu Zahra tengah duduk di atas ranjang sambil menyandarkan tubuhnya. Rasa lelah nampak jelas di wajahnya yang sedikit kepucatan.

Hamid berjalan menghampiri Zahra. Setelah tiba di dekat Zahra, Hamid langsung duduk di samping istrinya itu. Tanpa banyak basi-basi lagi, Hamid langsung menanyakan undangan pernikahan Syarifah pada Zahra. Hati Zahra yang semula tenang karena tengah menikmati waktu istirahatnya kini menjadi terkejut. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar pertanyaan dari suaminya itu.

Zahra tak segera menjawab dari Hamid tapi ia malah terus terdiam. Sementara itu Hamid masih menunggu sebuah jawaban yang keluar dari mulut istrinya itu. Melihat Zahra yang tak segera menjawab pertanyaannya namun malah melamun, ia pun langsung menepuk bahunya.

Setelah Hamid menepuk bahunya, Zahra terbangun dari lamunannya tersebut. Hamid pun bertanya padanya, “Hei, ada apa? Kenapa Kakak tidak menjawab pertanyaanku?”

”Per-Pertanyaan? Pertanyaan apa?” ucap Zahra bertanya balik.

Hamid menghela nafas pendek lalu menjawab, “Dimana undangan pernikahan Syarifah? Cepat ambilkan! Aku mau melihatnya!”

"Kenapa kamu baru pulang malah menanyakan tentang itu? Kenapa tidak menanyakan tentang yang lainnya saja?Memangnya darimana kamu sehingga kamu langsung bertanya seperti itu setelah tiba di rumah?" tanya Zahra.

"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh menanyakan hal seperti itu pada Kakak? Itu kan salah satu hal yang terpenting dalam hidupku," jawab Hamid heran.

Jantung Zahra yang semula berdeguo kencang kini berhenti berdetak seketika setelah mendengar pernyataan dari Hamid. Ia memang telah mengetahui dari mulut Hamid sendiri bahwa Syarifah adalah sahabat masa kecil Hamid yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri. Namun perhatian suaminya itu terhadap Syarifah terasa berlebihan baginya. Sehingga apabila Hamid mendengar sebuah kabar tentang Syarifah, suaminya itu langsung bersemangat mendengarkan dan menanggapinya.

"Kenapa Hamid sangat peduli dengan Syarifah? Apa dia memang benar-benar mencintai Syarifah? Apakah anggapan adik hanyalah sebagai alasan untuk menutupi rasa cinta Hamid padanya?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.

Hamid kembali heran dengan sikap Zahra yang tak segera mengambilkan udangan yang ia minta untuknya. Ia meletakkan telapak tangan kanannya tepat di depan mata Zahra yag menatap kosong benda di depannya. Kemudian ia menggerak-gerakkan tangannya itu supaya Zahra dapat terbangun dari lamuannya. Tapi walaupun ia telah mencobanya beberapa kali, usahanya itu tetap gagal.

Lihat selengkapnya