Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #34

Pernikahan Syarifah

Hari baru saja dimulai. Namun Hamid dan Surya telah berdandan dengan sangat rapi. Mereka terlihat sudah siap untuk pergi ke pesta pernikahan Syarifah. Melihat hal tersebut, rasa cemburu dalam hati Zahra muncul kembali. Saat itu, ia hanya duduk termenung tanpa melakulan sesuatu.

Muncul sebuah pertanyaan besar di hati Hamid ketika melihat Zahra yang tak segera bersiap untuk pergi ke pesta pernikahan Syarifah. Zahra sama sekali belum mempersiapkan dirinya. Layaknya ia dan Surya yang telah siap dengan pakaiannya yang indah dan rapi. Zahra belum mengenakan pakaiannya. Bahkan Zahra belum pula membersihkan dirinya. Di mata Hamid, ia terlihat sangat bersantai ketika semua orang tengah sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta pernikahan Syarifah.

Hamid berjalan menghampiri Zahra dengan hati yang kesal. Setelah tiba di dekatnya, ia pun bertanya, “Kenapa Kakak belum bersiap juga?Apa Kakak tidak mau berangkat ke pesta pernikahan Syarifah? Kakak kan tahu kalau Syarifah itu adalah putri dari abi. Guru mengajiku yang sudah mengajariku untuk menghafal Al-qur’an. Jadi kita harus datang. Kita tidak boleh merasa malas untuk hadir di pesta tersebut.”

Zahra tersadar dari lamuannya ketika mendengar pertanyaan dari Hamid. Ia pun menjawab, “Tidak, Hamid. Aku tidak malas. Aku minta maaf padamu. Aku akan segera bersiap. Tunggu aku ya.”

“Nah, memang seharusnya begitu. Ayo cepat! Jangan lama!” lanjut Hamid dengan sedikit marah.

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Zahra segera bangkit dari tempat duduknya. Kemudian ia mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Sementara Hamid memandanginya dengan raut wajahnya yang kemerahan.

Pesta pernikahan Syarifah berlangsung dengan sangat meriah. Bahkan lebih meriah dari pesta pernikahan Sa’ad dan Imran yang telah dilaksanakan terlebih dahulu. Tamu-tamu berdatangan silih berganti. Banyak pula makanan yang disajikan untuk para tamunya. Rupanya Ustadz Latif memang sengaja mengadakan pesta pernikahan semeriah itu untuk putri bungsunya. Ia ingin membuat sesuatu yang lebih istimewa untuk putri satu-satunya itu. Sehingga ia bisa melepas putrinya itu dengan rasa bahagia. Bukan dengan kesedihan.

Semua orang terlihat sangat bahagia dalam pesta pernikahan tersebut. Namun berbeda dengan Hamid yang malah nampak muram saat melihat Syarifah berdiri berdampingan dengan pria lain. Ia sungguh mengerti bahwa setelah pernikahan Syarifah ini, berarti kesempatan untuk bertemu dengan sahabatnya itu semakin berkurang. Bahkan ia mungkin tak akan mempunyai kesempatan untuk dapat bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya itu. Dan ia tak ingin hal itu terjadi. Namun ia tak berdaya. Ia tak sanggup melawan takdir yang dituliskan oleh Tuhan. Semua itu merupakan alur kehidupan yang harus dilewati oleh setiap orang. Dan ia tak dapat menolaknya.

Tubuh Hamid menjadi kaku saat akan memasuki gerbang rumah Ustadz Latif. Langkah kakinya pun semakin lama semakin melambat. Air matanya mulai mengalir saat menolehkan wajahnya pada Syarifah. Melihat sikap Hamid tersebut membuat rasa cemburu Zahra semakin menjadi. Begitu besar rasa khawatir Hamid terhadap Syarifah. Hingga suaminya itu mengeluarkan air matanya saat melihat Syarifah menikah. Saat hendak memasuki gerbang, Hamid segera menghapus air matanya dan mencoba melupakan semua kesedihannya itu.

Lihat selengkapnya