Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #35

Melepas Syarifah

Kecuali Hamid, semua terlena dalam pesta pernikahan Syarifah. Hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. Pesta pernikahan Syarifah yang mewah itu tak mungkin berjalan sepanjang waktu. Pesta itu harus berakhir. Semua tamu telah berbondong-bondong untuk kembali ke rumah masing-masing. Sementara Syarifah terlihat sangat sibuk mengemasi semua pakaiannya untuk dibawa ke rumah suaminya. Di sisi lain, Hamid yang masih berada di rumah gurunya tersebut, hanya dapat melihatnya dengan ditemani air mata yang masih jatuh setetes demi setetes di pipinya.

Sementara Syarifah sibuk mengemasi barang-baranganya, Hamid mengalihkan pandangannya pada Ridwan. Kemudian ia berjalan dan mendekati suami Syarifah tersebut. Yang secara kebetulan pria tersebut sedang berdiri seorang diri di ruang tamu. Ia menunjukkan senyuman manisnya pada pria tersebut kemudian mengajaknya berkenalan. Suami Syarifah itu tersenyum pada Hamid. Ia lalu menjabat tangan Hamid untuk berkenalan dengannya. Namun sebelum menyebutkan namanya di depan Hamid, Hamid langsung menarik tangannya dan membawanya ke belakang rumah. Hal itu sontak membuatnya merasa terkejut dengan sikap Hamid tersebut. Jantungnya berdebar kencang saat berada di dekat Hamid. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukan Hamid pada dirinya.

Zahra tak sengaja melihat Hamid menarik tangan suami Syarifah dan membawanya ke tempat lain. Tanpa sepengetahuan Hamid, Zahra pun mengikuti langkah suaminya tersebut. Dengan sangat hati-hati ia berjalan mengikuti setiap langkah yang diambil sang suami. Tak lupa ia bersembunyi di balik dinding untuk menyaksikan apa yang sebenarnya dilakukan Hamid pada suami Syarifah itu.

Hamid menolehkan wajahnya ke sekelilingnya. Seketika itu Zahra langsung melangkahkan kakinya satu langkah ke belakang agar Hamid tak melihat keberadaannya. Setelah memastikan bahwa tak ada seorangpun yang melihat keduanya di bagian belakang rumah itu, Hamid kembali mengalihkan perhatiannya pada Ridwan. Ia kembali menatap wajah Ridwan dengan mata tajamnya. Sehingga membuat suami Syarifah itu menjadi ketakutan. Pria itu hanya berdiri kaku dengan wajahnya yang memucat.

"Ridwan. Tujuanku mngajakmu berbicara empat mata hanyalah untuk memastikan bahwa kamu bisa menjaga Syarifah dengan sebaik-baiknya. Kamu juga harus membahagiakannya! Aku tidak mau kalau aku mendengar dia menangis karenamu. Kalau aku sampai mendengarnya bersedih karena perbuatanmu, maka kamu akan tahu sendiri akibatnya. Kamu mengerti?" tegas Hamid.

"I-Iya. Pasti aku akan menjaganya dengan seluruh daya upayaku. Aku juga akan berusaha membuat Syarifah merasa bahagia hidup denganku," jawab Ridwan dengan gugup.

"Tapi maaf, anda siapa? Apakah anda Hamid? Orang yang selalu dibicarakan olehasyarakat kota ini karena kedekatan anda dengan Syarifah," lanjut Ridwan.

Hamid mengangguk lalu menjawab, "Iya, aku Hamid."

"Kalau begitu aku harus minta maaf pada anda."

"Minya maaf? Minta maaf karena apa?" tanya Hamid tak mengerti.

"Aku harus minta maaf karena aku telah mengambil Syarifah dari tangan anda. Karena yang selalu kudengar dari para tetangga anda akan dijodohkan dengan Syarifah karena anda sudah sangat dekat dengannya sejak kalian masih kecil," jawab Ridwan.

Lihat selengkapnya