Selama berjalan kembali ke dalam rumah, Fatimah terus menertawakan sikap yang baru saja ditunjukkan Zahra padanya. Sementara Zahra mempercepat langkahnya agar segera tiba di dalam kamar Haidar dan ia dapat melihat keadaan Surya apakah putranya itu masih tertidur lelap atau terbangun karena suatu alasan. Ketika langkah Zahra tiba di dekatnya, Fatimah kembali mengingatkan Zahra akan keburukan-keburukannya. Ia masih berusaha untuk menghasut Zahra agar ia dapat mengubah keputusannya untuk berpisah dengan Hamid.
Hasutan-hasutan Fatimah terus dibisikkan ke dalam telinga Zahra. Namun Zahra berusaha untuk mengabaikannya. Menganggapnya sebagai angin yang berlalu. Ia pun semakin mempercepat langkahnya.Setelah tiba di depan kamar Haidar, Zahra segera memasuki kamar tersebut dan melihat pada Surya yang ternyata masih tertidur lelap di samping anak lelaki Sa'ad tersebut. Di luar kamar, Fatimah masih berusaha menghasutnya untuk menjauh dari kehidupan Hamid. Merasa jengkel dengan apa yang dilakukan oleh Fatimah padanya, Zahra mengalihkan perhatiannya pada Fatimah
Ia mengarahkan mata tajamnya pada wanita yang sejak tadi mengikuti langkahnya tersebut. Melihat Zahra yang menatapnya dengan cara seperti itu, Fatimah akhirnya memutuskan untuk menghentikan hasutannya tersebut. Kemudian ia berjalan ke dapur. Meninggalkan Zahra yang kembali fokus pada Surya.
Beberapa saat setelah Fatimah keluar dari ruangan teesebut, Hamid memasuki kamar putra pertama dari Sa’ad tersebut. Hamid kemudian menyuruh Zahra untuk bersiap pulang. Zahra menggangguk. Ia pun merendahkan tubuhnya kemudian mengangkat tubuh Surya. Ia mengangkatnya dengan dengan sangat hati-hati agar putranya itu tak terbangun. Lalu ia meletakkan putranya itu dalam pelukannya. Setelah itu, Hamid mengajaknya untuk berpamitan pada Ustadz Latif, Ustadzah Halimah beserta anggota keluarga yang lainnya.
“Abi, Ummi, malam sudah semakin larut. Waktunya kami untuk pulang. Lagipula besok aku juga akan kembali bertugas. Aku meminta do’a pada Ummi dan Abi agar aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik dan dapat pulang dengan selamat," ucap Hamid pada Ustadz Latif dan Ustadzah Halimah.
“Iya Nak, kami pasti akan mendo’akan yang terbaik untukmu. Kamu pasti bisa melaksanakan tugasmu dengan baik dan pulang dengan selamat. Abi selalu yakin dengan kemampuanmu,” jawab Ustadz Latif.
“Iya, adik kesayanganku. Aku juga sangat yakin dengan kemampuanmu itu. Kamu pasti dapat menggapai semua impianmu,” sambung Sa’ad yang berdiri tepat di samping Ustadz Latif.
Hamid tersenyum mendengar pernyataan dari Sa’ad. Ia lalu berkata, ”Terima kasih atas semangat yang kalian berikan kepadaku. Kalau begitu,kami pamit pulang terlebih dahulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Ustadz Latif, Ustadzah Halimah, Sa’ad, dan Imran bersama-sama.
Hamid mencium tangan Ustadz Latif. Zahra yang berada di belakang Hamid pun mencium tangan Ustadzah Halimah. Ustadzah Halimah menyentuh kepala Zahra sambil menunjukkan senyuman padanya.