Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #37

Mendapat Amanah Baru

Setelah dihadapkan pada kenyataan pahit tentang perasaan Hamid saat melihat pernikahan Syarifah, kesedihan kembali melanda hati Zahra.Baru beberapa hari ia menikmati hari-harinya bersama Hamid, kini ia harus mengantarkan Hamid ke bandara untuk kembali bertugas. Bukan hanya ia yang tak ingin melepaskan kepergian Hamid, Surya juga tak ingin berpisah dengan sang ayah. Putranya itu terus menggenggam erat tangan ayahnya. Ia berusaha untuk menahan kepergian Hamid.

“Ayah jangan pergi! Ayah kan baru tinggal di rumah sebentar. Masa Ayah sudah mau pergi lagi? Ayah juga masih belum selesai mengajariku menyanyikan lagu nasional. Masih ada banyak lagu nasional yang belum Ayah ajarkan padaku,” pinta Surya.

Hamid membungkukkan tubuhnya di depan Surya lalu berkata, ”Surya, kamu jangan bersedih ya. Ayah hanya pergi sebentar saja. Nanti kalau Ayah sudah pulang, Ayah pasti akan ajarkan banyak lagu padamu. Garuda Pancasila, Berkibarlah Benderaku, Maju tak Gentar, dan masih banyak lagi. Tapi sekarang Ayah harus pergi dulu. Kamu harus tetap rajin belajar dan tetap semangat menghafal Al-qur’an.”

Hamid memeluk tubuh Surya lalu ia kembali berdiri dengan tubuh Surya yang masih berada dalam dekapannya. Ia melakukannya untuk menghilangkan kesedihan di hati putranya itu. Ia pun mencium pipi kanan dan kiri Surya. Lalu ia membelai rambut putranya itu sebelum menurunkannya kembali.

Hamid berpamitan pada Zahra untuk segera pergi bertugas. Zahra menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Setelah itu, Hamid segera berlari menghampiri Wisnu yang telah menunggunya beberapa langkah di depannya. Hamid membalikkan tubuhnya lalu melambaikan tangannya pada Zahra dan Surya sebelum menaiki pesawat bersama Wisnu.

Setelah Hamid terlihat jauh, Zahra mengajak Surya untuk kembali pulang. Surya masih berdiri tegak di tempatnya dan tak ingin menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Ia tak ingin pulang. Ia masih ingin melihat ayahnya walau itu tidak mungkin. Zahra mencoba untuk membujuknya agar putranya itu bersedia untuk pulang. Dan pada akhirnya, dengan sangat terpaksa Surya menuruti perintah ibunya untuk pulang.

Hari-hari dilalui Surya dengan penuh kerinduan terhadap ayahnya. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya. Hamid kembali diberi waktu untuk beristirahat dan menikmati waktu beberapa hari bersama keluarganya. Dengan hati yang gembira Hamid kembali ke rumah bersama Wisnu. Hatinya sudah semakin tak sabar untuk menemui keluarganya dan menjalani hari-hari bersama mereka.

Setelah tiba di rumah, Hamid segera mengetuk pintu. Pada ketukan pertama, tidak ada yang membukakan pintu untuknyab.Hamid mencoba mengetuknya kembali. Segera setelah itu, pintu terbuka. Namun yang membuka pintu bukanlah Zahra atau salah satu asisten rumah tangganya. Melainkan Ustadzah Salamah.

Ustadzah Salamah memasang wajah muram pada Hamid seperti yang biasa ia lakukan pada menantunya itu. Hamid merasa heran dengan kedatangan ibu mertuanya yang secara mendadak itu. Yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Ustadzah Salamah yang jarang datang ke rumahnya karena kesibukannya di pesantren itu menjadi tanda tanya besar di hati kecilnya.

“Ummi? Assalamu’alaikum ummi,” sapa Hamid yang langsung mencium tangan Salamah.

“Wa’alaikum salam. Kamu sudah pulang?” jawab Salamah dengan masih memasang wajah muramnya.

“Iya, Ummi. Tapi kenapa Ummi ada disini?Tumben sekali. Biasanya Ummi tidak pernah datang ke rumah saya.”

“Memangnya tidak boleh Ummi datang ke rumah anak sendiri? Lagipula Zahra sedang sakit beberapa hari ini. Siapa yang akan mengurus Zahra kalau saya tidak datang kemari? Kamu itu tidak becus jadi suami. Bisanya hanya menyusahkan istri saja.Membuat derita bagi kehidupan Zahra. Zahra sakit juga karenamu,” ucap Salamah dengan nada tinggi.

Wajah Hamid tertunduk sedih ketika mendengar pernyataan yang terucap dari mulut Salamah. Ia sungguh tak mengerti mengapa ibu mertuanya itu sangat membencinya. Tak pernah ia bersikap baik atau menunjukkan sedikit kasih sayangnya padanya. Padahal ia sudah berusaha untuk melakukan hal yang terbaik bagi Zahra. Ia juga telah menghindari kesalahan sekecil apapun jika berada di hadapan mertuanya itu.

“Ayah! Asyik Ayah sudah pulang!” seru Surya yang tiba-tiba datang di hadapan Hamid.

Melihat Surya yang sudah berada di hadapannya, Hamid langsung menggendong Surya dan mencium keningnya. Kemudian ia pun berkata, ”Hei, putraku yang tampan! Bagaimana kabarmu? Kamu sudah menjalankan tugasmu dengan baik, kan?”

Lihat selengkapnya