Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #38

Bayangan Hamid

Suasana sore itu tak begitu panas. Matahari masih berada di tempatnya dengan sinarnya yang hangat. Saat itu, semua orang tengah berkumpul di halaman masjid. Di atas panggung, Surya melantunkan ayat suci Al-qur’an dengan suaranya yang sangat merdu. Sementara di sekelilingnya terdapat banyak orang yang tengah mendengarkan suara merdunya tersebut. Mereka duduk dengan rapi di kursi-kursi yang telah disiapkan oleh panitia sebelumnya. Termasuk Ustadz Latif yang tengah bertugas sebagai seorang juri serta Hamid yang duduk di kursi paling depan. Suara Surya yang amat merdu dapat merasuk ke dalam jiwa orang-orang yang tengah mendengarkannya. Sehingga dapat menggetarkan seluruh anggota tubuh mereka bahkan hingga ke dalam hati mereka yang terdalam.

Mendengar suara dan irama Surya saat membaca Al-qur’an, masyarakat dapat merasakan ketenangan dalam jiwa mereka. Suara merdu Surya seolah membawa mereka ke alam yang lain. Mereka merasa bahwa Hamid kecillah yang sedang membaca di atas panggung itu. Bukan Surya. Masyarakat selalu teringat akan masa kecil Hamid yang pandai membaca Al-qur’an saat mendengar ayat suci Al-qur’an yang dibacakan oleh Surya.

Tak hanya masyarakat yang merasa bahwa Hamid yang sedang membaca Al-qur’an di atas panggung tersebut, tetapi Ustadz Latif juga merasakan hal yang sama. Hingga Ustadz Latif tak pernah merasa kesepian saat Hamid berada jauh darinya. Dengan mendengarkan Surya membaca Al-quran, Ustadz Latif dapat merasakan kehadiran Hamid di dekatnya.

Suara merdu Surya membuat Hamid merasa sangat bangga. Hamid menikmati bacaan putranya itu sambil menutup kedua matanya agar dapat memfokuskan dirinya hanya pada ayat-ayat yang tengah dibacakan oleh Surya. Semua terlena dengan suara merdu Surya. Hingga tak terasa, Surya telah selesai melaksanakan tugasnya membacakan sebuah surat di atas panggung.

Setelah semua peserta menampilkan kemampuannya di atas panggung, kini saatnya bagi juri untuk mengumumkan juara dari perlombaan tersebut. Jantung Hamid berdebar kencang saat menunggu keputusan dari juri. Namun rasa deg-degan itu seketika berganti menjadi rasa bahagia saat juri mengumumkan bahwa Surya mendapat juara pertama dalam lomba tersebut. Hamid semakin bangga pada putranya itu. Bukan hanya Hamid yang merasa bangga atas prestasi putranya tersebut, namun Ustadz Latif juga merasakan hal yang sama dengannya. Rasa bangga Ustadz Latif pada kelebihan yang dimiliki oleh salah seorang muridnya itu tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Kemampuannya yang sebanding dengan Hamid membuatnya rasa bangganya terhadap muridnya itu semakin bertambah. Sehingga ia menjadikannya sebagai murid kesayangannya setelah Hamid.

“Ayah sangat bangga padamu, Nak. Kamu memang seperti Ayah. Dulu Ayah juga selalu mendapatkan juara sepertimu. Kamu ingat kan pada piala-piala yang terpajang di lemari kaca Ayah? Itu semua piala-piala yang Ayah dapatkan dari berbagai macam perlombaan. Kebanyakan dari lomba tilawatil qur’an seperti ini," ucap Hamid dengan penuh rasa bangga.

“Benarkah, Ayah? Lemari kaca yang ada di kamar itu?” tanya Surya meyakinkan.

“Iya. Memangnya yang mana lagi?” jawab Hamid singkat.

Raut wajah Surya bersinar saat mendengar jawaban dari sang ayah. Dengan kedua mata yang bersinar, ia pun berkata, “Waaah... Ayah memang hebat! Aku merasa sangat beruntung bisa menjadi anak ayah. Kalau begitu, boleh tidak aku meletakkan pialaku bersama piala-piala ayah?”

“Oh, tentu boleh. Letakkan saja di samping piala-piala ayah! Supaya menjadi semangat bagi kita untuk terus menjaga Al-qur’an dan meraih prestasi setinggi mungkin”

Lihat selengkapnya