Sore itu Ustadzah Salamah tak sengaja berjalan melewati kamar Hamid. Ketika itu kedua matanya tak sengaja pula melihat Hamid dan Zahra tengah berbincang di kamar mereka. Keduanya nampak sangat berbahagia. Tersenyum dan tertawa bersama-sama. Melihat hal yang demikian, Ustadzah Salamah pun menghentikan langkahnya.
Dari pintu kamar Hamid yang terbuka sedikit itu, Ustadzah Salamah dapat melihat dengan jelas apa yang tengah dilakukan keduanya. Dan ia juga dapat mendengar dengan jelas semua yang mereka bicarakan. Terdengar dengan jelas di kedua telinganya bahwa mereka tengah membicarakan anak yang dikandung Zahra. Itulah sebabnya mengapa hanya ada kebahagiaan yang terlihat di wajah mereka.
"Aku jadi tidak sabar untuk menunggu kelahiran anak kedua kita ini. Kira-kira apa jenis kelaminnya? Aku sedang ingin anak peremuan nih. Supaya lengkap saja. Ada laki-laki, ada perempuan," begitulah kalimat yang ia dengar dari mulut Hamid.
Ia melihat Zahra yang tersenyum pada Hamid. Kemudian putrinya itu menjawab, "Kalau tentang jenis kelamin, itu terserah Tuhan. Kita hanya berkewajiban untuk merawatnya. Nanti kalau jenis kelaminannya laki-laki lagi apa ka u akan tidak menyayanginya? Apa begitu yang kamu inginkan?"
Ustadzah Salamah tak ingin berhenti mendengarkan setiap kata yang keluar dari keduanya. Terdengar Hamid berkata dengan sedikit tertawa, "Aku kan hanya mengungkapkan isi hatiku. Aku juga tidak mau menyiksa anak hanya karena tidak menyukai jenis kelaminnya."
Suasana yang begitu hangat nan harmonis yang tengah terjadi pada Hamid dan Zahra membuat telinga Ustadzah Salamah merasa tak sanggup lagi untuk mendengarkannya. Wajahnya mulai memerah. Kedua bola matanya pun mulai mengeluarkan api. Ia kembali melanjutkan langkahnya agar hatinya menjadi tenang seperti semula. Ia tak peduli lagi dengan apa yang mereka perbincangkan selanjutnya.
Pemandangan keluarga Hamid yang nampak sangat harmonis dan sangat bahagia itu membuat kebencian di dalam hati Ustadzah Salamah semakin bertambah besar. Sejenak ia teringat akan kebersamaan-kebersamaan mereka di waktu yang lain. Yang juga membuat hatinya menjadi panas. Kekompakkan mereka dalam bertadarus atau hanya berbincang biasa saat waktu longgar. Semua itu membuat hati Ustadzah Salamah serasa terbakar. Ia ingin segera menyelesaikan misinya untuk memisahkan Zahra dan Hamid. Namun keadaan yang ia lihat nampaknya sangat tidak mendukung untuk mencapai tujuannya itu.
"Semakin hari mereka semakin kompak saja. Zahra seperti orang yang sedang terhipnotis saja. Bagaimana dia bisa tahan dengan sifat kekanak-kanakannya Hamid? Bagaimana dia tidak memikirkan nasibnya sendiri yang selama ini menderita? Dasar Si Zahra itu!" gumam Ustadzah Salamah sambil memiringkan bibirnya.
Sambil terus berjalan, Ustadzah Salamah tak henti-hentinya memikirkan cara agar ia dapat memisahkan Hamid dan Zahra. Namun kini ia seakan ingin menyerah. Tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk mencapai tujuannya itu.
Merasa bahwa ia telah menemui jalan buntu, Ustadzah Salamah segera ia mengambil ponsel di sakunya. Kemudian ia langsung menekan nomor Fatimah untuk membicarakan masalah yang tengah ia hadapi itu dengannya. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu, Fatimah langsung menjawab teleponnya tersebut.
"Kamu tahu, Fatimah? Semakin hari hubungan Hamid dan Zahra semakin membaik saja. Mereka semakin terlihat harmonis. Dan karena itu Ummi merasa tidak kuat untuk melihatnya. Ummi tidak tahu harus memisahkan mereka dengan cara apa lagi," ucap Ustadzah Salamah dengan nada kesal.