Hamid membangunkan Surya ketika adzan subuh mulai berkumandang. Tak seperti di hari biasa, Surya yang biasanya terbangun sendiri ketika subuh, kini terlihat sangat malas untuk bangkit dari tempat tidurnya. Hamid tak ingin berputus asa untuk membangunkan putranya. Ia terus menggoyang-goyangkan tubuh Surya agar putranya itu cepat terbangun.
Surya yang masih merasa sangat mengantuk dengan sangat terpaksa bangun dari tidurnya. Lalu ia mengikuti Hamid untuk mengambil air wudhu. Surya berjalan dengan sangat lemah di belakang Hamid. Kedua bola matanya masih memerah. Wajahnya terlihat sedikit memucat.
Hamid merasakan kejanggalan dalam diri Surya. Ketika ia melihat wajah Surya yang nampak pucat dengan bola mata yang kemerahan itu. Ketika ia melihat cara berjalan Surya yang nampak sangat lemah tak seperti yang terjadi pada hari biasa. Juga ketika ia memperhatikan putranya tersebut bertadarus. Suaranya terdengar sangat lemah seperti tak mempunyai semangat sama sekali. Tak seperti pada hari biasanya yang selalu bersemangat untuk bertadarus. Bahkan suaranya yang sangat merdu itu terdengar tidak sedap untuk di dengarkan. Namun berbeda dengan Zahra yang hanya menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Ia beranggapan bahwa wajah pucat Surya hanya dikarenakan oleh angin malam yang sangat dingin. Hingga ia masih merasa sangat mengantuk dan malas untuk bangun. Itulah yang menyebabkan matanya masih memerah ketika terbangun dari tidurnya.
Hamid tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zahra. Ia masih merasakan kejanggalan pada diri Surya. Ia mencoba untuk memberikan Surya semangat untuk melantunkan Al-qur’an dengan suara indahnya. Namun semangat Surya tetap saja tak terbangun. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar bagi Hamid. Zahra yang melihat semua itu merasa bahwa apa yang dirasakan Hamid memanglah benar.
Usai melaksanakan sholat subuh dan bertadarus, Surya kembali ke kamar dan kembali pula membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hamid membiarkannya terus tertidur lelap karena menganggapnya putranya itu masih merasa sangat mengantuk. Juga karena usianya yang masih sangat kecil. Sehingga sangat wajar baginya untuk kembali tidur setelah menunaikan solat subuh.
Hingga tak terasa, matahari telah bersinar dengan terangnya. Hamid menghampiri Surya dan kembali membangunkan putranya itu untuk bersekolah. Saat ia memperhatikan wajah sang putra, ia mulai menyadari bahwa memang ada sesuatu hal yang berbeda dari putranya tersebut. Wajahnya semakin memucat.
Tangan Hamid serasa terbakar ketika menyentuh tangan Surya. Ia pu segera menarik tangannya kembali lalu berkata, ”Astagfirullah... Panas sekali. Kamu sakit, Nak? Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Ayah?”
“Ada apa, Hamid?” tanya Zahra yang baru saja memasuki kamar.
“Badan Surya panas sekali, Kak. Aku takut akan terjadi sesuatu padanya,” jawab Hamid dengan penuh kecemasan.
“Benarkah?” tanya Zahra yang juga merasa cemas seketika.
Zahra berjalan lebih dekat dengan Surya kemudian menyentuh tubuhnya. Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Hamid. Saat ia menyentuh tangan dan dahi Surya, ia juga merasakan panas yang sangat pada tubuh putranya tersebut. Raut wajahnya juga pucat pasi. Kecemasan mulai menghinggap di hatinya.