Hamid begitu terkejut ketika melihat Ustadzah Salamah yang berdiri beberapa langkah di depannya. Ustadzah Salamah berdiri tegak tepat di depan mobil yang tengah dikendarai Hamid dengan memasang raut wajah yang seperti ia tunjukkan pada Hamid setiap harinya. Hamid yang baru saja menjalankan mobilnya langsung menghentikan mobilnya itu. Kemudian ia menarik nafas panjang karena ia merasa lega karena tak menabrak ibu mertuanya itu.
Tanpa dipersilahkan oleh Hamid, Ustadah Salamah langsung memasuki mobil saat mobil tersebut baru saja dihentikan Hamid. Namun sebelum itu, ia mengambil Surya dari bangku depan dan memindahkannya ke bangku belakang bersama dengannya. Lalu ia meletakkannya di atas pangkuannya. Hamid mencoba untuk terus bersabar melihat sikap ibu mertuanya itu. Mungkin dengan kehadiran sang ibu mertua yang meletakkan Surya di atas pangkuannya, dapat membuat putranya itu menjadi lebih aman selama dalam perjalanan ke rumah sakit.
“Saya juga ingin ikut denganmu. Apa kamu pikir saya tidak akan menemani cucu saya di rumah sakit?" ucap Ustadzah Salamah dengan memalingkan wajahnya dari Hamid.
"Sebenarnya saya tidak mau pergi denganmu. Tapi saya merasa sangat khawatir jika cucu saya terus bersama denganmu. Saya khawatir akan terjadi masalah yang lebih besar pada cucu saya. Maka dari itu, saya ingin menjaga cucu saya darimu,” lanjut Ustadzah Salamah.
Meskipun hati Hamid terasa begitu sakit setelah mendengar ucapan dari Ustadzah Salamah, namun ia terus mencoba untuk bersabar dalam menghadapi setiap perlakuan dari ibu mertuanya itu. Hamid hanya dapat mengangguk mendengar pernyataan ibu mertuanya tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi, Hamid kembali menjalankan mobilnya. Saat sedang mengendarai mobil, Ustadzah Salamah terus mengingatkan Hamid untuk menurunkan kecepatannya .Hamid pun menuruti perintah ibu mertuanya itu. Dalam keadaan yang mengkhawatirkan seperti itu Hamid ingin melupakan kebiasaannya untuk mengendarai mobil dengan kecepatan yang tinggi. Tapi Ustadzah Salamah terus melontarkan amarah padanya walaupun ia sudah berbuat sesuatu hal yang benar.
Hati terdalam Hamid sangat mendambakan kasih sayang dari sang ibu mertua. Seperti orang lain yang hidup dalam keharmonisan keluarga. Mereka yang selalu mendapatkan kasih sayang dari mertuanya menjadikan Hamid merasa iri. Namun Hamid mencoba melupakan semua masalah yang terjadi. Ia tak ingin membanding-bandingkan takdirnya dengan takdir orang lain. Ia hanya ingin memfokuskan dirinya pada kesembuhan Surya.
Keberuntungan berpihak pada Hamid pagi hari itu. Setelah tiba di rumah sakit, Surya segera mendapatkan pemeriksaan dari dokter. Selama menunggu Surya yang tengah diperiksa oleh sang dokter, Ustadzah Salamah kembali berulah. Mulutnya yang pedas itu tak pernah berhenti untuk mengucapkan kata-kata buruk pada Hamid. Hamid tak ingin menghiraukan ucapannya. Ia tetap mendengarkan setiap perkataannya dari Ustadzah Salamah. Sebagai wujud rasa hormatnya pada ibu mertuanya itu. Namun ia tak ingin memasukkan isinya ke dalam hatinya. Tapi memasukkannya ke dalam pikirannya agar ia dapat mengambilnya sebagai nasihat.
Di tengah-tengah asyiknya Ustadzah Salamah menghina Hamid dengan kata-kata tajamnya, seorang dokter keluar dari ruangan Surya. Ustadzah Salamah pun langsung menghentikan ucapannya. Lalu ia dan Hamid secara bersama-sama menghampiri sang dokter.
“Surya terkena demam berdarah. Dan dia harus dirawat disini selama beberapa hari,” ujar Doter setelah memeriksa Surya.
“Baik, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya!” jawab Hamid dengan cepat.
“Baiklah kalau begitu, saya permisi terlebih dahulu,” ucap dokter yang langsung berjalan meninggalkan Hamid dan Ustadzah Salamah di depan ruangan Surya itu.
“Kamu lihat sendiri kan akibat dari perbuatanmu yang tak bisa menjaga Surya dengan benar? Sekarang cucu saya yang harus menerima perbuatan burukmu padanya,” ucap Ustadzah Salamah dengan nada marah.