Tak terasa hari-hari berlalu begitu cepatnya. Minggu demi minggu pun telah berganti. Kerinduan Hamid pada keluarga kecilnya akan terbalaskan karena beberapa saat lagi ia akan kembali ke rumahnya untuk berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya itu.
Di siang hari yang amat terik, Hamid semakin tak kuasa untuk menahan rasa rindunya terhadap keluarganya. Mobil yang tengah membawanya pulang ke rumah masih terasa lambat untuknya. Membuatnya ingin mengendarai mobil itu sendiri. Namun ia mencoba untuk menenangkan hatinya. Mencoba untuk bersabar untuk segera tiba di depan rumahnya.
“Pada hari ulang tahunku kali ini kak Zahra menyiapkan hadiah apa untukku?” gumam Hamid dalam perjalanan pulang.
Segera setelah Hamid tiba di depan rumahnya, ia berlari melewati gerbang rumahnya dengan cepat. Hatinya sudah tidak sabar lagi untuk menemui keluarga yang telah ia rindukan sejak lama.
Alangkah terkejutnya ia ketika tiba di dalam rumahnya. Tiada seorang pun yang menjawab salamnya. Tidak Zahra ataupun Surya. Hanya seorang asisten rumah tangganya yang menjawab salam darinya. Keadaan ini membuat Hamid semakin merasa heran dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya itu.
“Eh Den Hamid sudah pulang. Bibi sudah menyiapkan makanan untuk Aden. Sekarang Aden bisa langsung makan dan istirahat. Aden pasti sangat lelah,” ucap Ningsih menyambut kepulangan Hamid.
“Bibi? Kenapa Bibi yang menyambut kepulanganku? Biasanya Kak Zahra yang melakukannya," jawab Hamid heran.
Hamid menarik bibirnya hingga terbentuk sebuah senyuman tipis di wajahnya. Lalu ia kembali berkata, "Oh, aku tahu. Pasti Kak Zahra sedang mempersiapkan hadiah untuk ulang tahunku, kan?”
“Iya Den.Tapi kata Non Zahra Aden harus pergi ke rumah sakit dulu supaya Aden bisa mengambil hadiahnya,” sahut Asep yang tiba-tiba datang.
“Apa? Rumah sakit? Maksudnya apa? Aku tidak mengerti," tanya Hamid terkejut.
"Lebih baik aku pergi saja sekarang. Bibi tolong letakkan tas saya di kamar!” lanjut Hamid.
Hamid meletakkan tas yang digendongnya di atas lantai. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan berlari. Ningsih memintanya untuk mengisi perutnya yang telah kosong. Tapi Hamid tak menghiraukannya. Ia terus berlari untuk mengambil mobil. Tanpa mengganti pakaiannya, ia langsung pergi.
Segera setelah memarkirkan mobilnya, Hamid langsung mencari keberadaan Zahra. Namun saat baru tiba di depan pintu masuk, ia dikejutkan dengan hadirnya seorang anak laki-laki yang tengah duduk seorang diri sambil menangis. Hamid terus memperhatikan anak tersebut. Semakin lama ia memperhatikannya, ia semakin merasa bahwa dirinya telah mengenal anak yang sedang ditemuinya itu. Merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi, ia pun mendekati anak tersebut.