Setelah Zahra diperbolehkan untuk kembali pulang, Hamid segera mempersiapkan diri untuk merayakan hari ulang tahunnya. Sebelumnya, dirinya telah memerintahkan kedua asisten rumah tangganya untuk mempersiapkan acara tersebut. Sebuah acara yang juga sengaja dipersiapkan untuk merayakan hari kelahiran Kartika. Tak lupa ia juga memerintahkan kedua asisten rumah tangganya itu untuk mengundang para tetangga untuk menghadiri acara tersebut.
Di samping itu, Hamid juga telah menghubungi beberapa temannya untuk turut merayakan hari bahagia tersebut. Walaupun tak semua bisa datang karena telah disibukkan dengan kariernya masing-masing. Namun ia tak mempermasalahkan hal tersebut jika Wisnu tetap bersedia datang.
Wajah-wajah bahagia para tamu mewarnai pesta ulang tahun Hamid yang juga acara penyambutan kelahiran Kartika. Namun nampaknya hal tersebut tidak dirasakan oleh Zahra yang telah melahirkannya. Rencana Hamid untuk mengadakan sebuah pesta untuk menyambut kelahiran Kartika menjadikan jantungnya tak bisa berdetak dengan kecepatan normal. Memang pesta itu diadakan dengan alasan hari kelahiran Hamid. Bukan hari kelahiran Kartika. Namun sikap Hamid yang terus menampakkan wajah Kartika di sepanjang acara menciptakan rasa khawatir di dalam hatinya. Ia menjadi takut jika rahasianya terbongkar dengan sikap suaminya tersebut.
“Kok Zahra bisa melahirkan lagi, ya? Kapan suaminya pulang?” seorang tamu bertanya pada seorang teman di sampingnya.
Tamu yang berdiri di sampingnya menjawab, “Tidak tahu. Dia terlalu sibuk mengurus bisnisnya sampai kita tidak tahu kabar tentang keluarganya.”
“Memang kita tetangga yang jauh. Jadi tidak terlalu mengerti bagaimana kehidupan Zahra. Makanya kabar seperti ini kita tidak mengetahuinya,” tambahnya.
“Jangan-jangan suaminya Zahra hanya memanfaatkan harta Zahra saja. Dan setiap kali Zahra hamil, suaminya langsung kabur. Buktinya suaminya tidak pernah pulang saat Zahra melahirkan.” Wanita yang wajahnya mulai mengeriput itu berkata kembali.
“Memangnya siapa ya suaminya Zahra? Selama sekitar tujuh tahun Zahra tinggal di keluarga Hamid, kita tidak pernah tahu orangnya yang mana?”
Wanita yang terlihat lebih muda dari lawan bicaranya itu mengangkat kedua bahunya. Bibirnya sedikit manyun sebelum akhirnya dirinya menjawab, “Tidak tahu. Zahra datang ke rumah ini kan statusnya sudah bersuami. Dan katanya suaminya kerja di luar kota. Jadi daripada dia hidup sendiri, dia disuruh Pak Yasir ke rumah ini sekaligus membantu Pak Yasir mengurus bisnisnya.”
“Kalau begitu, kehadiran Zahra di keluarga Hamid malah menambah beban saja, dong. Buktinya perusahaan Pak Yasir diambil. Sekarang mungkin Hamid yang harus ikut bertanggung jawab atas anak-anaknya karena nyatanya Hamidlah yang lebih dekat dengan kedua anaknya. Lihat saja, sejak tadi Hamid terus menggendong anak Zahra itu!”
Kedua wanita paruh baya itu mengarahkan perhatiannya pada Hamid yang berdiri tak jauh dari mereka dam terlihat tak pernah melepaskan bayi Zahra dari gendongannya sejak awal acara. Keduanya tak pernah berhenti untuk membicarakan tentang Zahra. Memang keduanya merupakan tetangga yang rumahnya sedikit jauh dari Hamid. Namun mereka mengetahui banyak hal tentang keluarga Hamid. Karena memang nama Yasir sudah terkenal sejak pria yang menjadi ayahnya Hamid itu masih berusia muda. Yang mereka tak tahu hanyalah tentang Zahra.
Mereka tak mengetahui sama sekali tentang seorang wanita yang selama beberapa tahun terakhir tinggal bersama keluarga Hamid tersebut. Yang menurut kabar yang terdengar, wanita tersebut merupakan keponakan jauh Yasir yang dipanggil untuk tinggal di rumahnya dengan alasan mengurus bisnis yang sedang dijalankan ayah Hamid tersebut.
Di sisi lain, seorang wanita berhijab nampak berjalan menuju kamar Zahra. Wanita itu berjalan sambil memasang senyuman di wajahnya. Dan alasan mengapa ia membentuk senyuman di wajahnya itu tak lain adalah karena ia juga telah mendengar perbincangan yang terjadi di antara dua orang tamu tersebut tentang Zahra. Ia merasa bahwa hal tersebut akan mempermudah jalannya untuk menjalankan rencana yang telah disusunnya sebelumnya.
Dengan senyuman yang masih menempel di wajahnya, wanita tersebut mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Zahra yang masih duduk bersandar di dalam ranjang tidurnya dengan kedua kaki yang diluruskan. Tanpa merasa ragu sedikitpun, wanita itu berkata dengan nada berbisik setelah tiba di dekat Zahra, “Apa kamu tahu berita terbaru, Zahra?”