Hamid terlihat begitu bahagia di hari ulang tahunnya. Ia terus berada di dekat Kartika dan tak mau meninggalkannya sama sekali. Duka di hati Zahra seketika menghilang ketika melihat kedekatan Hamid dengan Kartika. Semua yang baru saja terjadi padanya lenyap seketika bagai diterpa angin.
Ketika itu Wisnu baru saja memasuki rumah Hamid. Setelah memberi salam pada Ustadzah Salamah, ia tak ingin membuang waktunya lagi untuk mencari keberadaan Hamid. Setelah cukup lama mencari, akhirnya ia dapat menemukan sahabatnya itu tengah berada di dekat ayunan putrinya yang baru terlahir ke dunia. Wisnu pun berjalan mendekatinya dan memperhatikan bagaimana cara sahabatnya itu memandang putrinya.
Melihat Hamid yang terus memandang Kartika dengan mata lembutnya dan tak lagi memperhatikan sekelilingnya membuat Wisnu yang baru saja datang merasa iri. Kedatangannya tak disambut dengan hangat seperti di hari biasanya saat dirinya datang ke rumah sahabatnya itu. Namun ia tak ingin menjadikannya sebagai sebuah masalah. Ia memaklumi apa yang telah dilakukan oleh Hamid adalah hal yang wajar bagi semua orang.
“Waah ... Putri Anda cantik sekali, Komandan!” ucap Wisnu sambil berdiri di belakang Hamid.
Mendengar sebuah suara berada di dekatnya, Hamid pun menjadi terkejut. Ia langsung menolehkan wajahnya ke arah suara. Ketika ia mengetahui bahwa Wisnulah yang berada di belakangnya dan tengah mengajaknya berbicara, rasa terkejutnya semakin bertambah. Tapi dibalik rasa terkejutnya itu ia juga merasa sangat senang dengan kedatangan sahabatnya itu. Terlebih di hari yang begitu istimewa baginya.
“Eh Wisnu! Kamu sudah datang? Kamu mengejutkanku saja,” ucap Hamid.
“Lagipula kamu terlalu fokus pada putrimu. Dan kanu lupa untuk menyambut kedatanganku,” jawab Wisnu sambil menunjukkan senyum di wajahnya.
“Wajarlah Wisnu. Aku baru pertama kali ini melihat kelahiran anakku. Kamu tahu sendiri kan, dulu saat kelahiran Surya aku masih menjalani pendidikan di Akademi Militer bersamamu. Jadi aku tidak bisa melihat kelahirannya."
"Sekarang kamu sudah datang. Mari kita berbicara terlebih dahulu,” lanjut Hamid.
“Ayo!”
Hamid memandang Kartika sejenak lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Wisnu. Kemudian ia meninggalkan putrinya itu dan menyerahkan penjagaannya pada Zahra. Setelah itu ia mengajak sang sahabat untuk menjauhi tempat keramaian. Tepat di ruang keluarga, Hamid menghentikan langkahnya dan mempersilahkan sahabatnya untuk duduk.
Wisnu menempatkan diri untuk duduk di sebuah sofa yang ditunjuk dengan tangan Hamid. Setelah itu, ia memberikan bingkisan yang telah ia persiapkan dari rumah sebagai hadiah ulang tahun untuk Hamid dan putrinya. Hamid pun menerimanya dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Hamid memerintahkan seorang asisten rumah tangganya untuk menjamu Wisnu dengan berbagai jenis makanan yang telah dipersiapkannya dalam perayaan ulang tahunnya tersebut. Asisten rumah tangga itu pun mengangguk lalu pergi untuk menjalankan tugas yang baru diberikan Hamid padanya. Tak lama kemudian asisten rumah tangga itu kembali dengan nampan yang berisi beberapa jenis makanan juga segelas minuman dingin. Asisten rumah tangga itu bergegas untuk meletakkan semua yang dibawanya di atas meja. Setelah beberapa jenis makanan dan minuman tersaji di atas meja, Hamid mempersilahkan Wisnu untuk memakannya terlebih dahulu sebelum mereka memulai perbincangan mereka.
Tangan kanan Wisnu mulai mengambil salah satu makanan yang ada di atas meja. Belum sempat ia memakannya, tiba-tiba saja Surya tak sengaja melewati ruangan tersebut dengan wajah yang ditekuk. Melihat Surya dengan raut wajah yang nampak lesu, Hamid pun memanggilnya dan menyuruhnya untuk duduk di dekatnya. Sebenarnya Surya sedang tak ingin berada di dekat ayahnya. Ia ingin pergi menyendiri untuk beberapa waktu. Namun dengan sangat terpaksa, Surya menuruti perintah ayahnya itu karena sang ayah sedang duduk bersama tamunya.
Setelah tiba di dekat Hamid, Surya tak ingin duduk di dekat ayahnya itu. Ia menjaga jaraknya dari sang ayah. Hal tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan besar di hati Hamid dan Wisnu. Namun Hamid tak ingin mempermasalahkannya. Hamid memandangi wajah putranya itu sambil menunjukkan senyumannya padanya. Lalu ia bertanya, “Kamu ini kenapa? Kenapa kamu berjalan seorang diri dengan wajah seperti ini?”
”Kenapa kamu tidak bergabung dengan ibu atau ayah tadi?” tanya Hamid lagi.