Malam hari semakin larut. Pesta perayaan hari kelahiran Hamid telah usai dan semua orang mulai meninggalkan rumah Hamid satu persatu. Juga tiba saatnya bagi Wisnu untuk berpamitan pada Hamid. Hamid memeluk Wisnu dengan sangat erat. Setelah merasa cukup puas berada dalam pelukan sahabatnya itu, ia kemudian ia melepaskannya untuk kembali ke rumahnya.
Setelah semua orang pulang, Hamid dan Zahra bersiap untuk beristirahat. Rasa kantuk mulai dirasakan oleh Hamid. Zahra memasuki kamar terlebih dahulu karena harus menidurkan Kartika.
Sementara Zahra menidurkan Kartika, Hamid mencari keberadaan Surya. Setelah menemukan putranya itu, ia mengatarnya ke dalam kamarnya dan menyuruhnya untuk segera tidur. Kemudian ia pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah pintu kamar baru saja dibukanya, ia langsung memalingkan wajahnya setelah melihat Kartika yang telah tertidur pulas. Ia mencoba untuk melupakan bahwa ia mempunyai seorang putri yang bisu. Tetapi tetap saja tak bisa. Bayangan tentang takdir buruknya hari itu terus saja menghantuinya.
Hamid mengalihkan pandangannya pada Zahra kemudian berkata, ”Kak, untuk malam ini aku tidur di kamar lain saja. Tidak apa-apa, kan?”
Zahra terkejut mendengar pertanyaan dari Hamid kemudian menjawab, ”Memangnya kenapa? Apa kamu tidak mau tidur dengan Kartika? Apa kamu tidak sayang padanya?”
“Bukan. Bukan seperti itu maksudku. Tapi aku hanya ingin....” jawab Hamid dengan sedikit gugup.
“Aku mengerti. Tidak apa-apa. Tidur saja dengan Surya. Kamu pasti belum terbiasa untuk tidak tidur bersama Surya, kan?" ucap Zahra dengan menghadirkan sedikit senyum di wajahnya.
"Sudah pergi saja sekarang! Surya pasti belum tidur,” tambahnya.
“Terima kasih, Kak,” jawab Hamid dengan nada yang masih gugup.
Setelah menyelesaikan dialognya dengan Zahra, Hamid menutup pintu kamar. Dengan tubuh kakunya ia masih berdiri di depan pintu. Sebenarnya Hamid masih menginginkan untuk terus bersama Kartika. Namun terkadang hatinya tak kuasa untuk terus berada di dekat putrinya itu. Ia tak kuasa untuk mengingat kekurangan sang putri yang sangat ia sayangi. Begitu pula dengan Zahra yang sangat ingin jika Hamid dapat menghabiskan waktunya yang sebentar itu untuk putrinya yang baru lahir. Tapi ia mengerti perasaan Hamid yang masih sangat hancur akan kelahiran Kartika. Ia ingin agar hati Hamid kembali tenang walau harus menjauhi Kartika untuk sementara waktu.
Hamid masih berdiri tegak dan terdiam di depan pintu kamarnya. Secara tiba-tiba Surya datang dan berdiri di belakangnya. Ia memanggilnya dan membuatnya terkejut. Surya merasa sangat heran dengan sang ayah yang tak ingin tidur dengan Kartika. Padahal ayahnya itu terlihat sangat akrab dengan adiknya sepanjang hari.
“Ayah mau pergi kemana? Ayah tidak mau tidur bersama adik ya? Karena adik bisu, kan?” tanya Surya dengan nada menggoda.