Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #46

Fitnah Masyarakat bagi Hamid

Rasa lelah yang teramat membuat hari terasa begitu cepat. Baru saja Hamid membaringkan tubuhnya sejenak, hari sudah berganti. Hamid yang masih merasa lelah berjalan menuju meja makan untuk mengisi tenaganya di pagi hari.

Surya berlari setelah mencium aroma sedap makanan di meja makan. Setelah tiba di meja makan, ia segera menempatkan dirinya untuk menikmati hidangan. Ustadzah Salamah yang telah berada di sana langsung menyiapkan makanan untuknya.

“Surya, Eyang memasak ayam goreng ini khusus untukmu," ucap Ustadzah Salamah sambil meletakkan sepotong ayam di atas piring Surya.

“Waah... Aku sangat suka ayam goreng. Terima kasih, Eyang," seru Surya.

“Ummi memasak untukku juga, kan?” tanya Hamid yang duduk di samping Surya.

Ustadzah Salamah memicingkan matanya pada Hamid. Kemudian ia menjawab, ”Maaf ya. Selamanya saya tidak akan pernah memasak untukmu. Kamu makan saja apa yang ada di depanmu itu! Jangan banyak bicara!”

Hamid menundukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Ustadzah Salamah. Ia terus mencoba untuk tetap bersabar hingga ibu mertuanya itu dapat bersikap lembut kepadanya. Sampai ibu mertuanya itu dapat menerimanya sebagai seorang menantu yang sesungguhnya.

“Kenapa hari ini Eyang yang memasak? Kenapa bukan ibu seperti biasanya?” tanya Surya sambil terus mengunyah makanannya.

“Memangnya kenapa? Apa Eyang tidak boleh memasak untuk cucu Eyang ini?” jawab Ustadzah Salamah sambil tersenyum.

“Bukan begitu. Tapi aku hanya takut kalau ibu melupakanku setelah adik lahir,” ucap Surya dengan wajah muram.

Hamid tersenyum lalu menggelengkan kepalanya setelah mendengar apa yang diucapkan Surya. Ia pun berkata pada putranya itu, ”Nak, ibu tidak melupakanmu. Tapi ibu hanya mau mengurus adikmu sebentar saja. Jadi kamu jangan pernah bersedih!”

“Bagaimana kalau nanti sore kita pergi membeli mainan. Kita habiskan sore kita bersama. Bagaimana?Kamu mau kan?” lanjut Hamid

Surya menganggukkan kepalanya tanpa menjawab dengan kata apapun. Ustadzah Salamah semakin kesal melihat kedekatan Hamid dan Surya. Ia memukul meja dengan tangannya untuk melampiaskan amarahnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Hamid bersama Surya di meja makan.

Hamid dapat memaklumi sikap ibu mertuanya yang demikian. Ia telah banyak melihat perlakuan yang serupa. Saat Ustadzah Salamah merasa kesal melihat keharmonisan keluarganya, ia pun menyuruh Surya untuk melanjutkan menikmati makanannya. Surya tersenyum kemudian mengambil sesendok nasi. Nasi tersebut lalu dimasukkan ke dalam mulutnya Merasa senang dengan sikap yang ditunjukkan Surya padanya, ia lalu membalas suapan Surya. Mereka pun saling menyuapi hingga makanan yang ada di dalam piring mereka habis tak tersisa.

Pada senja hari, Hamid menepati janjinya pada Surya. Ia mengajak putranya itu untuk pergi ke sebuah toko mainan yang sangat terkenal di kotanya. Kegembiraan tergambar jelas di wajah polos Surya setelah tiba di toko mainan tersebut. Matanya langsung tertuju ada mainan-mainan yang berada di sekitarnya. Segera tangannya memilih dan mengambil beberapa jenis mainan yang ia sukai.

Hamid begitu senang melihat keceriaan Surya dalam memilih mainan. Sambil menunggu Surya memilih mainan, Hamid juga mengambil beberapa jenis mainan yang dianggapnya indah. Yang mana mainan itu akan ia hadiahkan untuk putrinya.

Setelah mendapatkan semua mainan yang ia suka, Surya segera membawanya ke meja kasir. Tepat di belakangnya, Hamid mulai meletakkan mainan-mainan yang berada di tangannya dengan perlahan. Surya merasa heran melihat ayahnya membeli begitu banyak mainan yang tak ia suka sama sekali.

“Ayah, kenapa Ayah mengambil banyak mainan yang tak aku sukai? Lagipula itu seperti mainan bayi. Kenapa Ayah harus membelinya?” tanya Surya penuh keheranan.

“Memangnya kenapa? Ini kan untuk adikmu,” jawab Hamid.

“Adik juga dibelikan? Kenapa harus dibelikan?Itu tidak perlu. Lebih baik semua mainan itu ditukar dengan mobil-mobilan atau robot-robotan saja. Itu akan lebih berguna,” lanjut Surya.

“Httss... Jangan berbicara seperti itu! Kartika itu juga anak ayah. Kalau kamu membeli mainan, maka Kartika juga berhak dibelikan mainan.”

Lihat selengkapnya