Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #48

Kesedihan Tanpa Ujung

Hamid kembali untuk menikmati pesta. Ia mencoba untuk menunjukkan senyumannya di hadapan semua orang yang hadir dalam pesta tersebut. Tak tampak lagi air mata yang mengalir deras di pipinya. Melihat Hamid dapat tersenyum kembali, hati Wisnu kembali merasa tenang. Ia pun dapat kembali melanjutkan pesta pernikahannya dengan hati yang senang.

Namun sebaliknya, Zahra masih bertanya-tanya dalam hatinya tentang apa yang telah dilakukan Hamid sehingga harus menghindar dari semua orang. Ia merasa bahwa senyuman di wajah suaminya seolah bukanlah senyumannya yang sebenarnya. Ia dapat melihat sebuah kebohongan di wajah suaminya itu. Hatinya masih mengatakan bahwa Hamid sedang menyimpan sebuah rahasia dari dirinya. Air mata yang mengalir di pipi Hamid saat suaminya itu meninggalkan ruangan menjadi saksinya.

Hamid berusaha dengan keras agar ia dapat melupakan semua masalah pada dirinya dan ikut serta menikmati kemeriahan pesta pernikahan Wisnu bersama para tamu lainnya. Hingga dirinya dan Wisnu terhanyut dalam kebahagiaan mereka dalam pesta tersebut. Hingga waktu yang terus berjalan tak dirasakan oleh mereka.

Malam datang dengan membawa serta kegelapannya serta anginnya yang begitu dingin. Menandakan bahwa pesta harus segera diakhiri. Semua tamu berbondong-bondong kembali ke rumah mereka masing-masing layaknya pada saat mereka berbondong-bondong datang ke pesta tersebut.

Hamid merupakan tamu terakhir yang kembali dari pesta pernikahan Wisnu. Ia sengaja melakukannya sebagai seorang sahabat yang paling dekat dengannya. Setelah tiba waktunya, ia meminta izin pada Wisnu untuk pulang. Maka dengan berat hati, Wisnu harus merelakan kepulangan sahabat tercintanya itu. Karena sesungguhnya ia masih ingin terus bersama dengan sang sahabat. Ia terpaksa melepas kepergiannya karena waktu yang memerintahkannya.

Sebelum ia melepaskan Hamid untuk pulang, Wisnu memeluk tubuh sang sahabat dengan sangat erat. Begitu eratnya hingga ia tak ingin melepaskan pelukannya tersebut. Setelah merasa cukup lama memeluk sahabatnya tersebut, ia pun melepas pelukannya dengan perlahan. Baru kemudian ia memberi izin padanya untuk pulang.

“Semoga hidupmu dipenuhi dengan kebahagiaan, Kawan,” ucap Hamid setelah dirinya lepas dari pelukan Wisnu.

“Kamu juga ya. Nikmatilah apa yang ada dalam kehidupanmu ini!" jawab Wisnu dengan membisikkannya pada telinga Hamid.

"Dan jangan lupa! Aku akan selalu ada untukmu,” lanjutnya.

Hamid mengangguk pelan. Lalu ia melambaikan tangannya pada Wisnu. Kemudian ia mulai memasuki mobilnya. Setelah duduk dengan nyaman di dalam mobilnya, ia muali menjalankan mobilnya itu sambil terus melambaikan tangannya pada Wisnu.

Hamid langsung merebahkan tubuhnya setelah tiba di kamarnya. Sementara itu, Zahra masih berdiri dengan tubuh kakunya. Ia ingin sekali menanyakan pada Hamid tentang hal yang sebenarnya terjadinya padanya saat berada di pesta pernikahan Wisnu. Tapi ia tak mempunyai keberanian untuk mengutarakannya.

Zahra duduk di samping Hamid. Keingintahuannya yang tinggi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi pada suaminya membuatnya memutuskan untuk memberanikan diri mempertanyakannya pada sang suami. Dengan masih menyimpan ragu ragu di dalam dirinya, ia berkata, ”Hamid, sebenarnya ada apa denganmu tadi? Kenapa kamu menangis di pernikahan Wisnu?”

Lihat selengkapnya