Sebuah Pengabdian

Anggrek Handayani
Chapter #49

Hamid, Surya, dan Kartika

Hamid tak tahu mengapa ia merasa sangat berat untuk meninggalkan keluarganya. Terutama Kartika yang baru saja terlahir ke dunia. Kakinya begitu kaku saat akan meninggalkan rumah. Matanya terus saja memandangi putri kecilnya yang tengah tertidur lelap di ayunan.

Matahari sudah hampir tenggelam. Berkali-kali Asep meminta Hamid untuk segera turun dari kamarnya. Namun Hamid masih saja berdiri terpaku dengan seragam lorengnya itu.

“Aku tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Aku merasa sangat berat untuk meninggalkan Kartika. Mungkinkah ucapan Kakak itu benar bahwa seorang ayah itu lebih sayang kepada putrinya daripada putranya?” tanya Hamid.

“Sudahlah, bukan saatnya untuk memikirkan itu. Sekarang kamu turun dan berangkat saja! Kalau tidak kamu bisa terlambat nantinya," jawab Zahra.

Hamid berjalan mendekati Kartika yang masih tertidur lelap. Kemudian ia membelai kepala putrinya itu dan mencium keningnya. Secara tiba-tiba Surya datang membuka pintu kamar. Mengejutkan Hamid dan Zahra. Surya yang baru saja datang langsung memeluknya tubuh Hamid dari belakang.

Hamid yang mengetahui kedatangan Surya langsung menggendongnya. Kemudian ia mencium kening dan kedua pipinya. Surya memeluk tubuh ayahnya dengan sangat erat. Ia tak ingin melepaskan ayahnya dari pelukannya itu.

Zahra menyuruh Surya untuk turun dari gendongan Hamid. Surya pun mengangguk dan segera menuruti perintah ibunya itu. Hamid kemudian berpamitan pada Zahra dan Surya. Zahra melepas kepergian Hamid dengan senyuman di wajahnya. Agar suaminya itu dapat menjalankan tugasnya dengan penuh semangat.

Setelah berpamitan pada keluarganya, Hamid berjalan perlahan untuk pergi menemui Asep yang telah menunggunya sejak lama di luar. Surya ingin mengejar sang ayah. Namun Zahra melarangnya dengan menggenggam tangan kanannya dengan erat.

Hamid bergegas untuk berangkat. Ia pun tak melihat ke belakang lagi. Surya masih ingin menghabiskan hari-harinya bersama ayahnya. Namun takdir yang tak mengizinkannya membuatnya harus menahan rasa rindu terhadap sang ayah untuk waktu yang lama.

Lama sudah Surya menunggu kepulangan Hamid. Hingga tak dirasanya waktu telah berlalu begitu cepat. Berbulan-bulan sudah Hamid pergi. Namun ayahnya itu belum juga kembali. Mungkin tugas yang semakin banyak membuatnya harus berpisah dengan keluarganya untuk waktu yang lebih lama dari sebelumnya.

“Surya, kamu ini kenapa? Ayo ajak adikmu bermain!” tegur Zahra yang melihat Surya terus termenung.

Surya terbangun dari lamunannya kemudian menjawab, ”Hmmm ... Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya merindukan ayah saja.”

Zahra berjalan mendekati Surya sambil tersenyum. Kemudian ia duduk di samping putranya itu lalu berkata, ”Oooh ... Sabar ya. Ayahmu memang belum pulang. Tapi Ibu yakin sekali kalau tidak lama lagi ayahmu pasti pulang."

"Sekarang, kamu ajak adikmu bermain dulu! Ibu akan membuat sarapan untukmu,” lanjut Zahra.

Lihat selengkapnya