Hari minggu telah tiba. Suasana nampak ceria dengan anak-anak yang tengah bermain di luar rumah. Adapula beberapa dari mereka yang bermain di lapangan. Namun suasana tersebut sangat berbeda di rumah Hamid. Surya nampak sangat malas untuk pergi keluar rumah. Ia nampak begitu malas untuk bermain bersama teman-temannya di hari minggu itu. Ia masih memilih untuk menikmati hari minggunya bersama sang adik yang kini telah tumbuh semakin besar. Surya masih berada di tempat duduknya dan asyik menggoda Kartika. Zahra telah beberapa kali memanggilnya untuk pergi ke meja makan dan memakan makanan di piringnya yang telah menunggu lama disana. Namun Surya masih saja menggoda adiknya. Ia seolah tak ingin mendengarkan setiap perkataan ibunya. Ia merasa sangat malas menuruti perintah ibunya untuk menikmati sarapannya.
Zahra merasa sangat kesal pada Surya yang tak ingin menuruti perintahnya itu. Bahkan ia tak pernah mau mendengarkan panggilannya. Tak ingin membuang waktu lagi, ia pun menyuruh Rani yang baru saja datang untuk segera mengambil Kartika yang duduk dikelilingi berbagai macam mainan. Kartika langsung menangis ketika dirinya dijauhkan dari Surya. Rani pun berusaha untuk menenangkannya. Setelah Rani pergi dari hadapannya, Zahra menghampiri Surya kemudian melototkan matanya padanya. Hingga membuat Surya merasa ketakutan dan tanpa berkata apapun lagi, ia langsung berlari ke meja makan tanpa memikirkan apapun lagi.
Rani masih berusaha untuk menenangkan Kartika yang tengah menangis dalam gendongannya. Sementara itu, Hamid mulai melangkahkan kakinya untuk mendekati Zahra. Ia pun menegur istrinya itu atas apa yang baru saja dilakukannya pada Surya.
"Kenapa Kakak harus memarahinya seperti itu? Tidak perlu memarahinya untuk membuatnya menjadi anak yang penurut. Cukup dengan manasihatinya saja seperti biasa,” tanya Hamid heran.
“Tapi Hamid, kalau kita memanjakannya, maka nanti dia akan tumbuh menjadi anak yang keras kepala,” jawab Zahra.
“Tidak semua anak manja akan tumbuh menjadi anak seperti itu,” bantah Hamid
“Pasti akan seperti itu. Sudah banyak buktinya.”
Hamid menghela nafas sejenak. Ia tak ingin memperpanjang masalah dengan berdebat dengan Zahra di hari yang masih pagi itu. Ia lalu berkata pada istrinya itu, ”Ya sudah, terserah Kakak saja."
"Tapi jangan terlalu kasar padanya! Itu juga akan berakibat buruk bagi anak," tambah Hamid.
Zahra mengangguk sambil memasang raut wajahnya yang masih nampak kemerahan akibat kenakalan Surya. Setelah menyelesaikan kata-katanya, Hamid berjalan meninggalkan Zahra dan menyusul Surya yang telah terlebih dahulu pergi ke meja makan. Zahra menarik nafas panjang untuk meredakan amarah yang di dalam dirinya. Setelah itu, ia merapikan mainan-mainan Surya yang masih berserakan di ruang tamu. Setelah selesai melakukannya, ia pun memerintahkan salah satu asisten rumah tangganya untuk kembali meletakkan mainan-mainan tersebut pada tempatnya. Kemudian menyusul ke meja makan.