Dari dulu, aku tidak pernah setuju dengan omongan Shakespeare, “Oh … what’s a name? A rose would smell sweet by any other names” –apalah arti sebuah nama, bunga mawar akan tetap harum meski dengan nama lain. Apalagi setelah aku tahu kalau itu diucapkan seorang gadis remaja yang sedang bucin–budak cinta–berat. Aku tahu karena pernah menonton filmnya: “Romeo & Juliet” –dan menurutku “Romeo & Juliet” itu benar-benar kisah cinta super konyol!
Bagiku, nama adalah doa. Aku pikir bukan hanya aku yang berpikir demikian. Banyak, kalau bukan semua orang. Bahkan orang terdahulu, orang-orang besar, pemuka agama. Semua mengatakan pentingnya memberikan nama yang baik untuk anak.
Sebagai contoh, kakekku, Opa Willy, memiliki nama lengkap William Wicaksana. Tentu nama itu adalah doa dari orang tuanya agar Opa Willy tumbuh menjadi orang yang bijaksana. Dan menurut sepengamatanku, Opa Willy memang orang yang sangat bijaksana. Setidaknya menurutku.
Opa Willy, misalnya, tidak pernah mengekang anak-anaknya. Baginya, tugas orang tua adalah sebagai kompas untuk mengarahkan. Namun, kompas tetaplah kompas. Hanya sebatas alat. Keputusan memilih tetap berada di tangan masing-masing.
Opa Willy dulu adalah seorang guru, atau dosen. Aku agak lupa, sih. Namun, yang jelas, beliau adalah seorang pendidik. Aku ingat, Opa Willy pernah bercerita kalau dulu orang tuanya adalah pendidik juga. Makanya, Opa Willy pernah berseloroh, jangan-jangan jiwa pendidik adalah tradisi yang mendarah daging di keluarga mereka. Walau begitu, Opa Willy tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya.
Opa Willy memiliki lima orang anak–ayahku adalah anak termuda. Dan tidak ada satu pun yang berprofesi sebagai pendidik, baik guru maupun dosen. Bahkan ayahku menggeluti dunia yang sangat jauh berbeda, yaitu fotografi. Entah dari mana ayahku mendapatkan bakat memotret. Yang jelas, bakatnya menurun padaku.