Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #2

Chapter 1: Untuk Sebuah Permulaan

Tak pernah kusadari, aku segila ini

Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu

Tak pernah kumengerti, aku sebodoh ini

Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu

Langkah kaki telanjang Rayla baru juga terayun dari atas hamparan sajadahnya di pagi buta ini waktu Singapura, ketika dentingan lagu “Hidup Untukmu Mati Tanpamu” dari Noah Band itu seketika mendadak terngiang-ngiang memenuhi sekujur ruang kepalanya di dalam kamar tidur dari unit apartemen yang rasanya sudah lima tahun dikantongi oleh Tiffany ini. Melangkah lebih jauh dari kamarnya, di dapur yang memang biasanya sudah ‘mengepul’ sejak pagi buta seperti ini hampir setiap harinya—usai cukup intens bolak-balik mampir ke sini belakangan, dia menemui Tiffany yang sedang memasak. Sama seperti Rayla dan Stevie, perempuan 23 Tahun ini pun kini telah usai menunaikan hajat rutin Shalat Subuh, diikuti oleh Christoff.

Bertegur sapa mengawali pembukaan rutinitas pagi, seiring Tiffany menuangkan sepasang sendok margarin kuning ke wajan bermuatan nasi putih penuh, Rayla lantas menyinggung lagi tentang apa yang sejatinya hendak dia lakoni bersama para sahabat baiknya dalam kunjungan untuk kesekian kalinya di Singapura hari ini. Mengenakan celana legging selutut laksana sepasang perempuan barusan, dia lantas menanyai mereka. 

“Eh … Stevie, kamu sudah baca ‘kan draft proposal yang aku kirim sejak masih di Yogyakarta dan Solo tempo hari? Pastinya, kamu juga sudah tahu ya soal mana bagian yang masih perlu kita revisi, paling enggak sedikit lagi hari ini sebelum kita kasih ke Kampus NTU.” Rayla menahan sendiri suaranya ketika dia baru juga sampai bagian preambule ini. 

“Hmmm … Oh yang itu ya, Ray? Iya aku sudah baca. Tuh sudah aku tandai juga bagian yang harus direvisi. Ya … termasuk kategori minor sih, Ray, maksudku revisinya sedikit saja. Coba kamu masukkan referensi buat bahasan tentang … Konteks Geopolitik, ditambah kaitannya sama Geoekonomi Tiongkok, sekaligus dampaknya terhadap Kebijakan Luar Negeri Indonesia selama satu dekade belakangan ini. Di sini kamu masih kurang jelas konteksnya gimana, sebaiknya coba perdalam lagi deh.” Stevie menyeduhkan masukan ini berbarengan dengan beberapa cangkir kopi hangat. Meski dia sempat mengaduh karena ada sejentik tumpahan cairannya yang secara tidak sengaja menciprat kakinya. 

Rayla pun refleks menarik selembar tissue putih dan membantu Stevie membersihkan kakinya dari cipratan kopi tersebut. Usai itu, begitu melihat lagi raut wajahnya, Rayla lagi-lagi menyadari satu kenyataan bahwa kecantikan sahabat baiknya itu masih sama seperti saat dia mengenalinya untuk pertama kali tepat satu dekade silam. Entah perihal apa gerangan yang membuat Stevie jadi tampak cantik di mata Rayla kala itu, sampai-sampai dia yang notabene seorang perempuan saja pun lantas ikut terpikat. 

Kembali lagi pada bahasan utama tentang tujuan Rayla datang lagi ke Singapura kali ini. Usai menyeruput beberapa tegukan pertama kopi buatan Stevie ini, sekaligus sambil menunggu Tiffany selesai memasak Nasi Goreng campur Margarin dan Daging Ayam—Rayla membuka komputer tablet dan menelaah detail setiap kata per kata dalam berkas proposal penelitian yang hendak diajukan kepada Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University (RSIS-NTU), pusat kajian merangkap sekolah pascasarjana untuk bidang Hubungan Internasional dan Kajian Strategis ternama di seantero Negeri Singa ini. Judulnya, seperti yang diungkap Stevie barusan. Bersama mereka sebagai rekan satu grup, ke depan rencananya mereka akan menyusun sebuah kerangka penelitian tentang pengaruh dinamika geopolitik global yang belakangan ini didominasi oleh kebangkitan Tiongkok terhadap kebijakan luar negeri Indonesia. 

Dikaitkan dengan urusan perekonomian sedikit, meski Rayla tahu ini jelas jauh dari ‘setelan pabrik’ pengetahuannya sebagaimana selama ini dia gemar memperhatikan dinamika politik dan keamanan terlebih lagi area politik elektoral, tidak peduli apapun yang terjadi di antara kalangan elit dewasa ini—namun dia kini tentu tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa urusan kerjasama dagang tersebut turut memberikan dampak yang signifikan sekaligus menyangkut erat dengan faktor seberapa besar kekuatan politik dapat mempengaruhi kekuatan suatu wilayah berdasarkan kebijakannya untuk lintas sektor, mencakup diantaranya perekonomian. Dia sadar apabila Ilmu Sosial ternyata dapat saling berkaitan satu sama lain dan dapat dimasuki dari berbagai pintu, sehingga itulah mengapa dia kini paham bahwa perbedaan itu sesungguhnya adalah sebuah kodrat yang dianugerahi Tuhan kepada setiap hamba-Nya di muka bumi ini. 

Stevie datang lagi ke dapur dengan kaki yang sudah bersih dari cipratan kopi barusan, kali ini dengan menenteng komputer tabletnya pula—dia langsung membabat habis setiap detail kata per kata yang sudah Rayla tuliskan dalam proposal risetnya tersebut. Sekian menit meniti dari balik lensa kacamata Ray-Ban-nya yang masih tetap sama sejak di SMA silam—Stevie lalu menyampaikan sebuah masukan berharga untuk Rayla. 

“Ray, coba kamu sekarang buka halaman … 15 deh. Di situ, sekarang baru aku tandai soal cakupan atau jenis-jenis bidang kerjasama antara Indonesia-Tiongkok selama 10 tahun terakhir ini. Menurutku, kamu belum jelas mau menuliskan hasilnya yang sekarang sudah terasa nyata di Indonesia. Apa itu soal … misalnya hilirisasi industri, pengembangan transportasi umum, misalnya, Kereta Cepat WHOOSH, atau kerja sama bidang keamanan sekaligus. Jadi intinya, kamu mau bahas yang mana?” 

Rayla tertegun sendiri mendengar masukan tersebut. Suara Stevie terdengar berdentang-dentang di tengah samar-samarnya pagi buta waktu Singapura ini. 

“Iya Rayla. Ini satu poin yang masih harus kamu perjelas lagi, soalnya kalau enggak ada ini ya otomatis proposal kita dianggap lemah. Enggak ada titik berat yang bisa fokus jelas, ya examiner-nya pun jadi enggak bisa menilai.” Stevie menambahkan lagi komentarnya untuk meyakinkan Rayla. 

“Hmmm … Stevie, apa mendingan kita bahas tentang Kereta Cepat WHOOSH saja? Soalnya menurutku ‘kan ini isunya masih terbilang unik ya, dalam artian sebagian orang kita masih menganggap kereta cepat buatan Tiongkok beda dibandingkan Jepang. Padahal sebenarnya mereka ‘kan setara, malahan Tiongkok punya jaringan yang lebih luas karena secara geografis memang jauh lebih besar juga termasuk faktor cuaca dengan kombinasi sedikit terutama di wilayah selatan.” Pengetahuan Rayla dalam lanskap politik global negeri tirai bambu ini tergolong cukup dalam dibandingkan Amerika Serikat atau Eropa (baca: negara-negara barat) yang selama ini bahkan masih mendominasi hegemoni dunia. 

“KCIC WHOOSH? Nah ide bagus tuh, aku setuju kalau kita bahas itu saja di proposal riset. Sekaligus nanti kita komersialisasikan hasil penelitiannya agar orang-orang bisa lebih paham soal lanskap geopolitik global Tiongkok selama ini.” Naluri pecinta kereta api alias railfans dalam hati Christoff mencuat seketika. 

Rayla menoleh. Di mata Rayla, kakaknya yang juga seorang penyandang autisme spektrum ringan ini ternyata memang tak berubah. Sifatnya atas obsesi terhadap suatu hal tetaplah demikian, hanya berbeda bentuk dan cara pengungkapannya belaka. Tersenyum lucu menyaksikan betapa lugunya sang abang pagi ini, Rayla kemudian dicucuri bonus ‘siraman rohani’ dari Tiffany. 

“Iya Kak Rayla, aku setuju bahas itu saja. Kita ungkap semua kelebihan yang ada dari Tiongkok termasuk peluang buat ekspansi kedepannya di bidang serupa.” Tiffany tahu-tahu menyahut.

Rayla semakin yakin akan menspesifikasi isu penelitiannya di sini. Ia merasakan kobaran api semangatnya kian menyala. Tidak melihat Tiffany tahu-tahu sudah menyuguhkan lagi sebanyak empat porsi Nasi Goreng Ayam di depannya. Setelah itu, sembari menyantap kudapan tersebut—Rayla pun menuangkan segenap hasil brainstorming dengan gengnya itu di komputer tablet. Sambil Stevie yang tetap dengan tangkas memperbaiki setiap hasil ketikan Rayla melalui platform Google Document itu. 

Lihat selengkapnya