Semerbak kopi tampaknya tidak mampu mengalihkan perhatian Crystal dari buku di hadapannya. Terbukti, ia tetap saja membolak-balik halamannya, bahkan ketika akhirnya karyawan minimarket yang disinggahinya itu meletakkan secangkir kopi latte dan sepiring sandwich di hadapannya.
“Silakan sarapannya, Kak.” Karyawan, yang usianya mungkin sekitar 20 tahunan itu menyapa.
Crystal tersentak. “Eh?” Ia menoleh, dan menatap heran. Ia tahu persis jika para karyawan di sini selalu memanggilnya ‘Mbak’ dan bukan ‘Kak’. Crystal yang memintanya. Menurutnya, panggilan tersebut lebih menunjukkan keakraban, selain juga karena Crystal jengkel dengan–entah siapa–yang menyebarkan anggapan bahwa panggilan ‘Mbak’ berkonotasi negatif dan berasosiasi dengan profesi ART (tapi … memangnya ART itu profesi yang buruk?).
“Serius amat, Mbak?” Karyawan dengan name tag bertuliskan “Donny” yang tersemat di celemek hijaunya itu tampak tersenyum menggoda.
“Jangan diganggu, Mas. Orang sibuk itu.” Kali ini yang menyahut adalah pegawai satunya lagi yang duduk di kursi kasir–seorang perempuan muda yang juga tampak berusia sekitar 20 tahunan. Ia mengenakan jilbab berwarna senada dengan celemek hijau yang menjadi seragam di minimarket tersebut. Tampak sebuah name tag tersemat yang bertuliskan “Dania”.
“Nggak.” Seolah tersindir, Crystal segera menutup bukunya–sebuah buku bersampul cokelat muda kaku. Ia lalu beralih pada secangkir kopi latte dan sandwich isi daging di hadapannya.
Crystal segera menyesap kopi latte-nya. Tidak manis, tanpa gula. Yah, minimarket ini memang termasuk yang konsisten dengan pakem kopi, termasuk penyajian latte yang memang seharusnya tanpa gula. Setelahnya, ia mulai melahap sandwich-nya dengan gigitan demi gigitan. Saus tomat berwarna merah tampak menyembul dari potongan roti dan menetes ke bawah. Untung yang terkena adalah lanyard-nya dan bukan pakaiannya.
“Mbak, bisa minta tisu?” Crystal meletakkan potongan sandwich di piring lagi, lalu meminta kepada Dania yang tampak berdiri di belakang mesin kasir–Donny sedang mengecek rak dagangan.
Dania dengan sigap mengambil tisu dan memberikannya kepada Crystal.
“Makasih, Mbak.” Crystal tersenyum, lalu mengelap lanyard-nya. Tampak fotonya dengan pose menyamping dan senyum lebar bak pegawai perusahaan besar. Sebaris nama tertulis di bawahnya: Crystalina Vania Husni.
“Kerjaan beres, Mbak?” Dania bertanya basa-basi.
Crystal lagi-lagi tersenyum sambil mengangkat bahunya.
“Biasanya Mbak Crystal sarapan sambil buka laptop. Tumben ini enggak,” tambah Dania.