Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #4

Chapter 3: Keputusan dan Tekad Bulat

Urusan mengenai acara reuni keluarga ini ternyata dibahas sangat panjang-lebar sampai memakan waktu berhari-hari. Tepat lima hari setelah Bude Astri merilis wacana itu di grup keluarga besar, Rayla dan kawan-kawan yang semakin hari semakin menyadari bahwa tinggal di Singapura ternyata hanya ‘mendapatkan’ yang itu-itu saja, setiap hari beraktivitas di wilayah yang sama, kini jadi berpikir keras untuk kembali lagi ke negara asalnya Indonesia atau pindah mencari peluang belajar dan bekerja di luar kedua negara itu. Seperti yang Rayla pernah usulkan sendiri saat di kopitiam tempo hari. 

Hanya masalahnya, dia masih butuh waktu lebih lama di Singapura ini juga. Dia masih harus memastikan apakah proposal risetnya di Kampus RSIS NTU itu akan sukses tembus kompetisi guna meraih dana hibah atau tidak, sebagaimana itu akan menentukan berapa lama lagi visanya berlaku. Jika lolos, praktis dia harus kembali ke tanah air dulu—paling tidak tinggal selama beberapa hari di Jakarta demi memperoleh perpanjangan visa baru dari Kedutaan Besar Singapura di sana. Atau jika memang belum ada tanda-tanda lampu hijau untuk proposalnya akan segera dinyalakan dalam waktu dekat, hitung-hitung sambil menunggu kejelasannya—dia bisa pulang dulu ke Bandung bersama Christoff. Di Kota Kembang ini, kelak mereka dapat mengikuti acara reuni keluarga besar bahkan andai dibutuhkan—bisa saja mereka pergi ke Purbalingga, Jawa Tengah guna mendulang lebih banyak data tentang leluhur mereka di kota asalnya itu. 

Pikir Rayla jauh ke depan. Sambil rebahan di tempat tidur dengan mengurut paha jenjangnya seperti biasa, mumpung hari ini dia tidak pergi kemana-mana—dia terus memperhatikan detail dengan seksama perkembangan di grup keluarga besarnya. Tanpa dinyana, tengah siang bolong ini, Bude Astri tahu-tahu mengirimkan sebuah berkas berformat PDF kepada para kerabatnya dengan mencantumkan sejumlah rincian detail. Meski belum menentukan kapan reuni akan digelar, namun di balik layar rupanya ia telah mempersiapkan sejumlah tugas untuk mereka yakni merangkai ulang cerita seputar perjalanan hidup para anggota keluarganya masing-masing. Rayla dan Christoff, hari ini diguyuri tugas untuk menulis kisah hidup sang kakek, Kolonel Inf. (Purn). Ir. Abdul Kadir bersama sang istri, Sutirah dan anak-anaknya. 

Eyang Kakung seorang tentara yang pangkatnya pamen atau perwira menengah, terus jadi petinggi di Pabrik PT. Perindustrian Angkatan Darat (PINDAD). Lulusan Teknik Kimia ITB.” Begitulah pengetahuan Rayla tentang sosok mendiang kakeknya sepintas. Dia memang sudah mengetahuinya sejak masih kecil, walau tidak detail. 

Sambil merapalkan lagi sisa-sisa ingatan tentang cerita kakeknya itu, sambil duduk di atas tempat tidur—mengecilkan suara agar tidak mengganggu Stevie dan Tiffany yang sedang tidur siang, melampirkan komputer tablet di atas kaki jenjangnya tersebut—Rayla kini mempelajari dengan sungguh-sungguh soal detail penugasan dari Bude Astri di grup tersebut. 

Dia sekali lagi harus menceritakan perjalanan hidup Eyang Kakung. Mengetahui detail tersebut, Rayla pun kini tersadar bahwa sejatinya hal itu bisa dibilang mudah karena untuk mendapatkan informasinya secara presisi, dia tinggal menanyai neneknya saja di Bandung. Praktis demi memenuhi aspek ini, dia bisa melakukannya sambil sekalian mudik ke Bandung saja. Sedangkan kakek buyutnya? Baru juga dia memikirkan ini, saat tangan kanannya tengah membetulkan posisi celana legging hitam itu menutupi sejumput jejak bintikan di paha, sekonyong-konyong Bude Astri membuka tender untuk mencari tahu jejak Mbah Guru—julukan untuk kakek buyut di Keluarga Besar Purbalingga.

“Oh iya, satu lagi yang tidak kalah penting… Adalah kisah Mbah Guru. Siapa di sini yang kira-kira bersedia menuliskannya? Demikian juga istrinya. Saya rasa ini wajib diikutsertakan di dalam naskah buku, apalagi melihat statusnya yang seorang guru atau tokoh masyarakat di Mbraling pada masanya. Cerita tentang anak-anaknya atau generasi kedua, sudah dituliskan oleh generasi ketiga dan/atau keempat. Tinggal Mbah Guru dan Istri. Kalau ada yang bersedia, siapapun boleh langsung acung tangan.” 

“Eh kalau berziarah dulu saja gimana, Mbak Astri? Dalam rangka memastikan akurasi data, saya rasa perlu ada yang datang lagi ke Purbalingga, hitung-hitung napak tilas selain cari lokasi bekas rumahnya dulu, minimal ziarah ke makam yang ada di sana. Terus kalau begini, enaknya mau kapan ke Purbalingga?” 

Jleb! Sebuah usulan yang nyaris terlupakan menyembul di ruang percakapan. Pakde Zainal, sosok yang selama ini dikenal pendiam, entah didorong oleh angin apa, mengusulkan wacana napak tilas ke tanah leluhurnya tersebut. 

Rayla tercenung menyaksikan kemunculan berbagai ide yang di matanya jadi tampak seperti rentetan desing peluru bermunculan dari meriam di kedua belah pasukan terlibat pertempuran. Diiringi dengkuran halus Stevie dan Tiffany yang tampak begitu kelelahan usai sekian hari mengitari Negeri Singa dan lambat laun merasa jenuh juga, Rayla pun kini teringat sesuatu. Seumur hidupnya dia justru sama sekali belum pernah menginjak tanah kelahiran sang leluhur. Cewek 25 tahun ini malah pernah ke Yogyakarta atau Solo paling banter, kecuali paling dekat adapun dia pernah ke Dataran Tinggi Dieng. 

Itupun saat dia masih SMA bersama Stevie, ikut study tour 10 tahun silam. 

Dan kini keluarga besarnya mengusulkan wacana napak tilas ke Purbalingga. How does it mean? Is it good? Mungkin saja memang baik, seperti lagu Take That “Back for Good” yang seketika terngiang di kepala lonjong Rayla setelah dia tahu dari sepupunya sebagaimana dia merupakan seorang fangirl dari boyband ‘90-an asal Inggris tersebut. 

“Tapi kapan ke Purbalingga?” Dia keceplosan bermonolog seakan-akan mengutarakan keinginannya untuk menziarahi kampung halaman sang leluhur. 

Sekian menit mengamati perkembangan di grup dengan seksama, Stevie dan Tiffany belum menunjukkan tanda-tanda terjaga, Rayla tiba-tiba ingin ke belakang. Maka dari itu, dia tinggalkan komputer tabletnya di atas kasur, menyibak selimut hingga sepasang kaki jenjangnya tampak begitu jelas, dia pergi ke belakang. 

Saat cewek cantik ini tengah jauh dari gawainya itulah, ruang percakapan lalu memunculkan anggota keluarga lain yang sebelumnya hanya jadi pengamat. Mereka melemparkan usulan yang tidak kalah beragam, bahkan tidak tanggung-tanggung sampai ada yang langsung menanyakan perihal iuran bulanan dari setiap orang di sana. 

“Ya sudah, begini saja deh. Mungkin dalam waktu dekat kita kumpul-kumpul dulu saja sekalian buat bahas skema penyusunan buku. Detail tugas yang saya kirimkan akan dibahas pula di sana, termasuk kemungkinan di antaranya soal siapa yang berpotensi napak tilas ke Purbalingga.” Tandas Bude Astri mengakhiri rentetan diskusi untuk sementara waktu. 

Sedangkan Rayla datang lagi dari belakang, begitu membetulkan posisi celana leggingnya, dia kini akhirnya mafhum akan sesuatu: ‘Hilal’ untuk reuni keluarga besarnya berangsur terlihat, yang sekaligus berarti dia dan Christoff harus segera pulang lagi ke Indonesia dalam waktu dekat. 

“Tembus!” Stevie tahu-tahu mengucapkan kata ini, padahal matanya masih terpejam. 

Rayla yang kaget pun hanya bisa tertawa tipis, mungkin saja dia bermimpi bahwa proposal risetnya berhasil tembus ke perlombaan yang semoga dapat menjadi kenyataan. Imbuhnya demikian, merasakan hawa sejuk berkat baju blues tipis yang dikenakannya hari ini, selain kesejukan dari alat pendingin ruangan.  

Bukannya semakin menyusut, semakin lama berada di Singapura, semakin hari rasa penasaran Rayla terhadap Purbalingga sebaliknya malah justru semakin meningkat seiring dengan menghangatnya percakapan segenap kerabat dia tentang rencana kumpul keluarga sekaligus napak tilas ke sana. Hari ini, kembali lagi ke Kampus RSIS NTU guna memastikan sejauh mana proses penilaian proposal risetnya berlangsung, setelah tiba di apartemen Tiffany, dia langsung menerima kabar di grup sedulur tentang kepastian kapan acara kumpul-kumpul keluarga itu jadi dilaksanakan. Diwartakan oleh Bude Astri, setelah berunding secara internal dengan panitia inti—hari ini sudah diputuskan bahwa mereka akan bertemu lagi di awal bulan Agustus 2025 mendatang. 

Lihat selengkapnya