Crystal berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan antara Point Square dengan Stasiun MRT Lebak Bulus sambil memanggul tas ranselnya. Bangunan stasiun ini sendiri juga merangkap jembatan penyeberangan. Jika ingin menyeberang, tinggal belok ke kanan saja, lalu susuri tangga hingga ke bawah. Atau bisa menggunakan lift. Ada dua susur anak tangga; yang lurus akan turun di depan Kompleks Perumahan Pasar Jumat milik sebuah instansi, dan yang berbelok ke kanan lagi akan tiba di depan sebuah bekas tempat perbelanjaan yang kini sudah tutup.
Langkah Crystal mantap menuju peron, melewati persimpangan yang menuju arah seberang, beberapa konter jajanan, dan akhirnya tiba di portal pemeriksaan. Tas ransel ia taruh di ban berjalan, baru kemudian ia melewati portal. Tidak berbunyi. Dan ia pun kembali melanjutkan langkah setelah mengambil tasnya dari ban berjalan. Kali ini tujuannya adalah lantai di atasnya lagi yang merupakan tempat pemberhentian kereta. Ia segera melangkah ke eskalator.
Jam yang terdapat di bagian atas eskalator menunjukkan pukul 07.25. Pantas saja banyak orang berlalu lalang. Jam kerja umumnya dimulai antara pukul 07.30 hingga pukul 9 pagi. Pada jam-jam sibuk seperti ini, kereta datang tiap 5 menit sekali. Demi mengakomodir agar antrean tidak menumpuk.
“Kereta akan masuk, mohon berdiri di belakang garis aman. The train is arriving, please stand behind the yellow line.”
Suara announcer terdengar ketika Crystal tengah berdiri di eskalator. Spontan, ia pun meminggir untuk memberikan jalan bagi penumpang lain yang terburu-buru. Beberapa calon penumpang memang tampak mempercepat langkahnya.
Crystal tentu saja tidak terburu-buru. Kan, ia memang termasuk si pemilik kantor. Meski tentu saja ia tidak ingin terlambat juga. Jam kerja di kantornya adalah pukul 08.00, hasil dari kesepakatan antara Crystal dengan founder lainnya. Tentu sebagai salah satu pimpinan, Crystal harus memberikan contoh juga kepada anak-anak buahnya. Meski sebenarnya kantor juga tidak terlalu ketat menerapkan aturan. Cukup fleksibel, kok. Pekerjaan-pekerjaan pun paling baru efektif dilakukan pukul setengah 9. Asalkan jangan lewat dari jam 9, sih.
Kantor ParkOur Advertisement berada di kawasan Blok M dengan menyewa salah satu rumah yang terletak di Jalan Lamandau. Rumah-rumah besar di sana memang banyak yang telah beralih fungsi menjadi tempat usaha memang. Dan untuk kantor ParkOur, Ramdan adalah orang yang paling berjasa karena ia berhasil mendapatkan investor yang bahkan mau menyewakan salah satu rumahnya dengan harga miring.
Sebagai “anak Jaksel”, tentu Crystal tahu betul seperti apa perjalanan ke kawasan Blok M. Untunglah sekarang ada MRT. Karena, berkat MRT, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu singkat–cukup 15 menit dari Lebak Bulus. Lalu, ia tinggal turun dan berjalan sedikit. Mungkin agak jauh juga, sih. Tapi, hitung-hitung olahraga juga. Makanya, Crystal memilih pakaian kasual multifungsi: kemeja dipadu celana kasual, kadang jin, sepatu Skecher bersol karet ringan (Crystal punya beberapa koleksi Skecher), serta kemeja yang kadang dilapis kardigan.
Tas kesayangan Crystal adalah ransel berwarna krem dengan model stylish dan berbahan anti air; bergaya girly nan modis sekaligus fungsional. Di dalamnya ia biasa menaruh laptop, tablet, buku, dan barang-barang kerja lainnya. Pas dengan Crystal yang berpenampilan bak anak muda. Konon, wajah Asia tidak mengenal kata menua. Dan Crystal, di usianya yang sudah hampir mendekati paruh tengah kepala tiga masih saja sering disangka sebagai mahasiswa.
…
“Pemberhentian selanjutnya, Blok M BCA. Next station, Blok M BCA.”
Suara announcer kembali memanggil Crystal dari lamunannya. Rupanya sudah hampir sampai Blok M. Crystal pun segera menggeser posisi hingga lebih dekat dengan pintu keluar. Pintu tak lama terbuka seiring dengan berhentinya kereta. Para penumpang menghambur keluar. Crystal segera berjalan menuju pintu keluar dengan mengikuti petunjuk menuju Blok M. Ada dua pilihan jika mengikuti arah Blok M. Jika ingin langsung ke Blok M Plaza, ada pintu yang langsung terhubung ke lantai satu gedung.
Akan tetapi, karena mal belum buka, Crystal pun memilih untuk turun lagi ke bawah dan keluar di samping gedung. Ia kemudian berjalan melangkah menuju sisi utara Blok M Plaza untuk menuju kantornya yang berada di seputaran Jalan Lamandau; melewati sebuah bangunan SMA negeri di sisi kanan yang di depannya penuh dengan lapak-lapak kaki lima, serta beberapa pedagang gulai tikungan alias “gultik” yang mangkal menjajakan jajanannya.
Crystal mempercepat langkahnya hingga menyeberangi bundaran perempatan, kemudian restoran ayam goreng tepung cepat saji waralaba Amerika yang usianya sudah sangat lama dan awet, lalu menyeberang lagi dan menyusuri kawasan perumahan lama, yang sepertinya jadi lebih banyak kafe dan kantor ketimbang rumah. Ia lalu menuju ke salah satu rumah yang telah beralih fungsi itu dan masuk.
“Pagi, Mbak,” sapa Reni, salah satu karyawan ParkOur yang juga baru datang.
“Pagi.” Crystal balas menyapa dan tersenyum. Tenang, di sini egaliter. Tidak perlu merunduk-runduk apalagi sedikit-sedikit bilang “izin”. Memangnya tentara? Maaf, tapi di sini dialektika lebih dibutuhkan ketimbang senjata–memangnya siapa yang butuh senjata?
“Oh, ya.” Crystal menghentikan langkah dan menoleh ke Reni.