Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #6

Chapter 5: Semua yang Tak Lagi Sama

Cerita ini tak lagi sama

Meski hatimu selalu di sini

Mengertilah bahwa ku tak berubah

Lihat aku dari sisi yang lain

Bersandar padaku, rasakan hatiku

Bersandar padaku

Dan diriku bukanlah aku

Tanpa kamu ‘tuk memelukku

Kau melengkapiku, Kau sempurnakan aku

Dentingan lagu Noah ‘Tak Lagi Sama’ kini mengalun lembut dan halus mengaliri segenap isi kepala Rayla di suatu pagi buta masih di Singapura ini usai sekian minggu menanti hari H keberangkatannya ke Bandung. Di mata Rayla seorang, perjalanan dia dan Christoff ke kota kelahirannya hari ini rasa-rasanya cukup sukar dia definisikan sendiri tampak seperti apa—pasalnya, pola ritme jalan seperti ini sering dia rasakan setahun ke belakang. Pergi dari Bandung menuju Singapura, lalu begitu lagi untuk arah sebaliknya terus dan terus. Sampai-sampai, lambat laun dia menyadari sesuatu. Setiap detail hal di sekitar dia sesungguhnya terus berganti dari waktu, tak akan pernah lagi sama seperti dulu. Begitu juga dengan tatanan dunia dan wajah kota Bandung selama ini, yang perlahan tapi pasti mulai dia rasakan perbedaannya. 

Fajar masih belum menyingsing ketika dia baru saja mengenakan mukena merah muda kesayangannya yang telah setia menemani sejak masih remaja belasan tahun silam. Pukul enam waktu Singapura, jelas-jelas ini adalah waktu yang tepat untuk menunaikan Ibadah Shalat Subuh. Berjamaah dengan Christoff yang selalu otomatis didaulat menjadi imam, untuk selanjutnya bergantian tempat juga dengan Stevie dan Tiffany—selepas itu Rayla menatap penuh yakin sepasang koper hitam berukuran besar di ruang televisi. Sebagian barang pribadinya kini sudah ia kemasi, bersanding lekat-lekat bersama segunung buah tangan khas Negeri Singa untuk keluarga besarnya di Bandung kelak. 

Membersihkan diri dan menyantap sarapan bersama Stevie dan Tiffany, selepasnya mengingat pesawat tujuan Jakarta hari ini akan berangkat pukul 10.20 waktu Singapura—Christoff lantas berinisiatif sendiri mengerek koper miliknya dan Rayla. Saling berbagi porsi barang bawaan, diantar oleh sepasang sahabat baiknya tersebut—total keempat sekawan ini lalu menuruni gedung apartemen menggunakan lift yang kosong. Keluar dari balik pintunya di lobi meja resepsionis, staf dan petugas keamanan yang melihatnya langsung membombardir pakai serentetan pertanyaan. 

“Would you like to go to the airport? With taxi, bus or MRT?” Mereka serempak men-judge Rayla dan Christoff seperti ini, saking terbiasanya melihat pemandangan orang datang dan pergi membawa koper setiap hari antara Bandara Changi dan tujuan masing-masing di sini. 

“Absolutely, sir, ih… I think we can use the bus from its stops over there.” Christoff asal tembak saja, menjawab sekenanya tepat di ambang pintu lobi apartemen. Jari telunjuknya telah teracung panjang-panjang laksana menghujam sebuah setopan bus kota yang sebenarnya terletak di pintu masuk Lobi Zhongshan Mall, seberang Hotel Ibis Novena. 

Tadinya, kalau mereka bersedia—sesungguhnya mereka akan ditawarkan naik bus shuttle khusus tujuan Bandara Changi dengan dihubungkan langsung kepada operatornya. Namun lantaran mereka tak setuju, praktis itu tak dilanjutkan lagi. Dan tahu-tahu, keempat sekawan muda ini telah melangkah lagi membelah trotoar menuju halte bus di Lobi Zhongshan Mall sekaligus menerjang cuaca panasnya. 

Sekian menit menunggu, mereka akhirnya mendapatkan jua sebuah Bus SBS Transit nomor 36 tujuan Bandara Changi. Menarik koper ke atas bus satu tingkat ini, membayar sekian dolar melalui mesin di samping kursi sang pengemudi—mereka pun menempuh perjalanan ke pintu gerbang satu-satunya bagi Singapura itu. 

Sepanjang perjalanan, mereka asyik mengamati pemandangan kota ini dengan perasaan campur aduk bagai Es Campur antara senang akan reunian dengan para sedulurnya namun sekaligus galau setiap kali hendak pergi meninggalkan Singapura yang merupakan satu-satunya negara maju di Kawasan Asia Tenggara. Meski sudah sering tinggal landas dari sini setahun belakangan, namun rasa itu seolah-olah menjadi bagian tak tertinggal. 

Beberapa kali ikut menyinggahi titik-titik perhentian sepanjang rute menuju Bandara Changi, Rayla kini berangsur paham bahwa Singapura ini kenyataannya memang menjadi satu dari sekian banyak opsi paling baik untuk ‘membangun hidup berkualitas’ tidak terkecuali dari aspek pendidikannya dalam jarak terjangkau dari Indonesia. Dekat. Sekian minggu rajin bolak-balik ke Kampus RSIS NTU bahkan dalam beberapa kesempatan tidak luput National University of Singapore pula—di samping komitmen meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris, Rayla pun berangsur mempertimbangkan akan serius mengambil Kuliah S3 di salah satu universitas top sejagat Negeri Singa itu ke depan. Selain dia tetap menaruh keinginan studi lanjut ke Australia, Eropa bahkan tidak tanggung-tanggung Amerika Serikat. 

“Next stop, Changi Airport.” 

Pengumuman suara otomatis itu menghentak Rayla dari lamunannya sepanjang jalan. Entah pemandangan apa yang dia perhatikan barusan, laksana berbeda tipis dibandingkan lamunannya tersebut. Posisi bus kian mendekat ke arah bandara, ciri-cirinya ditandai pemandangan lalu-lalang pesawat nan terlihat begitu jelas dari pinggir jalan, Rayla dan kawan-kawan pun segera berdiri meninggalkan kursinya. Dia bersiap-siap mengangkat lagi kopernya, dan baru turun di Terminal 4—basis utama untuk semua maskapai penerbangan berbiaya murah di Singapura ini. 

“Cari loket check-in AirAsia, deh, Mas,” celoteh Rayla singkat saja, tergesa-gesa menaikkan kopernya ke troli saking tidak tahannya selalu diterjang udara panas di sini. Padahal sudah sering bolak-balik ke sini pula. 

Di dalam gedung keberangkatan terminal 4, mendengar Rayla me-mention nama maskapai tunggangannya ke Bandung—Stevie sontak teringat lagi percakapannya bersama Fariq tempo hari. 

Pacarnya sejak SMA dulu, sekarang sudah sekian tahun meniti karier sebagai pilot di maskapai itu, beberapa hari lalu konon sempat menjalankan tugas penerbangan dari beberapa kota di Indonesia menuju Singapura. Pilot muda nan kira-kira baru 1,5 tahun terakhir ini resmi menyandang pangkat tiga strip sebagai first officer ini waktu itu mengabarkannya lewat chat WhatsApp langsung kepada Stevie. Namun, dia sekaligus meminta maaf tak bisa singgah lama-lama menemuinya di sini lantaran harus langsung melanjutkan lagi penerbangan ke kota-kota lain. 

Imbuhnya dalam percakapan waktu itu, “Masih sama kayak dululah, Stev. Kalau terbang jarak dekat, sehari-hari itu bisa mampir ke beberapa kota sekaligus. Contoh, hari ini berangkat pagi dari Jakarta ke Yogya. Terus lanjut ke Denpasar, sorenya balik lagi ke Jakarta. Malam istirahat.” Dan lanjutnya, “Besoknya, lanjut deh misalnya ke Surabaya atau Medan terus balik lagi ke Jakarta. Siangnya, bisa ke Singapura, Kuala Lumpur atau Bangkok (salah satunya) mungkin menginap atau tetap balik lagi ke Jakarta. Nah, jadwalku tempo hari kayak ‘gitu Stev. Habis dari Singapura langsung ke Denpasar sama … Jakarta terus malamnya aku menginap di Surabaya. Karena kebetulan lagi peak season, makanya jadwal terbangku bertambah. Ich entschuldige sehr zu dir ja, Stev, belum bisa mengajak kamu jalan lagi biarpun sekarang kamu lagi di Singapura bareng mereka.” Terbesit penyesalan yang tersirat dari kata-kata Fariq soal kepadatan jadwal terbangnya yang sekarang terasa semakin mempersempit ruang temunya dengan si pujaan hati. 

Stevie sendiri, tidak punya pilihan lagi selain memaklumi kesibukan Fariq ini. Paling banter, dia hanya sempat menggulung senyum tipis saat membaca sepotong kalimat yang ditulis Fariq dalam bahasa Jerman. Stevie sungguh tak menyangka cowok gebetannya itu ternyata masih ingat rerangkai kata dalam bahasa Negeri Panser tersebut. Sampai-sampai dia menyelipkannya dalam percakapan bersama Stevie. Membalas pesan sang pilot barusan, Stevie di saat hatinya mendadak terasa galau pun menyatakan tidak sabar ingin berjumpa lagi dengannya. 

Kembali ke Bandara Changi pagi ini. Di luar dugaan, cuaca mendadak berubah mendung. Padahal saat datang tadi masih panas. Sementara itu dari kejauhan, sayup-sayup Stevie dan Tiffany mendengar detail bunyi percakapan Rayla dan Christoff dengan petugas bandara entah dalam bahasa apa. Tangan keduanya kini tampak merogoh-rogoh sesuatu di dalam tas ransel, sampai dapat. 

“Selamat pagi, Pak. Ini sistemnya ini online self check-in semua ‘kan?” Rayla dan Christoff kompak menyerahkan sebagian barang bawaannya kepada si petugas konter check-in

“Pagi juga, betul kalian tinggal scan tiketnya saja di mesin pemindai itu, ya.” Petugas pria dengan seragam rapi itu mengiyakan mereka. 

Masih sama dengan beberapa tahun lalu saat mereka juga datang ke sini dan untuk pertama kalinya melihat sistem demikian, selanjutnya mereka ikut mengambil antrian di depan salah satu mesin. Sekian menit menunggu, begitu tiba gilirannya—mereka lantas memindai tiketnya di sini. Data mereka sukses ditampilkan di layar monitor, menekan tombol virtual “print” — butuh sekejap saja boarding pass berhasil mereka dapatkan di tangan masing-masing. Mengikuti ciri khas para traveller dengan pesawat, sepasang lembaran boarding pass itu lalu mereka apitkan di dalam paspor masing-masing dan tentunya tidak lupa memasukkan koper ke ban berjalan untuk diklaim sebagai bagasi sesuai tujuan pesawatnya. 

Proses check-in beres, Christoff lalu menanyai Rayla sesuatu, “Ngomong-ngomong sekarang kita mau menunggu dimana? Stevie-Tiffany masih pada di sini ‘kan?” ujarnya masih belum mau berpisah dari mereka. 

“Hmmm, tunggu … tunggu. Memangnya sekarang jam berapa, sih?” Rayla bertanya balik guna memastikan berapa lama lagi waktu yang tersedia sebelum tinggal landas. “Oh, sekarang ternyata jam 08.45. Masih ada satu setengah jam lagi sampai berangkat. Ya terserah sih mau masuk ruang tunggu sekarang atau nanti, tapi yang jelas sih Stevie-Tiffany cuma bisa sampai sini habisnya mereka enggak punya boarding pass, enggak akan ikut terbang ke Jakarta.” Rayla ternyata merasa sama saja beratnya mengucapkan sayonara kepada mereka. 

Christoff tak mengeluarkan sepatah katapun, namun langkahnya kini terayun jelas. Dia memilih bersama kedua sahabat cantik dari adik bungsu tunggalnya itu, menikmati sisa waktu yang tersedia menjelang lepas landas ke Indonesia ini. Dia lalu banyak berbincang dengan mereka, benar-benar kontras dibandingkan saat pertama kali kenal lebih dari 10 tahun lalu dimana dia masih malu-malu sekaligus gugup, 100 persen menunjukkan kepolosannya sebagai penyandang spektrum autisme ringan di depan sosok cewek-cewek cantik sekaliber mereka sekalipun akhirnya jatuh cinta dengan teman sekolahnya sendiri, Si Gadis Bunga. 

Pasangan mesin kembar jet dari armada Airbus A320 itu meraung kencang, menderu nyaring sejak rodanya masih menjejak landasan Bandara Changi hingga ia mengangkasa beberapa menit setelahnya. Membelah sedikit langit teritorial Singapura, berpapasan dengan pesawat lain yang hendak mendarat—disuguhi pemandangan khas berupa gugusan kapal di perairan setempat, kini usai sekian menit mengudara, Rayla membuka lagi buku catatannya di kursi pesawat. Kali ini dalam penerbangan menuju Jakarta, dia mengulik lagi detail susunan draft untuk penulisan buku mengenai keluarga besarnya ini. Sebagaimana yang sudah Bude Astri katakan di awal, bahwa Rayla dan Christoff nanti akan mengusung tugas menulis kisah Eyang Kakung Abdul Kadir. 

Bersama Christoff, kini dia sudah menyiapkan sejumlah daftar pertanyaan rinci yang rencananya hendak mereka ajukan kepada Eyang Sutirah, nenek mereka jika sudah tiba lagi di Bandung nanti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya mencakup tentang kisah masa kecil Eyang Kakung, lalu lanjut masa remajanya hingga dewasa dan berkeluarga. Mereka dirasa tepat untuk menjalankan penugasan ini mengingat statusnya yang belum kembali bekerja akibat faktor situasi ekonomi pasca lulus S2 belakangan ini. Semua detail pertanyaan termaktub dalam buku catatan itu, selanjutnya kelopak mata kanan Rayla tak sengaja mendelik sepasang pramugari berkeliling kabin menawarkan makanan dan minuman. 

Lebih tepatnya berjalan maju-mundur sambil mendorong gerobak karena pesawatnya ini berbadan sempit (narrow body) dan memiliki satu lorong tunggal (single aisle). Tidak cukup mereka berdua, melainkan rekan-rekannya yang lain juga—minimal sebagian bertugas memungut sampah sisa-sisa makanan yang sudah dibuka. 

Mendapati keadaan demikian, Rayla kemudian memanggil pasangan pramugari barusan. Perempuan pemakai setia kupluk abu-abu sejak remaja ini lalu memilih sekotak Nasi Lemak dan Teh Botol Pucuk Harum, dibelikan juga untuk kakaknya. Mengudap di jam tanggung sebelum tepat waktunya untuk makan siang, belum habis seutuh porsinya—dia tiba-tiba merasa letih sendiri. Mengantuk. Demi menyegarkannya, dia dan Christoff lalu meneguk Teh Pucuk Harum itu sedikit lalu melanjutkan makan siangnya sampai habis. 

Selesai santap siang, begitu matahari mencapai puncak peraduannya—pesawat tahu-tahu telah mempersiapkan lagi pendaratannya di Bandara Soekarno-Hatta. Pemandangan hamparan gemawan pun kini telah berganti jadi lautan dengan lalu-lalang kapal besar dan perahu nelayan, mirip seperti di Singapura sebelumnya hanya bedanya, ciri khas setiap kali pesawat mendarat di sini adalah view pesisir utara Ibukota yang juga sama-sama terlihat jelas. 

Pesawat kian merendah dan terus merendah, dia akhirnya menjejakkan roda di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta jua. Turun di Terminal 2, pasangan kakak beradik ini dibuat kaget karena baru ingat bahwa seluruh penerbangan dari maskapai berbiaya murah rupanya tetap mendarat di sini, bukan di Terminal 3 yang baru itu untuk maskapai dari jenjang lebih tinggi. 

“Memangnya kemarin-kemarin kita naik pesawat apa sih Ray, waktu bolak-balik ke Singapura?” Christoff mencoba mengulik kembali ingatannya sembari melangkah ke loket pemeriksaan Imigrasi. 

“Kayaknya gonta-ganti deh mas, kalau enggak AirAsia ini ya biasanya Scoot Airlines atau Batik. Eh Garuda Indonesia atau Singapore Airlines pernah juga ‘kan?” Rayla mengkombinasikan maskapai berbiaya rendah dan tinggi dalam itinerary perjalanan PP-nya ke Singapura selama ini. 

Mengantri cukup panjang di imigrasi saking banyaknya orang berdatangan menjelang libur panjang ini, mereka akhirnya mendapat giliran jua. Paspor dibubuhi cap kedatangan oleh petugas, selanjutnya lepas mengklaim bagasi di bawah—bagai turis baru pertama kali datang, keduanya celingak-celinguk menentukan moda transportasi mana untuk menyambung perjalanan ke Stasiun KCIC Whoosh Halim setelah ini. 

Tidak lupa menunaikan ibadah Shalat Dzuhur terlebih dahulu di sini, begitu keluar dari musala, mata mereka sekejap angin membidik sebuah bus pendek dengan warna putih melintas. Merasa kenal, masih sembari menyeret koper, keduanya lantas menghampiri seorang petugas bandara. 

“Mbak, kalau Bus Shuttle Stasiun KCIC Whoosh itu naiknya dimana ya? Saya barusan lihat ada yang berangkat.” Suara Rayla dipekakkan keras-keras beradu melawan hingar-bingar suara mesin pesawat dan segenap keramaian di sini. 

“Di situ mbak, langsung antri saja. Sudah pesan tiket kereta cepat ‘kan?” Petugas wanita berjilbab hitam itu “memvonis” mereka soal tiket. 

“Sudah mbak, online.” Tanpa basa-basi lagi mereka bergegas mengejar bus selanjutnya yang akan segera berangkat. 

Dipacu kencang-kencang membelah jalanan ibukota Jakarta, dari balik kaca jendela bus ini, Rayla sibuk memperhatikan suasana ibukota dengan seksama. Bagi dia, meski kepadatan lalu lintas masih padat di sejumlah titik seperti misalnya Simpang Susun Semanggi, tetapi begitu melihat Jalur LRT dan samar-samar atap Stasiun MRT di dekat sana, Rayla jadi merasa takjub. Meski tidak tinggal di Jakarta, namun seumur-umur menyaksikan sendiri laporan berita mengenai kemacetannya, tentu membuat dia jengah apalagi sekarang Bandung pun merasakan hal serupa. Di samping MRT yang ke depan masih akan dikembangkan lagi.

Melalui kacamata Rayla seorang, datang ke stasiun lalu pergi naik Whoosh ini rupanya tidak hanya sekadar menempuh perjalanan antar kota semata, melainkan sesungguhnya itu seperti masuk ke sebuah pangkalan luar angkasa. Sebab bagaimana tidak, begitu dia menjejakkan kakinya masuk melalui pintu kedatangan Stasiun Halim—di sini begitu mendongakkan kepalanya usai naik ke lantai dua, dia melihat stasiun baru ini tidak hanya modern, melainkan juga futuristik. Di sini, mempersiapkan dua lembar karcis yang masih berada dalam aplikasi di layar komputer tabletnya untuk setelah ini dicetak lewat mesin check-in otomatis. Rayla men-scan layarnya, cukup dua detik berselang—data dia dan Christoff muncul di mesin tercatat sebagai penumpang Whoosh tujuan Stasiun Tegalluar pada keberangkatan pukul dua siang ini. 

Lihat selengkapnya