Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #7

Chapter 6: Setelah Tersambung Lagi

Bus dengan keberangkatan entah kedua atau ketiga paling pagi itu, lewat pukul enam tidak kunjung dipenuhi penumpang. Ia masih setia menunggu hingga jumlah mendekati kata “ideal” atau setidaknya ada yang naik, tidak luput keluarga Rayla hari ini. Bertolak dengan jalan kaki dari rumah, usai berunding bersama-sama tadi Subuh apakah akan mencarter mobil, menyetir sendiri atau naik transportasi umum saja sekalian ke rumah Pakde Ashadi di Sumedang—mereka kini akhirnya memilih naik transportasi umum saja. Tiba di pangkalan bus legendaris ini tepat waktu, sebanyak tiga kartu tapcash ditempelkan ke mesin pembayaran pada pojok kiri sebelah pintu depan bus, begitu saldo otomatis terpotong—tiga serangkai ibu dan anak ini lalu memilih duduk di sisi kanan bus bagian belakang, mengikuti letak kursinya yang memanjang sekujur sisi bus. Hanya barisan paling belakang yang tetap menghadap kaca depan. 

Lagi-lagi ingat kebiasaannya sewaktu kuliah dulu, dimana dia bersama Stevie dan Christoff kadang-kadang Tiffany kalau sedang libur sekolah, pagi ini Rayla menyadari bahwa tipikal prototipe bus jurusan Dipatiukur-Jatinangor ini telah berubah. Jika dulu ia mengenakan bus besar berwarna biru muda seperti tokoh kartun Si Tayo Bus Kecil ramah, maka kini ia mengenakan bus tiga perempat mengusung kombinasi warna putih dan biru. Dulu nama operator utamanya adalah DAMRI sebagaimana ia bercokol lama menjadi penguasa jalanan Kota Kembang, kini transformasinya terpampang jelas menjadi Metro Jabar Trans atau MJT dengan beberapa koridor trayek yang telah beroperasi. Tunggu. Rayla tercenung sendiri menyadari perubahan bus ini. 

Masih sambil menunggu keberangkatannya menuju kawasan pendidikan Jatinangor, matanya lalu sibuk celingak-celinguk menjamah sekujur sudut bus ini. Baginya, meski masih mematut undak-undakan tinggi seperti bus di Indonesia secara umumnya, namun sepintas jika dilihat dari desain interior kabinnya, ia kini terlihat mirip seperti bus-bus kota di luar negeri tidak terkecuali Singapura. Pintu depan utuh diformasikan oleh kaca bening untuk akses masuk, sedangkan akses keluar berada di pintu tengah. Lanskapnya pun jadi terbilang sebagai pintu kupu-kupu, dua bagian menyatu saat menutup dan berpisah kala membuka. Kini ia tertutup rapat, karena semua penumpang harus masuk dari depan. Segelintir dari mereka masuk, kebanyakan rasa-rasanya adalah mahasiswa baik ITB maupun Unpad, supir menyusul kemudian. 


Merasa jumlah penumpangnya sudah cukup meski tidak penuh, jari tangan kirinya lalu memencet tombol otomatis menghasilkan bunyi desis angin menutup pintu depan. Sabuk pengaman telah dipasang, dia pun melajukan busnya kemudian. Membelah sepanjang ruas Jalan Dipatiukur hingga Supratman yang penuh oleh ciri khasnya berupa rerimbunan pohon, sepanjang rute itu pula beberapa kali bus mampir ke sejumlah titik perhentian setempat. Semua orang di sini berangkat ke arah Jatinangor, tidak ada yang turun. Dan ia terus membelah jalanan sampai jauh dari pusat kota, berganti oleh hiruk-pikuk arus lalu-lintas di sekitar kawasan Jalan Lingkar Selatan. Alangkah beruntung situasi pagi ini tidak macet, membuat perjalanan jadi terasa begitu cepat. Apalagi begitu lewat jalan tol dari Gerbang M. Toha, seakan-akan bus jadi tidak terkalahkan. 

Keluar di Gerbang Tol Cileunyi, isi mata Rayla lantas disambut oleh ramainya hilir mudik kendaraan aneka jenis mulai dari angkot untuk jalur Cileunyi dan sekitarnya, Elf tujuan berbagai kota kecil di pesisir timur Priangan, bus antar kota-antar provinsi sampai truk tronton atau trailer. Menurunkan penumpang di sini, bus meneruskan sisa perjalanannya menuju Jatinangor. Ia ke sana ditandai oleh gapura putih bertuliskan “Wilujeng Sumping di Kabupatén Sumedang Puseur Budaya Sunda.” Arti Bahasa Indonesianya, “Selamat Datang di Kabupaten Sumedang Pusat Budaya Sunda.” Gapura ini terlewati, bagai tirai raksasa yang membedakan antara Kota/Kabupaten Bandung dan Sumedang secara administratif, di baliknya ribuan bangunan indekos mahasiswa menjamur sepanjang sisi jalan mengikuti arah menuju ke Kampus IPDN, IKOPIN, ITB hingga Unpad. Sebagian penumpang turun di depan IPDN, sisanya termasuk Rayla baru ke titik terminusnya di Unpad. 

Melompati tangga bus, laju kendaran pribadi bersama angkot, elf sampai bus dan truk menyambut Rayla sekeluarga di sini. Beberapa angkot baik yang warnanya hijau maupun cokelat mengerem pelan di depan mereka, supirnya menawarkan tumpangan kepada mereka. Tidak menggubris tawaran para supir angkot itu, Rayla serempak menundukkan kepala bersama ibu dan kakaknya membaca sebaris alamat di layar komputer tabletnya. Memastikan alamat rumah Pakde Ashadi adalah benar yang akan dituju hari ini, usai itu mereka pun segera memesan taksi online. Orderan mereka dideteksi oleh pengemudinya di Jatos, mereka lalu sempat menunggu. Namun belum juga mobilnya bergerak, tahu-tahu Kang Ifan—pengemudinya menelepon. 

Téh, ini lokasi persisnya kemana? Benar masuk ke perkampungan penduduk di sana?” Suaranya mengalir dalam aksen Sunda khasnya. Kental. 

“Iya benar Kang, belok sebelum Pasar Tanjungsari. Akang tahu jalannya ‘kan?” Rayla memastikan bahwa Kang Irfan berkenan mengantarnya ke Rumah Pakde Ashadi. 

“Wah saya ragu téh, apalagi ini jaraknya jauh. Punten, pang cancel saja téh.” Ternyata dia menolak permohonan ini. Rayla ragu harus membatalkan perjalanan atau tidak, namun ndelalah Kang Ifan membatalkannya sendiri dengan sepihak.

“Gimana Ray?” Christoff menyigi hasil percakapan mereka. 

“Batal mas. Driver-nya enggak mau antar ke situ, katanya kejauhan terus dia enggak yakin betul soal situasi jalannya.” Adik bungsunya itu tak bisa berbuat apa-apa selain memesan ulang. 

Aplikasi taksi-ojek daring itu mengalami buffering akibat membludaknya intensitas pesanan di Kawasan Jatinangor ini, sebuah angkot lalu berhenti tepat di depan batang hidung mereka. Segerombol penumpang, pria dan wanita lansia berbondong-bondong turun dari kabin belakang sembari perwakilan mereka mengangsurkan sekian lembar Rupiah kepada sang supir. Para penumpang sepuh itu menyingkir dari perhentian, supir yang melihat Rayla laksana tengah mencari alamat tersebut lantas menyahut demikian kepadanya. 

A, téh mau kemana? Cari alamat? Sini biar saya antar saja atuh.” 

Menatap mata ibunya dengan penuh keraguan, Rayla kemudian meminta persetujuannya untuk naik angkot saja ke Rumah Pakde Ashadi sekarang.

“Memangnya dia mau disuruh antar sampai masuk ke sana? Kalian ada uang lebih buat bayar tambahannya?” Pertanyaan klasik beradu dengan situasi. Sekarang sudah jam setengah delapan pagi, menyisakan waktu satu setengah jam lagi sampai acara dimulai pukul sembilan. 

Christoff tanpa diminta memeriksa isi dompetnya, untung saja dia membawa uang tunai lebih. Sebelum benar-benar mencarter angkot jurusan Cileunyi-Sumedang Kota ini, dia mengonfirmasi perihal ongkosnya terlebih dahulu kepada supirnya. 

“Pak, kalau dicarter sampai ke sini kira-kira berapa? 20 apa 25 cukup?” Ujar dia sambil menunjukkan letak rumah Pakde Ashadi.

“Itu beloknya sebelum Pasar Tanjungsari ya A?” Daya bayang ruangnya justru lebih mumpuni ketimbang supir taksi online barusan. 

“Betul, selebihnya tinggal ikuti petunjuk Google Maps saja. Terus nanti saya arahkan.” Christoff mengangguk penuh mantap. 

“Sok naik saja.” Deal. Supir pemilik kepala plontos bersih itu setuju. 

Rayla dan Ibu mengekor masuk angkot ini, selanjutnya sepanjang jalan menuju Tanjungsari yang ternyata berkelok ini setiap kali penumpang mencegatnya, supir selalu mengabaikannya. Paling sopan, dia akan mengurangi lajunya sedikit dan bilang bahwa angkotnya sekarang sudah dicarter. Angkot melaju lagi mengikuti petunjuk dari Google Maps di komputer tablet Christoff, kurang dari 1 Kilometer menjelang Pasar Tanjungsari, pemandangan lalu berganti menjadi jalan kampung nan tidak kalah berkelok-kelok namun lebih sepi. Pemandangan natural sesuai citra satelit dapat dijamah secara langsung di sini, sambil sesekali berpapasan dengan warga lokal. Rata-rata mereka bepergian naik motor atau mobil bak terbuka, mengangkut hasil tani ke pasar. 

Di tengah jalan, Christoff tidak sengaja melihat Pakde Zainal—kerabatnya yang jua akan menghadiri acara reuni keluarga besar hari ini. Sama-sama bertempat tinggal di Bandung hanya dia lebih sering mampir ke rumah Pakde Ashadi sampai hafal jalannya, Christoff lalu memanggil namanya keras-keras. Pria berambut tipis ini datang mengendarai sepeda motor bersama istri menyusul sepasang putranya yang menginap di sana sejak sehari sebelumnya. 

“Pakde Zainal!” Suaranya melengking dari balik jendela angkot. Pakde Zainal menoleh, refleks membalas. 

“Eh Christoff, sama Rayla juga ibu? Tumben nih naik angkot…” Pakde Zainal tersenyum. 

“Iya, Pakde. Carter dari Jatinangor. Biasalah, supir yang di rumah belum pulang dari Temanggung.” Christoff menjawab singkat saja mewartakan perjalanan dari Bandung hari ini. 

“Supirnya sudah dikasih tahu jalan? Bareng saja atuh, yuk.” Bude Erna, istri Pakde Zainal secara tidak langsung menyuruhnya jadi pemandu jalan. 

“Pak, ikuti motor yang di depan ya.” Rayla menelurkan sebutir instruksi untuk supir angkot. 

Kompak mempercepat lajunya bersama sepeda motor Pakde Zainal, melewati beberapa kelokan lagi, mereka akhirnya sampai di tujuan juga. Melihat jalan masuk yang masih menanjak sedikit lagi ke pekarangan rumah Pakde Ashadi, supir angkot berinisiatif mengantarkan mereka sampai ke dalamnya. Dan Rayla menolaknya secara halus. Membayar ongkos carter melebihi tarif reguler, sejumput kemudian usai mendaki bukit penyangga rumah itu, mereka saling berbalas sambutan di pucuknya. Pakde Ashadi dan Bude Suci mengajaknya masuk, dan di dalam rumah ternyata belum ada siapa-siapa. 

“Belum pada datang nih Mas Ashadi, Mbak Suci?” Giliran ibu melempar pertanyaan. 

“Masih pada di jalan mbak, ini barusan Mas Irfan sekeluarga, terus Mas Budi juga WA katanya masih jauh. Sebagian juga naik Whoosh, paling turun di Stasiun Tegalluar baru lanjut ke sini.” Pakde Ashadi merapikan piring-piring di atas meja, memagari sebuah Nasi Tumpeng di situ. 

 “Rayla sama Christoff sekarang dimana? Ke Bandung sebenarnya naik apa?” Pakde Zainal mengambil alih panggung. Dia rupanya tidak langsung masuk karena harus memarkirkan motor di halaman samping rumah dan menaruh helmnya secara aman. 

Lihat selengkapnya