Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #8

Chapter 7: Catatan Masa Lalu

“Pemerintah melalui kementerian terkait telah mengumumkan tanggal perilisan buku penulisan ulang sejarah Indonesia pada 10 November 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Jadwal ini mundur dari rencana semula, yaitu 17 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini, berdasarkan keterangan dari pejabat terkait, dikarenakan saat ini naskah sedang dalam tahap uji publik, dan akan dilanjutkan dengan seminar. ‘Mungkin akan ada dua hingga tiga kali seminar.’ Demikian disampaikan oleh pejabat terkait.”

Konsentrasi Crystal sontak buyar. Padahal, ia sengaja mencari tempat di luar kantor–di salah satu kafe di Blok M Plaza. Padahal ia sengaja mencari tempat di luar kantor agar lebih bisa fokus dengan pekerjaannya. Kata siapa bikin proposal itu gampang? Harus menguasai konsep terlebih dahulu. Crystal memang terbiasa bekerja secara konseptual; jangan asal njeplak jika presentasi di depan orang. Kuasai konsep, dan jangan dikira calon klien akan impressed hanya karena lontaran kata-kata keren in English

Crystal kembali menatap layar laptopnya. Sejarah menurut siapa? Siapa yang berhak menulis sejarah? Benak Crystal menari-nari. Dan tiba-tiba saja ia teringat pada buku agenda cokelat yang beberapa hari belakangan selalu ada di tasnya.

“Kalau ada waktu, coba kamu cari tempat kakekmu dulu di Purbalingga,” ujar Papa, ketika pada suatu hari Crystal akhirnya berkunjung juga ke rumah orang tuanya. Waktu itu, Papa ditunjuk menjadi host untuk acara keluarga–pertemuan Papa dengan sepupu-sepupunya. Crystal diminta datang untuk membantu, sekaligus juga berkenalan dengan anak-anak dari sepupu Papa–dari garis Mbah Merry.

“Mbah Kakung?” Crystal bingung.

“Iya. Mbah Husni,” tegas Papa sembari menyebut nama yang kemudian diwariskan kepada keturunannya, termasuk Crystal. Bukan praktik yang lazim, memang. Tidak seperti orang Barat yang memiliki nama keluarga, di Indonesia masih agak jarang orang tua yang menyematkan nama keluarga ke anak-anak mereka, kecuali suku bangsa tertentu yang menggunakan sistem marga. 

“Kenapa memangnya?” tanya Crystal.

“Mungkin … kamu bisa menemukan jejak saudara-saudara Mbah Kakung,” lanjut Papa.

“Mbah Kakung punya saudara?” Crystal ternganga. “Bukannya Mbah Kakung itu anak tunggal?” Crystal ingat karena Papa tidak punya sepupu dari Mbah Kakung.

“Karena Papa baru tahu juga.” Papa menyerahkan sebuah buku tulis bersampul kaku warna cokelat. Sebuah nama tertulis di sampulnya: Ahmad Husni. Crystal baru tahu nama lengkap kakeknya itu.

Sontak, tiba-tiba Crystal teringat akan percakapannya dengan Mbah Kakung, dulu ketika Crystal remaja menanyakan nama “Husni” yang tersemat di belakang namanya, juga Papa. “Supaya kalian tahu asal-muasal kalian dan mengerti ke mana jika suatu hari harus ‘pulang’.” Begitu ucap Mbah Kakung waktu itu. Baginya, keluarga adalah tempat untuk “pulang”. Hanya saja … “pulang”? Ke keluarga Husni? Memang ada siapa saja di keluarga “Husni”? Bukankah hanya ada Papa dan Mbah Kakung? 

Crystal membuka buku itu. Sepertinya buku lama. Kertasnya tampak menguning kecokelatan. Di beberapa bagiannya terdapat bercak. Tampak tulisan-tulisan tangan yang sepertinya digoreskan oleh Mbah Kakung–tulisan bersambung khas orang zaman dulu tetapi jelas terbaca.

“Kan Papa harus beres-beres untuk acara tadi. Nah, pas Papa beres-beres, tiba-tiba Papa menemukan buku itu di lemari Mbah Kakung.”

Crystal tidak menanggapi. Ia terus membalik lembaran demi lembaran buku tua yang sudah lusuh itu hingga matanya tertumbuk pada beberapa deret nama. 

Muhammad

Warsito

Abdul Kadir

Abu Shiddiq

Sumartiningsih

Sumarsih

Siapa mereka? Crystal lalu mengambil ponsel dan memotret catatan nama-nama tersebut. Mata Crystal pun tertumbuk pada nama paling atas: Muhammad. Tiba-tiba Crystal serasa menemukan sekeping puzzle dari pertanyaan-pertanyaannya selama ini.

Ya. Crystal tentu saja ingat jika di antara sepupu Papa, Papa adalah satu-satunya yang beragama Islam. Seingatnya, Mbah Merry pun mualaf. Wajar jika para sepupu Papa non Islam, karena Mbah Merry pun tadinya juga bukan muslim.

Tiba-tiba Crystal merasa miris. Jika berada di antara para sepupu dari Mama, Crystal adalah minoritas, satu-satunya yang berwajah Tionghoa. Namun, jika bersama dengan para kerabat dari Papa, ia pun juga minoritas karena beragama Islam sendiri (bersama dengan Papa juga, maksudnya). Minoritas pangkat dua. 

Lihat selengkapnya