Percaya, tidak? Aku sudah bisa membaca sejak umur 3 tahun. Persisnya, aku lupa. Tapi jelas aku sudah bisa membaca sejak aku masih sangat … sangat … sangat belia. Soalnya, aku tidak ingat pernah belajar membaca, menulis, dan berhitung. Paling yang aku ingat adalah aku selalu menuliskan huruf “U” dengan “⋂”.
Ini semua berkat Mommy yang membelikanku buku sejak aku kecil. Mungkin malah jauuuuhh … sebelum aku bisa membaca. Kau tahu? Seri ensiklopedia untuk anak-anak; ukurannya besar, mungkin seukuran kertas A4, hurufnya juga besar-besar, banyak gambarnya, pakai kertas dove, dan sampulnya hard cover yang mungkin supaya awet dan tahan lama, tapi di tanganku tetap saja akhirnya lecek dan sobek.
Mungkin Mommy melihat kecerdasanku di atas rata-rata. Entahlah. Yang jelas, di usia 4 tahun, aku dimasukkan ke TK. Eh, atau Kelompok Bermain, ya? Aku agak lupa juga. Yang jelas, di sana, ada banyak buku dan aku bisa memuaskan kesukaanku. Lepas dari sana, jelas aku sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung.
Aku masuk SD di usia 5 tahun. Lebih dini 1 tahun jika dilihat dari rata-rata usia murid kelas 1 SD, atau 2 tahun jika mengacu pada peraturan zaman sekarang yang mana usia minimal untuk masuk SD adalah 7 tahun. Dan karena aku sudah bisa “calistung”, aku pun bosan. Bagaimana tidak? Materi pelajaran di kelas 1 masih berupa mengeja. Aku ulangi: M-E-N-G-E-J-A; I-N-I NI, “INI”; I-B-U BU, “IBU”; B-U BU, D-I DI, “ BUDI”; dibaca, “INI IBU BUDI”.
Oh, iya. Tulis dengan “U”, ya. Bukan “⋂”. Karena aku hampir saja salah menuliskannya menjadi: “INI IB⋂ B⋂DI”.
Aku sebenarnya ingin mengkonfrontir penggunaan huruf yang benar, apakah “U” atau “⋂”. Namun, teman-temanku semuanya sibuk mengeja dan Bu Guru tampak panik ketika mereka masih terus saja terbata-bata. Jadi … ya sudahlah. Yang penting, aku sudah tahu bentuk seperti apa yang harus aku goreskan untuk menulis huruf. Untuk sementara, aku mengalah saja dengan menuliskan “U” dan bukan “⋂”.
Begitulah untuk pelajaran membaca dan menulis. Sepanjang aku tidak menuliskan “⋂” untuk huruf “U”, aku pikir aku akan aman-aman saja. Nah, sekarang aku mau sedikit bercerita tentang matematika. Dan sebenarnya, pelajaran matematika inilah yang paling aku suka. Bahkan, kalau kau mau tahu, dari seluruh seri ensiklopedia yang dibelikan Mommy, buku matematikalah yang paling “parah”: sampulnya mengelupas, beberapa halaman di dalamnya penuh coretan (karena aku mempraktikkan hitung-hitungannya sekalian saja di sana, hahaha), dan beberapa halamannya pun sobek karena saking seringnya aku bolak-balik. Bagiku, matematika adalah permainan logika yang asyik. Di sekolah, aku selalu mendapat nilai tinggi untuk matematika.
Lalu, tibalah aku mendapatkan materi perkalian. Kalau tidak salah ketika aku duduk di kelas 2 atau 3 … duh, lagi-lagi aku lupa! Yang aku ingat, Opa Willy-lah yang paling berjasa untuk memberikan aku pemahaman tentang matematika.
Jadi begini. Untuk memudahkan, suatu hari Opa Willy membuat bola-bola kecil dari lilin. Lalu, Opa Willy menerangkan kalau perkalian itu sejatinya adalah penjumlahan yang berulang, angka sekian dijumlah sebanyak sekian kali. Jadi, misalnya ada soal 4x3, maka itu berarti angka 4 dijumlahkan sebanyak 3 kali. Lalu, Opa Willy akan menjejerkan sebanyak 4 bola kecil sebanyak 3 baris, lalu aku diminta untuk menghitung jumlah keseluruhan bola tersebut: 4+4+4, jumlahnya adalah 12. Begitulah caraku belajar perkalian. Setidaknya, cara itu sangat membantu kalau aku lupa dengan hafalannya. Soalnya, kata guruku, cara mempelajari perkalian adalah dengan menghafalnya. Aku tidak percaya diri dengan hafalan. Jadi, aku membutuhkan semacam “alat bantu” jika tiba-tiba aku lupa.
Lalu, suatu ketika, materinya sedikit diubah. Karena, ternyata Bu Guru–yang mengajarku di kelas, maksudnya–menginginkan pemahaman. Maka, ia pun memberikan soal perkalian yang jawabannya harus dijabarkan dulu.
4x6
Aku ingat dengan ajaran Opa Willy. Maka aku pun menjawabnya dengan penjabaran: 4+4+4+4+4+4, hasilnya adalah 24.